PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center
  • Depan
  • Profil PIRAC
    • Tentang PIRAC
    • Struktur Organisasi PIRAC
  • Program Kerja
    • Riset dan Kajian
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Advokasi Kebijakan
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
  • Berita Kegiatan
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Tag Archive for: capacity building

Kunci Keberlanjutan OMS: KYUTRI dan PIRAC Gelar Pelatihan Strategis Akses Pendanaan CSR

29/08/2026/0 Comments/in Fundraising dan Keberlanjutan, Pelatihan dan Pendampingan/by admin

JAKARTA– Di tengah tantangan besar perubahan lanskap pendanaan global, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia harus bergerak cepat mencari sumber daya lokal yang mandiri. Salah satu jalur paling strategis kini adalah Kolaborasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Untuk membekali para pegiat OMS dengan keahlian ini, Pusat Informasi dan Riset Aksi untuk Kemitraan (PIRAC) mengumumkan pelaksanaan sesi pelatihan tematik. Sesi ini akan berfokus pada cara-cara efektif membangun sinergi dengan sektor swasta melalui program CSR, sebuah komitmen yang telah berkembang dari sekadar kewajiban menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan bisnis. Ini adalah langkah krusial bagi OMS untuk memastikan program-program pemberdayaan masyarakat, mulai dari kesehatan hingga lingkungan, dapat terus berjalan tanpa bergantung pada donor eksternal.

Pelatihan yang bertajuk “KYUTRI Tematik Mobilisasi Sumber Daya: Mengakses CSR Perusahaan” ini dirancang khusus untuk mengatasi kesenjangan informasi yang dialami banyak OMS dalam mengidentifikasi dan mengakses pendanaan lokal. Melalui sesi ini, para peserta akan diajak untuk memahami secara mendalam kebijakan CSR perusahaan, merancang proposal kemitraan yang win-win solution, dan menjalin relasi strategis yang berkelanjutan. Dengan keahlian yang dimiliki oleh fasilitator, termasuk pengalaman nyata dalam implementasi program CSR yang berdampak, pelatihan ini menjanjikan transfer pengetahuan praktis yang sangat dibutuhkan. Ini adalah kesempatan bagi OMS untuk menggali potensi donasi dari kelas menengah, UMKM, hingga Dana Desa, sambil membangun kemitraan jangka panjang dengan perusahaan.

Jangan lewatkan kesempatan strategis ini! Sesi KYUTRI Tematik Mobilisasi Sumber Daya Mengakses CSR Perusahaan akan dilaksanakan pada Jumat, 10 Oktober 2025, pukul 13.30 WIB(atau 14.30 WITA / 15.30 WIT) dan dapat diakses secara daring melalui platform Zoom (tautan: bit.ly/MSDPotensiLokal3). Kami mengajak seluruh pengurus dan staf OMS, CSO, dan NGO yang peduli akan keberlanjutan program untuk segera mendaftar. Dengan menguasai strategi kemitraan CSR, Anda tidak hanya mengamankan pendanaan, tetapi juga memperkuat posisi organisasi sebagai mitra pembangunan yang kredibel dan berdampak luas di tingkat komunitas.

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:312026-09-05 08:08:51Kunci Keberlanjutan OMS: KYUTRI dan PIRAC Gelar Pelatihan Strategis Akses Pendanaan CSR

PIRAC Sharing Pembelajaran Bersama OMS mitra Ananta Fund

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Rabu, 24 September 2025 lalu, PIRAC diundang Ananta Fund – Yayasan KEHATI untuk sharing pembelajaran bersama Organisasi Masyarakat Sipil di Bogor. Sebelumnya, PIRAC dengan dukungan Ananta Fund mengimplementasikan program “Peningkatan Kapasitas Tata Kelola & Keberlanjutan Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia Tengah dan Timur”, di semester awal 2025 lalu. Program tersebut meliputi rangkaian kegiatan self assessment, lokalatih tata kelola dan fundraising untuk ketahanan dan keberlanjutan organisasi di Makassar dan 4 kali pendampingan secara daring, serta penguatan jejaring dan kemitraan lintas sektor di Ambon dan Jayapura.

Capaian program

Pada kegiatan sharing pembelajaran tersebut hadir mewakili PIRAC adalah Ninik Annisa, Direktur Eksekutif PIRAC, yang membagi pengalaman PIRAC selama program peningkatan kapasitas dan pendampingan. Mitra yang didampingi terdapat 20 mitra OMS yang tersebar di Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur.

Dari program yang direncanakan, dapat dikatakan program telah berhasil  dengan berbagai capaian. Diantaranya, PIRAC membuat tool ‘Prestasi’ yang digunakan untuk self assessment organisasi mitra atas kondisi diri organisasi tersebut, yang dibuat menyesuaiakan karakter organisasi yang terlibat dalam program ini. 88% peserta menunjukkan peningkatan kapasitasnya pasca lokalatih, terkait dengan tata kelola dan strategi fundraising organisasi, pengembangan SDM organisasi, penyusunan proposal berbasis LFA, dan strategi jejaring kemitraan. Sementara melalui pendampingan sebanyak 4 kali pertemuan, terkait penyususnan SOP, struktur organisasi, proposal dan database donatur. Selain itu juga terdapat setidaknya 55 dokumen kelembagaan yang berhasil disusun oleh mitra, 71% mitra telah mampu menyusu laporan keuangan sesuai dengan standar ISAK 35 dengan menggunakan SaktiApp (dibuat dengan menyesuaikan standar namun memudahkan). Dari hasil monitoring menunjukkan hampir seluruh mitra telah memahami dan menerapkan struktur organisasinya.

