PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center
  • Depan
  • Profil PIRAC
    • Tentang PIRAC
    • Struktur Organisasi PIRAC
  • Program Kerja
    • Riset dan Kajian
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Advokasi Kebijakan
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
  • Berita Kegiatan
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Kuliah Umum Ekonomi Berbasis Kebudayaan untuk Pembangunan Manusia Indonesia

September 9, 2019/0 Comments/in Uncategorized/by

Cultural Economics Public Lecture

Pemerintah telah menyatakan akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam lima tahun ke depan. Kebudayaan adalah faktor penting dalam upaya tersebut, sebab ia dapat memperkaya perekonomian sekaligus memperkaya pilihan dan makna hidup. Namun, sisi ekonomi dari kebudayaan relatif belum banyak disorot. Untuk mewacanakan nilai ekonomi kebudayaan, Koalisi Seni Indonesia mengadakan acara kuliah umum “Cultural Economics Public Lecture” . Kuliah publik dilaksanakan pada hari Jumat, 6 September 2019, 08.30-11.30 WIB di Auditorium CSIS Jakarta Pusat. Sebagai pembicara tunggal yaitu Prof. David Throsby, seorang pakar  ekonomi kebudayana (Cultural economist) dari Macquarie University, Australia. Kuliah umum ini akan membahas pentingnya ekonomi berbasis kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan secara budaya untuk memajukan pembangunan manusia dan perekonomian Indonesia. Acara ini diadakan oleh Koalisi Seni bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud dan Kedutaan Besar Australia, sebagai bagian dari rangkaian Big Ideas. Big Ideas adalah seri seminar Kedubes Australia yang mengeksplor topik terkini serta menarik bagi Indonesia dan Australia. Big Ideas bertujuan memicu diskusi berkualitas yang berkontribusi pada pengembangan ide-ide, perspektif, dan kesempatan berjejaring baru bagi para hadirin. Banyak pandangan menarik dari profesor David Throsby  soal ekonomi kebudayaan. Menurutnya untuk memajukan kebudayaan diperhitungkan dalam agenda kebijakan pembangunan, perlu dilakukan dengan cara  menunjukkan cara industri kebudayaan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Misalnya, sumbangan produksi, penyebaran, partisipasi, serta konsumsi budaya selain membuat masyarakat berdaya dari segi ekonomi, berbagai kegiatan tersebut memperkaya kebudayaan itu sendiri, juga memperkuat kohesi sosial masyarakat,” Throsby juga mengemukakan cara mengukur manfaat kebudayaan dapat diukur melalui dua nilai, yakni segi ekonomi dan budayanya. Dari segi ekonomi, industri kebudayaan menghasilkan barang dan jasa untuk pasar juga untuk kepentingan publik, serta berdampak pada inovasi industri lain. Dari segi budaya, industri kebudayaan berkontribusi dengan menunjukkan nilai dari barang dan jasa artistik, menaikkan nilai peran individu dalam kegiatan kreatif, mewujudkan nilai sosial dialog lintas budaya, serta mendukung peran seni dalam pendidikan.
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 2019-09-09 03:25:002019-09-09 03:25:00Kuliah Umum Ekonomi Berbasis Kebudayaan untuk Pembangunan Manusia Indonesia

Diskusi Filantropi Kesehatan Di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

