Kunci Keberlanjutan OMS: KYUTRI dan PIRAC Gelar Pelatihan Strategis Akses Pendanaan CSR
JAKARTA Di tengah tantangan besar perubahan lanskap pendanaan global, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia harus bergerak cepat mencari sumber daya lokal yang mandiri. Salah satu jalur paling strategis kini adalah Kolaborasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Untuk membekali para pegiat OMS dengan keahlian ini, Pusat Informasi dan Riset Aksi untuk Kemitraan (PIRAC) mengumumkan pelaksanaan sesi pelatihan tematik. Sesi ini akan berfokus pada cara-cara efektif membangun sinergi dengan sektor swasta melalui program CSR, sebuah komitmen yang telah berkembang dari sekadar kewajiban menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan bisnis. Ini adalah langkah krusial bagi OMS untuk memastikan program-program pemberdayaan masyarakat, mulai dari kesehatan hingga lingkungan, dapat terus berjalan tanpa bergantung pada donor eksternal.
Pelatihan yang bertajuk “KYUTRI Tematik Mobilisasi Sumber Daya: Mengakses CSR Perusahaan” ini dirancang khusus untuk mengatasi kesenjangan informasi yang dialami banyak OMS dalam mengidentifikasi dan mengakses pendanaan lokal. Melalui sesi ini, para peserta akan diajak untuk memahami secara mendalam kebijakan CSR perusahaan, merancang proposal kemitraan yang win-win solution, dan menjalin relasi strategis yang berkelanjutan. Dengan keahlian yang dimiliki oleh fasilitator, termasuk pengalaman nyata dalam implementasi program CSR yang berdampak, pelatihan ini menjanjikan transfer pengetahuan praktis yang sangat dibutuhkan. Ini adalah kesempatan bagi OMS untuk menggali potensi donasi dari kelas menengah, UMKM, hingga Dana Desa, sambil membangun kemitraan jangka panjang dengan perusahaan.
Jangan lewatkan kesempatan strategis ini! Sesi KYUTRI Tematik Mobilisasi Sumber Daya Mengakses CSR Perusahaan akan dilaksanakan pada Jumat, 10 Oktober 2025, pukul 13.30 WIB(atau 14.30 WITA / 15.30 WIT) dan dapat diakses secara daring melalui platform Zoom (tautan: bit.ly/MSDPotensiLokal3). Kami mengajak seluruh pengurus dan staf OMS, CSO, dan NGO yang peduli akan keberlanjutan program untuk segera mendaftar. Dengan menguasai strategi kemitraan CSR, Anda tidak hanya mengamankan pendanaan, tetapi juga memperkuat posisi organisasi sebagai mitra pembangunan yang kredibel dan berdampak luas di tingkat komunitas.




Dalam rangka menjalankan program tersebut, pada hari Selasa, 11 September 2024, telah dilaksanakan penandatanganan surat komitmen antara Ketua RW 08, bapak Rojali Rago, dan Direktur Eksekutif PIRAC, Ibu Ninik Annisa. PIRAC, sebagai lembaga penelitian dan konsultasi, akan memberikan pendampingan teknis, pelatihan, serta dukungan terkait penyuluhan kesehatan dan pengelolaan kebun gizi.
Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui hasil kebun, tetapi juga memberdayakan perempuan dan lansia dengan memberikan aktivitas yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial. Program ini dirancang agar inklusif dan berkelanjutan, melibatkan masyarakat luas dalam prosesnya.
Kedua pihak sepakat bahwa RW 08 akan bertanggung jawab dalam memobilisasi warga dan mengelola lahan, sementara PIRAC akan mendukung dengan pendampingan teknis. Kerja sama ini diharapkan berjalan selama 12 bulan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan.
Selama 3 tahun sejak tahun 2021, 2022, dan 2023, Koalisi Akses Vaksin telah berhasil memberikan vaksin COVID-19 kepada lebih dari 276.528 individu. Program edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya vaksinasi juga telah sukses menjangkau lebih dari 124.166 orang. Sementara itu, manfaat dari program kerjasama Koalisi telah menyebar di 151 kabupaten di 27 provinsi di Indonesia.
Berbagai inisiatif yang dikembangkan oleh Koalisi Akses Vaksin memberikan pembelajaran bahwa layanan kesehatan yang inklusif harus menjadi perhatian dan kesadaran semua pihak. Untuk mewujudkan layanan yang inklusif ini memang butuh upaya dan sumberdaya besar. Semua pihak bisa membantu mewujudkannya sesuai dengan kapasitas dan sumberdaya yang dimilikinya. Kami melihat bahwa kolaborasi yang sudah dibangun selama ini harus terus dilanjutakan dengan peran baru yaitu akses kesehatan inklusif untuk kelompok rentan. Kata Hamid Abidin Koordinator Koalisi akses Vaksin
Dengan berakhirnya pandemi dan rampungnya program vaksinasi bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan, Koalisi untuk Akses Vaksin pada tangggal 30 Januari 2023 bersepakat untuk mentranformasi menjadi Koalisi Akses Kesehatan. Kesepakatan pembentukan koalisi baru ini dihadiri oleh anggota koalisi yaitu: Filantropi Indonesia, HWDI, LTKL, OHANA, PEKKA, PIRAC, PPMN, WALHI, dan KPA.