Selain itu, dari program ini juga telah mendorong penguatan jejaring lintas sektor melalui forum kolaborasi multipihak di 3 lokasi yaitu Makassar, Jayapura, dan Ambon. Kegiatan tersebut mempertemukan OMS, lembaga filantropi, sektor swasta, dan pemerintah, yang menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama strategis dengan OMS mitra yang didampingi.

Hambatan & Tantangan

Selama pelaksanaan program, sejumlah tantangan muncul yang memengaruhi efektivitas dan kecepatan respons mitra dalam menjalankan tugas. Keterbatasan respons dan komunikasi terjadi akibat aktivitas lapangan yang padat, keterbatasan waktu, serta kendala sinyal dan teknologi yang menghambat tindak lanjut pendampingan secara cepat. Dari sisi kapasitas teknis, masih tampak kelemahan dalam kemampuan dokumentasi, seperti keterbatasan kompetensi menulis, kesulitan dalam penyusunan proposal, dan hambatan dalam merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Selain itu, struktur pengambilan keputusan yang hierarkis turut memperlambat proses, karena sebagian peserta tidak memiliki otoritas penuh dan harus menunggu persetujuan pimpinan di tengah birokrasi internal yang kompleks. Di sisi lain, koordinasi internal juga belum optimal akibat padatnya jadwal program, terbatasnya waktu untuk diskusi, serta kurangnya sinkronisasi antaranggota tim. Situasi ini diperparah oleh belum kuatnya kepemimpinan dan mekanisme kaderisasi yang dapat memastikan transfer pengetahuan dan informasi secara berkelanjutan.

Dampak Program

Selama periode program, kapasitas dan tata kelola kelembagaan mitra menunjukkan kemajuan signifikan. Sebagian besar telah menyusun atau mereviu dokumen penting seperti SOP Keuangan, SOP Kelembagaan, dan SOP Perlindungan (PSEA, rujukan kasus, dll), menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya tata kelola yang akuntabel. Beberapa mitra, seperti Yayasan Harapan Ibu Papua, LP2A Papua, Wallacea, dan AMAN Tana Luwu, juga telah melengkapi AD/ART, SOP pelaksanaan program, serta protokol keamanan data dan kantor. Selain itu, mitra mulai mengembangkan proposal program berbasis potensi lokal—seperti pemulihan lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak—serta menjajaki kemitraan dengan lembaga pendanaan seperti Ananta Fund & KEHATI, Rumah Zakat, HI, BAZNAS, BaKTI, Yayasan Kalla, dan CSR PT Kalla Group. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas kelembagaan, inisiatif programatik, dan keberanian mengakses sumber daya eksternal secara lebih strategis.

Pembelajaran

Pembelajaran penting dari pelaksanaan program menunjukkan bahwa kesetaraan akses teknologi di antara peserta tidak dapat diasumsikan begitu saja; karenanya, strategi komunikasi harus inklusif dan adaptif dengan memanfaatkan berbagai platform seperti WhatsApp, email, SMS, dan telepon agar pesan tersampaikan secara efektif. Pengalaman juga menegaskan bahwa peningkatan kemampuan teknis merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan pendampingan bertahap, bukan sekadar pelatihan tunggal. Pendekatan mentoring dengan tugas spesifik, konsultasi rutin, dan penyediaan template praktis terbukti lebih efektif dalam memperkuat kapasitas mitra.

Selain itu, pemahaman terhadap struktur kekuasaan internal organisasi menjadi kunci untuk mencegah kebuntuan dalam pengambilan keputusan—sehingga keterlibatan pimpinan perlu diintegrasikan dalam setiap tahapan program. Di sisi lain, praktik pemetaan pemangku kepentingan dan perluasan jejaring lintas sektor membuka peluang kolaborasi yang lebih strategis bagi OMS. Melalui kemitraan dengan pemerintah (advokasi kebijakan dan akses program), sektor swasta (CSR dan filantropi perusahaan), akademisi (riset dan program berbasis bukti), serta media (kampanye publik dan penguatan branding), OMS dapat memperluas sumber daya, meningkatkan posisi tawar, dan memperkuat sinergi gerakan sosial yang berkelanjutan.

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:312026-09-05 07:36:30PIRAC Sharing Pembelajaran Bersama OMS mitra Ananta Fund

Visitasi Pendampingan PIRAC bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Papua

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan, Uncategorized/by admin

Jayapura, 22 Mei 2025 — Upaya penguatan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Papua kembali digencarkan. PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), dengan dukungan Ananta Fund – Yayasan KEHATI, melakukan pendampingan intensif kepada dua organisasi mitra di Jayapura, yakni Yayasan Harapan Ibu Papua (YHI) dan Lembaga Pengkajian dan Perlindungan Perempuan dan Anak Papua (LP3AP).

Pendampingan berlangsung selama dua hari, 21–22 Mei 2025, sebagai bagian dari inisiatif jangka panjang PIRAC untuk mendorong pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas aktor lokal.

Mengurai Tantangan OMS Papua

Pada hari pertama, PIRAC mengunjungi masing-masing organisasi untuk menggali potensi, tantangan, dan kebutuhan penguatan kelembagaan. Di Yayasan Harapan Ibu Papua, ditemukan sejumlah tantangan mendasar, terutama dalam aspek kapasitas teknis sumber daya manusia.

“Banyak relawan lapangan yang punya pengalaman hebat dalam mendampingi masyarakat. Tapi mereka masih kesulitan menulis laporan atau menarasikan temuan secara sistematis,” ujar salah satu pendamping PIRAC.

Selain itu, YHI juga menghadapi masalah klasik: keberlanjutan pendanaan. Meski sempat didukung oleh donor asing dan program pemerintah, ada masa ketika organisasi benar-benar tidak memiliki dana operasional. Namun semangat para aktivis tetap menyala. Salah satunya dengan berjualan produk olahan sagu demi menopang kegiatan organisasi.

Pendampingan hari kedua berlanjut di LP3AP. Direktur LP3AP, Akmiati, menyoroti masih kuatnya tantangan dalam mendorong sensitivitas dan keadilan gender di Papua.

“Perempuan di Papua belum benar-benar dianggap sebagai subjek pembangunan. Bahkan di kalangan OMS sendiri, alat analisis GEDSI belum digunakan secara maksimal,” ungkapnya.

Meski ada kemajuan di tingkat pemerintah daerah dalam memahami pentingnya isu gender, pendekatan yang dilakukan dinilai masih sporadis dan belum menyentuh akar persoalan sosial-budaya.

LP3AP juga menghadapi persoalan regenerasi. Semakin sedikit anak muda yang berminat bergabung dalam organisasi sosial. Pilihan mayoritas justru tertuju pada profesi yang lebih stabil secara finansial, seperti menjadi ASN. Tingginya biaya hidup di Papua turut memengaruhi ekspektasi insentif tenaga kerja, sehingga kerja sosial menjadi kurang menarik.

Pentingnya Dukungan Jangka Panjang

Baik YHI maupun LP3AP sepakat bahwa penguatan kapasitas SDM, pendampingan berkelanjutan, serta dukungan pendanaan yang lebih stabil sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas kerja-kerja OMS di Papua.

“Jika ingin mendorong transformasi sosial di Papua, maka OMS lokal harus diperkuat dari dalam. Dukungan pelatihan, pendampingan, dan insentif yang layak bisa menjadi kunci menarik minat generasi muda,” terang tim PIRAC.

Pendampingan ini menjadi langkah awal menuju perbaikan sistemik dalam pengelolaan organisasi masyarakat sipil di Papua—agar mereka tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan berdampak lebih luas.

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:252026-09-05 07:27:19Visitasi Pendampingan PIRAC bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Papua

Lokalatih Tata Kelola Organisasi Dan Strategi Fundraising Untuk Keberlanjutan Organisasi

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

[vc_row][vc_column][vc_column_text css=””]

Makassar, 20 Februari 2025 – PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) bersama ANANTA FUND – Yayasan KEHATI sukses menyelenggarakan Lokalatih bertajuk Tata Kelola Organisasi dan Strategi Fundraising untuk Keberlanjutan Organisasi di Hotel Aryaduta Makassar pada 17-20 Februari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari 20 organisasi masyarakat sipil (OMS) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Lokalatih ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas OMS, khususnya dalam aspek tata kelola organisasi yang baik dan strategi penggalangan dana guna memperluas peluang kemitraan dengan mitra potensial. Dalam prosesnya, kedua puluh OMS yang berpartisipasi telah melalui seleksi ketat, menjalankan self-assessment, ditingkatkan kapasitasnya melalui Lokalatih ini, dan kemudian melalui pendampingan untuk mendorong daya saing mereka dalam kerja-kerja pemberdayaan, edukasi, dan pembangunan melalui kerja sama pembangunan.

Selama empat hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang mencakup prinsip tata kelola organisasi yang baik, strategi fundraising yang berkelanjutan, hingga teknik membangun kemitraan strategis. Selain sesi pelatihan yang interaktif, para peserta juga terlibat dalam diskusi kelompok, studi kasus, serta sesi berbagi pengalaman dengan organisasi yang telah berhasil menerapkan tata kelola dan strategi fundraising yang efektif.

Ninik Annisa – Direktur PIRAC, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas OMS merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran masyarakat sipil dalam pembangunan sosial di Indonesia. “Dengan tata kelola yang baik dan strategi fundraising yang tepat, OMS dapat lebih mandiri dan berkelanjutan dalam menjalankan program-programnya,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan ANANTA FUND – Yayasan KEHATI, Ibu Gita Gemilang  Wakil Direktur Program Hibah Yayasan KEHATI, menekankan pentingnya kemitraan dan kolaborasi dalam memperbesar dampak sosial. “Kami berharap para peserta dapat menyerap lalu mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk meningkatkan profesionalisme organisasi mereka serta menjalin kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pihak,” ungkapnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Mereka menilai bahwa lokalatih ini memberikan wawasan baru serta kesempatan untuk memperluas jaringan dengan OMS lain dan calon mitra potensial. Ke depan, PIRAC dan ANANTA FUND – Yayasan KEHATI berkomitmen untuk terus mendukung penguatan OMS di Indonesia agar lebih adaptif dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan yang dinamis.