Dari hasil pertemuan tersebut anggota Koalisi menyepakati untuk melanjutkan kerja sama kolaboratif yang telah terjalin, dengan Koalisi baru dengan nama Koalisi Akses Kesehatan untuk Kelompok Rentan dan masyarakat adat Indonesia. Rina Prasarani dari HWDI ditunjuk oleh anggota koalisi untuk menjadi koordinator didampingi oleh Nor Hiqmah dari PIRAC sebagai wakilnya. Bertempat di Hotel Oria Jakarta, Koalisi Akses Kesehatan untuk kelompok rentan dan masyarakat adat Indonesia ini dikenalkan kepada public dalam acara apresasi kolaborasi percepatan vaksinasi covid-19. Acara apresiasi ini dihadiri oleh ibu dr. Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, MKM. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, yang ikut memberikan sambutan dalam acara aprisiasi ini. Kementrian kesehatan merupakan mitra kerja dari koalisi akses vaksin covid-19 untuk masyarakat adat dan kelompok rentan. Kementrian kesehatan sangat mengapresiasi kinerja kolaborasi Koalisi Akses vaksin ini yang telah ikut memberikan kontribusi untuk target tercapaikan kurang lebih 4 juta vaksin Covid-19 di Indonesia.
Koalisi sepakat untuk memfokuskan upaya pada penguatan akses layanan kesehatan berkualitas bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan melalui advokasi BPJS dan kemitraan multipihak. Beberapa hal yang akan dilakukan oleh Koalisi Akses Kesehatan ini adalah pendampingan pengurusan adminduk untuk mendapatkan NIK sebagai syarat untuk mendapatkan BPJS PBI, advokasi implementasi inpres no. 4 tahun 2022 terkait percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem, advokasi akses alat bantuk untuk disabilitas, pendmapingan untuk akses PBI, edukasi ke berbagai pihak dan kampanye public tentang hak kesehatan
Komitmen Koalisi kedepan adalah memperjuangkan hak setiap warga khususnya kelompok rentan dan masyarakat adat untuk akses yang merata terhadap kesehatan yang berkualitas. “Komitmen kami adalah memastikan bahwa tak seorang pun dari kelompok rentan dan masyarakat adat yang ditinggalkan di belakang dalam perjuangan untuk kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Rina Prasarani Koordinator Koalisi Akses Kesehatan
Sekolah Fundraising PIRAC (Public Interest Research & Advocacy Center) mengadakan Lokalatih dan Outbond Rencana Strategis Fundraising, yang ditujukan untuk membekali organisasi dan meningkatkan keterampilan dalam menyusun perencanaan strategis fundraising.
Hal itu disampaikan Nor Hiqmah, Training Manager Sekolah Fundraising PIRAC, di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2013). Hiqmah melanjutkan, kegiatan ini akan dilangsungkan 26-28 Pebruari 2013 di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua-Bogor. Untuk organisasi yang berminat dapat mendaftar ke PIRAC hingga batas waktu 15 Pebruari 2013. Kelas ini hanya diperuntukan untuk -maksimal- 30 orang peserta, jelas Hiqmah.
Pelatihan ini sangat cocok bagi pengurus yayasan, NGO, OPZ dan pengelola CSR, dikarenakan dalam pelatihan ini peserta tidak saja diberikan pengetahuan tentang Rencana Strategis Program dan Fundrasing, melainkan juga peserta dapat memiliki keterampilan dalam merancang langkah kerja yang sinergis antara program dan fundraising secara sistematis.
Sementara itu di saat yang sama, Yusuf, Marketing Manager Sekolah Fundraising PIRAC menambahkan “Kami memberikan diskon khusus bagi para pendaftar di awal sampai dengan 50%. Termasuk para pemegang kartu PSF yang pernah mengikuti kegiatan training di Sekolah Fundraisig PIRAC dan bagi lembaga yang mendaftarkan 3 orang atau lebih”.
Tentunya setelah pelatihan ini, alumni akan tetap mendapat pendampingan dan konsultasi dari PIRAC saat melakukan implementasi keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tersebut, layaknya organisasi profesional yang memberikan layanan after-sales service yang mumpuni terang Yusuf mengakhiri. #MY
Stevi Talahatu menatap jauh ke cakrawala, seolah ingat pada suara gergaji mesin yang memekakkan telinga di Yamdena, Tanimbar, bertahun-tahun lalu. Kala itu, hutan adat mereka tak lagi sakral, tapi dijadikan angka-angka oleh korporasi.
Tak jauh dari Stevi, Yanes Loppies tersenyum lembut. Ia membawa narasi yang tak kalah kuattentang perempuan-perempuan Maluku yang bangkit dari keterbatasan dan kekerasan, membentuk usaha, dan menembus pasar swalayan.
Diskusi juga menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang memiliki komitmen terhadap pembangunan inklusif di Maluku. Dari sektor filantropi, hadir Dompet Dhuafa Maluku dan Human Initiative, yang membagikan pengalaman pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan CSR untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pentingnya pendekatan partisipatif berbasis kebutuhan lokal.
Sementara itu, dari sektor konservasi dan lingkungan, hadir Yayasan Kehati, dan dari sektor pendidikan serta pemberdayaan inklusif, turut serta Yayasan Rumah Generasi.
Linda M. F. Noya dari Bank BTN menjelaskan bagaimana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kini semakin ramah terhadap pelaku usaha kecil dan mikro. Tak lagi terbatas pada pelaku usaha besar di perkotaan, KUR kini menyasar pasar tradisional, nelayan, dan pelaku usaha rumahan di desa-desa.
Sementara itu, Kun Pattikawa dari Bank BRI membagikan cerita tentang program unik yang dilaksanakan sejak 2021: Satu Desa, Satu Mantri. Dalam program ini, petugas BRIdisebut mantritinggal dan bekerja langsung di tengah masyarakat desa. Mereka bukan sekadar staf bank, tapi juga fasilitator pembangunan ekonomi lokal.