Dengan berakhirnya lokalatih ini, diharapkan para peserta dapat menerapkan hasil pembelajaran dalam organisasi masing-masing dan turut serta dalam membangun ekosistem organisasi masyarakat sipil yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan di Indonesia.

 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:252026-09-05 07:35:17Lokalatih Tata Kelola Organisasi Dan Strategi Fundraising Untuk Keberlanjutan Organisasi

Penandatanganan Komitmen untuk Kesehatan dan Tingkatkan Gizi Masyarakat Antara Pengurus RW 08 Ciketing Uding Dengan PIRAC

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

“Kolaborasi RW 08 dan PIRAC:

Penandatanganan Komitmen untuk Kesehatan dan Tingkatkan Gizi Masyarakat”

Program Kesehatan dan pembuatan Kebun Gizi Komunitas di RW 08, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, lahir dari kebutuhan mendesak akan peningkatan gizi masyarakat serta pemberdayaan kelompok rentan seperti perempuan dan lansia. Memanfaatkan lahan kosong yang tidak terpakai, program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi keluarga melalui hasil kebun komunitas dan  budidaya lele. Selain itu, program ini juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas pertanian pekarangan yang produktif dan bermanfaat bagi kesehatan. Dalam rangka menjalankan program tersebut, pada hari Selasa, 11 September 2024, telah dilaksanakan penandatanganan surat komitmen antara Ketua RW 08, bapak Rojali Rago, dan Direktur Eksekutif PIRAC, Ibu Ninik Annisa. PIRAC, sebagai lembaga penelitian dan konsultasi, akan memberikan pendampingan teknis, pelatihan, serta dukungan terkait penyuluhan kesehatan dan pengelolaan kebun gizi. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui hasil kebun, tetapi juga memberdayakan perempuan dan lansia dengan memberikan aktivitas yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial. Program ini dirancang agar inklusif dan berkelanjutan, melibatkan masyarakat luas dalam prosesnya. Kedua pihak sepakat bahwa RW 08 akan bertanggung jawab dalam memobilisasi warga dan mengelola lahan, sementara PIRAC akan mendukung dengan pendampingan teknis. Kerja sama ini diharapkan berjalan selama 12 bulan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan.
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:182026-09-05 07:36:09Penandatanganan Komitmen untuk Kesehatan dan Tingkatkan Gizi Masyarakat Antara Pengurus RW 08 Ciketing Uding Dengan PIRAC

Dari Vaksinasi Inklusif ke Akses Kesehatan untuk Kaum Rentan

29/08/2026/0 Comments/in Uncategorized/by admin

Pers Release

Dari Vaksinasi Inklusif ke Akses Kesehatan untuk Kaum Rentan :

Sebuah apresiasi dan tranformasi Koalisi Akses Vaksin

Jakarta, 31 Januari 2024. Pandemi COVID-19 telah mendorong semangat kolaborasi dan kerja sama di kalangan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), hingga terbentuklah Koalisi Akses Vaksin Bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan pada awal Juli 2021. Koalisi ini bertujuan untuk mempercepat dan menyebarkan vaksinasi COVID-19 dengan merata, terutama bagi masyarakat adat dan kelompok rentan. Program utama Koalisi Akses Vaksin tidak hanya meliputi percepatan vaksinasi, tetapi juga edukasi, advokasi dan Kolaborasi. Melalui kolaborasi multipihak antara OMS, pemerintah, dan masyarakat, koalisi bekerja keras untuk menyediakan layanan vaksinasi, melakukan edukasi dan komunikasi, serta melakukan advokasi kebijakan yang mendukung akses terhadap vaksinasi. Selama 3 tahun sejak tahun 2021, 2022, dan 2023, Koalisi Akses Vaksin telah berhasil memberikan vaksin COVID-19 kepada lebih dari 276.528 individu. Program edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya vaksinasi juga telah sukses menjangkau lebih dari 124.166 orang. Sementara itu, manfaat dari program kerjasama Koalisi telah menyebar di 151 kabupaten di 27 provinsi di Indonesia. Berbagai inisiatif yang dikembangkan oleh Koalisi Akses Vaksin memberikan pembelajaran bahwa layanan kesehatan yang inklusif harus menjadi perhatian dan kesadaran semua pihak. Untuk mewujudkan layanan yang inklusif ini memang butuh upaya dan sumberdaya besar. Semua pihak bisa membantu mewujudkannya sesuai dengan kapasitas dan sumberdaya yang dimilikinya.  “Kami melihat bahwa kolaborasi yang sudah dibangun selama ini harus terus dilanjutakan dengan peran baru yaitu akses kesehatan inklusif untuk kelompok rentan”. Kata Hamid Abidin Koordinator Koalisi akses Vaksin Dengan berakhirnya pandemi dan rampungnya program vaksinasi bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan, Koalisi untuk Akses Vaksin pada tangggal 30 Januari 2023 bersepakat untuk mentranformasi menjadi Koalisi Akses Kesehatan. Kesepakatan pembentukan koalisi baru ini dihadiri oleh anggota koalisi yaitu: Filantropi Indonesia, HWDI, LTKL, OHANA, PEKKA, PIRAC, PPMN, WALHI, dan KPA. Dari hasil pertemuan tersebut anggota Koalisi menyepakati untuk melanjutkan kerja sama kolaboratif yang telah terjalin, dengan Koalisi baru dengan nama “Koalisi Akses Kesehatan untuk Kelompok Rentan dan masyarakat adat Indonesia”. Rina Prasarani dari HWDI ditunjuk oleh anggota koalisi untuk menjadi koordinator didampingi oleh Nor Hiqmah dari PIRAC sebagai wakilnya. Bertempat di Hotel Oria Jakarta, Koalisi Akses Kesehatan untuk kelompok rentan dan masyarakat adat Indonesia ini dikenalkan kepada public dalam acara apresasi kolaborasi percepatan vaksinasi covid-19. Acara apresiasi ini dihadiri oleh ibu dr. Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, MKM. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, yang ikut memberikan sambutan dalam acara aprisiasi ini. Kementrian kesehatan merupakan mitra kerja dari koalisi akses vaksin covid-19 untuk masyarakat adat dan kelompok rentan. Kementrian kesehatan sangat mengapresiasi kinerja kolaborasi Koalisi Akses vaksin ini yang telah ikut memberikan kontribusi untuk target tercapaikan kurang lebih 4 juta vaksin Covid-19 di Indonesia. Koalisi sepakat untuk memfokuskan upaya pada penguatan akses layanan kesehatan berkualitas bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan melalui advokasi BPJS dan kemitraan multipihak. Beberapa hal yang akan dilakukan oleh Koalisi Akses Kesehatan ini adalah pendampingan pengurusan adminduk untuk mendapatkan NIK sebagai syarat untuk mendapatkan BPJS PBI, advokasi implementasi inpres no. 4 tahun 2022 terkait percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem, advokasi akses alat bantuk untuk disabilitas, pendmapingan untuk akses PBI, edukasi ke berbagai pihak dan kampanye public tentang hak kesehatan Komitmen Koalisi kedepan adalah memperjuangkan hak setiap warga khususnya kelompok rentan dan masyarakat adat untuk akses yang merata terhadap kesehatan yang berkualitas. “Komitmen kami adalah memastikan bahwa tak seorang pun dari kelompok rentan dan masyarakat adat yang ditinggalkan di belakang dalam perjuangan untuk kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Rina Prasarani Koordinator Koalisi Akses Kesehatan  
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:112026-09-05 07:37:00Dari Vaksinasi Inklusif ke Akses Kesehatan untuk Kaum Rentan

Lokalatih Renstra Fundraising Untuk Organisasi

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin
DEPOK Fundraising merupakan salah satu pilar keberlanjutan organisasi. Apabila fundraising berhasil dilakukan, maka program akan berjalan sesuai rencana, keberhasilan dalam melakukan fundraising juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan organisasi tersebut. Agar dapat melakukan fundraising secara terarah dan terprogram dengan baik, dibutuhkan tidak hanya motivasi, tetapi juga kemampuan menyusun perencanaan strategis (renstra) fundraising organisasi. Sekolah Fundraising PIRAC (Public Interest Research & Advocacy Center)  mengadakan “Lokalatih dan Outbond Rencana Strategis Fundraising”, yang ditujukan untuk membekali organisasi dan meningkatkan keterampilan dalam menyusun perencanaan strategis fundraising. Hal itu disampaikan Nor Hiqmah, Training Manager Sekolah Fundraising PIRAC, di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2013). Hiqmah melanjutkan, kegiatan ini akan dilangsungkan 26-28 Pebruari 2013 di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua-Bogor. Untuk organisasi yang berminat dapat mendaftar ke PIRAC hingga batas waktu 15 Pebruari 2013. “Kelas ini hanya diperuntukan untuk -maksimal- 30 orang peserta,” jelas Hiqmah. Pelatihan ini sangat cocok bagi pengurus yayasan, NGO, OPZ dan pengelola CSR, dikarenakan dalam pelatihan ini peserta tidak saja diberikan pengetahuan tentang  “Rencana Strategis Program dan Fundrasing”, melainkan juga peserta dapat memiliki keterampilan dalam  merancang langkah kerja yang sinergis antara program dan fundraising secara sistematis. Sementara itu di saat yang sama, Yusuf, Marketing Manager Sekolah Fundraising PIRAC menambahkan “Kami memberikan diskon khusus bagi para pendaftar di awal sampai dengan 50%. Termasuk para pemegang kartu PSF yang pernah mengikuti kegiatan training di Sekolah Fundraisig PIRAC dan bagi lembaga yang mendaftarkan 3 orang atau lebih”. “Tentunya setelah pelatihan ini, alumni akan tetap mendapat pendampingan dan konsultasi dari PIRAC  saat melakukan implementasi keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tersebut, layaknya organisasi profesional yang memberikan layanan after-sales service yang mumpuni” terang Yusuf mengakhiri. #MY
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:55:352026-09-05 07:37:29Lokalatih Renstra Fundraising Untuk Organisasi

Dari Kampung, Untuk Perubahan: Tiga Suara dari Maluku yang Menggerakkan

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Di sebuah siang yang tenang di Ambon, di rooftop café yang menghadap laut, tiga suara bergema di antara dentingan gelas dan semilir angin. Mereka datang dari kampung-kampung, membawa kisah tentang hutan, tentang perempuan, dan tentang luka yang diubah menjadi harapan. Mereka adalah Stevi Talahatu dari Baileo Maluku Yanes loppies dari Walang Perempuan, dan Genna Mailoa dari Gasira Maluku—tiga tokoh akar rumput yang telah lama bergulat dengan realitas keras masyarakat di Timur Indonesia.

Cerita mereka mengalir dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor Untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang digelar di The Roof Café & Eatery, Kota Ambon, pada Rabu, 28 Mei 2025. Dalam forum itu, aktivis, perbankan, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga filantropi duduk bersama, mencari cara untuk membangun sinergi dari akar rumput hingga pasar modern.

Ketika Hutan Berbisik dan Kampung Bergerak

Stevi Talahatu menatap jauh ke cakrawala, seolah ingat pada suara gergaji mesin yang memekakkan telinga di Yamdena, Tanimbar, bertahun-tahun lalu. Kala itu, hutan adat mereka tak lagi sakral, tapi dijadikan angka-angka oleh korporasi.

“Dari situ kami bergerak. Bukan karena punya modal besar, tapi karena kami tak bisa diam melihat kampung kami dirampas,” ujarnya tenang namun penuh tekad.

Gerakan yang bermula dari protes warga kampung kini menjelma menjadi Yayasan Baileo Maluku, rumah besar bagi tujuh organisasi komunitas adat. Mereka bukan hanya menjaga hutan, tetapi juga membuktikan bahwa konservasi bisa berpijak pada kearifan lokal. Sasi di Haruku, pemantauan gurita di Seram Timur, dan usaha produktif hasil laut hanyalah sebagian kecil dari perjuangan Baileo—yang kini juga memperjuangkan pengakuan tenurial atas tanah adat.

“Perubahan itu tak bisa dari luar saja. Ia harus tumbuh dari kampung,” tambah Stevi, seraya menunjukkan foto kegiatan anak-anak belajar menggambar ikan sebagai bagian dari kampanye konservasi.

Walang Perempuan: Ruang Aman, Ruang Tumbuh

Tak jauh dari Stevi, Yanes Loppies tersenyum lembut. Ia membawa narasi yang tak kalah kuat—tentang perempuan-perempuan Maluku yang bangkit dari keterbatasan dan kekerasan, membentuk usaha, dan menembus pasar swalayan.

“Walang itu tempat bernaung. Kami ingin semua perempuan punya ruang seperti itu,” ujarnya. Sejak 2007, Walang Perempuan mendampingi ratusan perempuan: korban kekerasan, pelaku UMKM, perempuan kepala keluarga. Di Negeri Ihamahu, kelompok dampingan mereka bahkan berhasil menjual produk ke luar pulau. Tapi Yanes jujur soal tantangan: dari SOP produksi yang belum rapi, minimnya legalitas, hingga kurangnya kepercayaan pasar.

Solusinya? Walang menggagas inkubator wirausaha sosial—pendampingan intensif, pelatihan digital, dan kolaborasi lintas pihak. Semua demi satu tujuan: perempuan yang berdaya, tidak hanya selamat, tapi maju dan merdeka secara ekonomi.

Gasira: Dari Luka Jadi Kekuatan

Sementara itu, suara Genna Mailoa membawa suasana menjadi lebih sunyi. Ia tidak hanya bicara tentang angka atau produk, tapi tentang luka—luka perempuan dan anak korban kekerasan seksual yang ditinggalkan dunia. “Banyak dari mereka adalah ibu tunggal. Disakiti, ditinggal, dan dipaksa bertahan sendiri,” tuturnya lirih.

Gasira Maluku, yang lahir pada 8 Oktober 2007, tak sekadar menyediakan rumah aman dan bantuan hukum. Mereka menciptakan pelatihan wirausaha inklusif dalam empat tahap: pelatihan, pendampingan, evaluasi, dan akses modal. Produk seperti mie kelor dan sambal ikan julung lahir dari tangan para penyintas.

“Kami ingin mereka tidak hanya bangkit, tapi juga mandiri. Tapi kami butuh dukungan lebih—terutama soal modal dan akses pasar,” ujar Genna.

Satu Tanah, Banyak Suara, Satu Tujuan

Tiga tokoh, tiga cerita, satu perjuangan: membuktikan bahwa perubahan sosial tak perlu menunggu program besar. Ia bisa lahir dari keresahan, dari desa, dari ruang kecil bernama walang, dari keteguhan menjaga hutan, atau dari pelukan hangat rumah aman.

Maluku bukan hanya tentang keindahan alamnya. Ia adalah ruang hidup bagi perempuan dan komunitas yang sedang bertumbuh, menyembuhkan diri, dan bersuara lantang untuk keadilan. Dan dari sana, dari kampung-kampung itu, muncul cahaya yang menyala untuk Indonesia yang lebih adil dan setara. “Perubahan yang berarti selalu dimulai dari kampung.” — Stevi Talahatu

 

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 04:55:002026-09-05 07:38:27Dari Kampung, Untuk Perubahan: Tiga Suara dari Maluku yang Menggerakkan

Membangun Sinergi dari Timur: Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Maluku

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Ambon, 28 Mei 2025 — Bertempat di The Roof Café & Eatery, diskusi lintas sektor bertajuk “Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku” berlangsung hangat di tengah semilir angin pesisir Ambon. Sebanyak 30 perwakilan dari organisasi masyarakat sipil (OMS), pemerintah, sektor swasta, perbankan, dan lembaga filantropi hadir untuk mendiskusikan satu hal krusial: bagaimana membangun kolaborasi yang berdampak nyata bagi pemberdayaan masyarakat Maluku.

Provinsi Maluku, dengan kekayaan bahari dan budaya yang luar biasa, masih menghadapi tantangan serius dalam pembangunan. Letak geografis sebagai wilayah kepulauan, ketimpangan akses layanan dasar, kemiskinan yang tinggi, serta kerentanan terhadap bencana alam menjadikan proses pembangunan di wilayah ini tidak mudah. Hal ini tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku yang masih di bawah rata-rata nasional.

Dalam konteks ini, organisasi masyarakat sipil (OMS) memainkan peran penting karena kedekatannya dengan komunitas-komunitas akar rumput, terutama mereka yang terpinggirkan. Namun, keterbatasan sumber daya dan minimnya akses terhadap pengambilan keputusan strategis kerap menjadi penghambat dalam memperluas dampak kerja-kerja mereka. Maka, kolaborasi lintas sektor menjadi pendekatan yang semakin relevan dan mendesak.

Tiga OMS, Tiga Cerita Perubahan

Diskusi ini diselenggarakan oleh Ananta untuk memperkenalkan tiga mitra OMS mereka di Maluku: Baileo Maluku, Walang Perempuan, dan Gasira Maluku. Ketiganya memaparkan praktik baik dan inovasi pemberdayaan berbasis komunitas dan potensi lokal.

Dari perlindungan hutan adat dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal oleh Baileo, pendampingan UMKM perempuan oleh Walang Perempuan, hingga pemberdayaan penyintas kekerasan melalui kewirausahaan oleh Gasira, masing-masing organisasi menunjukkan bagaimana perubahan dapat dimulai dari kampung.

Dukungan Lintas Sektor: Lembaga Filantropi, Pemerintah dan Perusahaan

Diskusi juga menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang memiliki komitmen terhadap pembangunan inklusif di Maluku. Dari sektor filantropi, hadir Dompet Dhuafa Maluku dan Human Initiative, yang membagikan pengalaman pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan CSR untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pentingnya pendekatan partisipatif berbasis kebutuhan lokal.

Dari sisi pemerintah, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon dan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Ambon turut memaparkan dukungan teknis dan kebijakan terkait sertifikasi produk, izin edar, serta penguatan UMKM berbasis standar industri dan keamanan pangan.

Sektor perbankan diwakili oleh Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Cabang Ambon dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ambon, yang mempresentasikan inovasi pembiayaan inklusif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa agunan, program Satu Desa Satu Mantri, serta pengembangan Desa Brilian sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal.

Dari kalangan pelaku usaha dan swasta, hadir pula perwakilan dari Hypermart (PT. Matahari Putra Prima Tbk.), PT. Aneka Sumber Tata Bahark, dan PT. Harta Samudra, yang berbagi peluang dan tantangan kemitraan dengan pelaku UMKM lokal. Hypermart secara khusus membuka peluang bagi UMKM untuk memamerkan dan menjual produknya di rak swalayan, selama mampu memenuhi kriteria standardisasi dan pasokan.

Sementara itu, dari sektor konservasi dan lingkungan, hadir Yayasan Kehati, dan dari sektor pendidikan serta pemberdayaan inklusif, turut serta Yayasan Rumah Generasi.

Diskusi ini juga difasilitasi oleh PIRAC, lembaga yang selama ini aktif dalam penguatan kapasitas OMS dan advokasi kebijakan pembangunan inklusif.

Menuju Kolaborasi yang Lebih Terstruktur

Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga bertujuan untuk membangun jejaring strategis lintas sektor di Maluku. Beberapa tujuan utama kegiatan ini meliputi memperkenalkan profil dan capaian OMS mitra Ananta, mengidentifikasi potensi kolaborasi yang bisa dikembangkan, memfasilitasi dialog antar pemangku kepentingan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang konkret untuk kerja sama jangka pendek maupun panjang.

Sinergi dari Timur untuk Indonesia

Forum ini menjadi langkah awal penting untuk memperkuat ekosistem kolaborasi lintas sektor di Maluku. Di tengah tantangan struktural yang kompleks, semangat gotong royong lintas sektor menjadi kunci untuk membuka peluang baru, memperkuat pemberdayaan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan.

Dengan mempertemukan berbagai kekuatan—dari zakat hingga CSR, dari dapur UMKM hingga rak swalayan, dari kampung hingga kebijakan nasional—Maluku sedang membangun jejak kolaborasi yang bisa menjadi contoh inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia. **SS&NH

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 04:26:002026-09-05 07:39:41Membangun Sinergi dari Timur: Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Maluku

Perbankan untuk Rakyat: Inovasi Pembiayaan UMKM di Timur Indonesia

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Saat banyak pelaku UMKM di Maluku berjuang mempertahankan usaha dengan modal terbatas dan akses pasar yang belum stabil, dua institusi keuangan hadir dengan semangat yang berbeda: bukan sekadar menyalurkan kredit, tapi menjadi bagian dari perubahan.

Dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku, yang diselenggarakan di The Roof Café & Eatery, Ambon, Rabu 28 Mei 2025, perwakilan dari Bank BRI dan Bank BTN membagikan pendekatan mereka yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput di Timur Indonesia.

KUR Tanpa Agunan: Modal yang Menjangkau Lebih Banyak Orang

Linda M. F. Noya dari Bank BTN menjelaskan bagaimana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kini semakin ramah terhadap pelaku usaha kecil dan mikro. Tak lagi terbatas pada pelaku usaha besar di perkotaan, KUR kini menyasar pasar tradisional, nelayan, dan pelaku usaha rumahan di desa-desa.

“KUR kami memberikan plafon dari Rp50 juta hingga Rp500 juta,” ungkap Linda. “Yang menarik, untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, tidak diperlukan agunan. Ini menjawab keresahan banyak pelaku UMKM yang punya usaha, tapi tidak punya jaminan formal.”

Skema ini dirancang agar lebih mudah diakses oleh kelompok rentan, termasuk perempuan kepala keluarga, petani, dan pelaku usaha sektor informal—kelompok yang selama ini dianggap ‘berisiko tinggi’ oleh sistem keuangan konvensional.

Satu Desa, Satu Mantri: Mengenal Warga, Menilai Potensi

Sementara itu, Kun Pattikawa dari Bank BRI membagikan cerita tentang program unik yang dilaksanakan sejak 2021: “Satu Desa, Satu Mantri.” Dalam program ini, petugas BRI—disebut mantri—tinggal dan bekerja langsung di tengah masyarakat desa. Mereka bukan sekadar staf bank, tapi juga fasilitator pembangunan ekonomi lokal.

“Mantri kami tahu siapa yang punya kebun cengkeh, siapa yang pandai bikin kerajinan, siapa yang butuh modal tapi malu bicara soal uang,” jelas Kun. “Mereka tidak hanya mencatat angka, tapi memahami konteks.”

Program ini memperpendek jarak antara bank dan rakyat. Dengan tinggal di desa, mantri bisa mengidentifikasi potensi lokal secara langsung, sekaligus membangun kepercayaan. Warga desa pun tidak lagi melihat bank sebagai institusi yang jauh dan rumit, tapi sebagai mitra usaha.

Desa Brilian: Inkubator Inovasi Ekonomi Lokal

Lebih dari sekadar kredit, BRI juga mengembangkan konsep “Desa Brilian”—yakni desa-desa unggulan yang menjadi model inovasi ekonomi berbasis potensi lokal. Konsep ini menggabungkan BUMDes yang aktif, kepemimpinan desa yang responsif, dan dukungan akses pembiayaan dari perbankan.

“Di beberapa desa di Maluku, kami melihat geliat ekonomi yang luar biasa. Tapi sering kali tidak ada instrumen untuk mendukungnya. Melalui Desa Brilian, kami bantu fasilitasi pelatihan digital, manajemen usaha, sampai promosi produk,” tambah Kun.

Program ini menempatkan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, tapi sebagai subjek perubahan. Bank menjadi mitra strategis dalam memperkuat infrastruktur ekonomi lokal.

Membuka Keran, Menyalurkan Harapan

Skema kredit yang lebih inklusif, kehadiran petugas di lapangan, serta pengembangan desa berbasis potensi adalah contoh nyata bahwa perbankan bisa memainkan peran sosial yang lebih kuat. Di forum tersebut, baik BTN maupun BRI menekankan pentingnya transparansi, kolaborasi, dan pendampingan sebagai kunci keberhasilan.

Mereka bukan datang untuk menawarkan produk, tapi untuk mendengar, memahami, dan membangun bersama.

Bagi pelaku usaha kecil di Maluku, kehadiran bank yang inklusif seperti ini bukan hanya membuka keran pembiayaan, tapi juga menyalurkan harapan—bahwa usaha kecil tak lagi sendiri, dan desa bisa tumbuh menjadi pusat kekuatan ekonomi baru. **SS&NH

 

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 03:58:002026-09-05 07:40:16Perbankan untuk Rakyat: Inovasi Pembiayaan UMKM di Timur Indonesia
Page 1 of 212
Search Search

Recent Posts

  • Merajut Kolaborasi, Mendanai Masa Depan: Inovasi Filantropi untuk Pendidikan Indonesia
  • Potret Asa Lebah Sempage : Di Tengah Realitas, Warga Menjaga Harapan akan Hidup yang Lebih Sejahtera
  • Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
  • Aliansi Filantropi Desak Pemerintah Lindungi, Bukan Batasi, Sumbangan Bencana
  • Menuju Era Baru Filantropi: Saatnya Regulasi Usang Penggalangan Dana Berubah

Recent Comments

    Archives

    • August 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • February 2026
    • December 2025
    • September 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • June 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • October 2023
    • July 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • August 2021
    • September 2020
    • June 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • April 2019
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • December 2018
    • October 2018
    • April 2018
    • November 2016
    • August 2016
    • June 2016
    • May 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • October 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • June 2013
    • February 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • August 2012
    • July 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • February 2012
    • January 2012

    Categories

    • Advokasi Kebijakan
    • Berita Kegiatan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Riset dan Kajian Kebijakan
    • Uncategorized

    Alamat

    Jl. M. Ali No. 2 Tanah Baru, Beji, Depok Jawa Barat Indonesia

    © Copyright - PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center - Enfold WordPress Theme by Kriesi
    Scroll to top Scroll to top Scroll to top