September 4, 2019/0 Comments/in Uncategorized/by
Filantropi dalam dunia kesehatan sangat  menarik, penting, sekaligus aktual untuk dibahas pada saat ini, khususnya di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan segala problematikanya. Penting juga untuk dikaji, perjalanan panjang sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia yang telah mengalami perkembangan sejak masa kolonial sampai era JKN dewasa ini, terutama dikaitkan dengan potensi serta posisi pendanaan dari filantropi. Dalam rangka membahas persoalan di atas, Perkumpulan Filantropi Indonesia (PFI) menggelar diskusi setengah hari bertajuk “Prospek Filantropi Sebagai Sumber Alternatif Pendanaan Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)”, bertempat di Learning Center Tahija Enterprise, Graha Irama Lt.3, Kuningan, Jakarta Selatan. Diskusi ini adalah bagian dari Philanthropy Learning Forum – sebuah agenda rutin bulanan PFI – yang membahas tema-tema aktual dalam dunia filantropi. Diskusi menghadirkan tiga orang narasumber, pertama Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. Beliau adalah ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Universitas Gajah Mada. Narasumber kedua adalah dr. Risa Praptono selaku Public Outreach Coordinator DoctorSHARE. Pembicara ketiga M. Zakaria, Direktur RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Sistem kesehatan terus bergerak Dijelaskan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D, sistem kesehatan di Indonesia telah mengalami perjalanan panjang serta gerak perubahan dari masa ke masa. Di mulai dari era kolonialisme, pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu tidak menerapkan sistem negara kesejahteraan. Pelayanan kesehatan ditujukan terbatas bagi pegawai pemerintahan kolonial, militer, dan pegawai perusahaan besar. Di era kolonial terdapat sejumlah Rumah Sakit misi dengan jangkauan terbatas, didanai oleh Charity Fund dan subsidi pemerintah kolonial. Pada masa itu sudah ada dokter yang menjalani praktik swasta (sejak abad 19) dan profesi dokter adalah profesi yang dapat menjadikan orang kaya raya. Penetapan tarif Rumah Sakit dilakukan pada tahun 1930-an. Memasuki era republik (1945-1965), Indonesia mengalami defisit anggaran luar biasa sehingga pada waktu itu pemerintah tidak mampu memberikan jaminan kesehatan yang memadai bagi rakyat. Tidak ada kebijakan pendanaan yang jelas pada periode awal kemerdekaan sampai berkhirnya Orde Lama. Di awal tahun 1950-an diterbitkan Undang-Undang mengenai pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin tetapi tidak berjalan baik. Pada masa itu akses kesehatan yang memadai masih terbatas pada pegawai pemerintah, militer, dan karyawan perusahaan besar.  Ada penurunan sumber dana dari charity dan subsidi pemerintah berkurang. Pada masa ini RS-RS swasta dan keagamaan mengandalkan pemasukan dari pasien berdasarkan tarif di berbagai kelas perawatan. Pada kurun 1965-1998, situasi ditandai dengan sistem ekonomi pasar, ditandai oleh sektor swasata berkembang cepat termasuk bermunculannya RS swasta yang bercorak profit. Di sisi lain, tidak ada kejelasan mengenai aturan pasar di dunia kesehatan. Dokter dapat melakukan praktek secara bebas. Era reformasi (1999-sekarang) ditandai dengan adanya desentralisasi dunia kesehatan dan pemerintah menerapkan pendekatan negara kesejahteraan. Kesehatan dan sistem jaminan kesehatan telah menjadi isu politik. Masyarakat miskin mendapat pelayanan dengan dukungan Sistem Jaminan Kesehatan. Di sisi lain, dana yang bersumber dari dunia filantropi menghilang. JKN dan beberapa persoalan yang masih dihadapi Fakta yang terjadi di lapangan saat ini, menurut Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D, pelaksanaan JKN masih menemui sejumlah masalah, salah satunya kesulitan pendanaan yang dialami banyak Rumah Sakit (RS). Banyak Rumah Sakit mengalami kekurangan dana akibat tarif BPJS lebih rendah dari cost  dan tidak lancarnya Cash Flow BPJS. Akibatnya banyak RS kesulitan membiayai kebutuhan seperti peremajaan gedung, memberbaiki fasilitas, menambah peralatan, hingga melakukan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dari sisi pasien, realitas di lapangan saat ini juga menunjukkan masih banyak kebutuhan dana pasien yang tidak ditanggung oleh BPJS seperti biaya transportasi, biaya akomodasi, konsumsi bagi keluarga yang menunggu, dan lain-lain. Selain itu masih terdapat Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) BPJS yang gagal bayar akibat tidak mampu membayar premi secara teratur. Dana filantropi untuk kesehatan masih perlu digali Dunia filantropisme di Indonesia saat ini mengalami perkembangan pesat dengan potensi jumlah sumbangan yang dapat digalang terbilang besar. Menurut Perkumpulan Filantropi Indonesia (PFI), aktor-aktor kunci filantropi saat ini dapat dibedakan ke dalam kelompok sebagai berikut:
  • Donatur perorangan
  • Yayasan Keluarga (Family Foundation)
  • Yayasan Komunitas (Community Foundation)
  • Yayasan Perusahaan (Corporate Foundation)
  • Yayasan Keagamaan (Religious Foundation)
  • Yayasan Filantropi Media Massa (Mass Media Foundation)
  • Filantropi Komunitas (Community Based Philanthropy)
  • Filantropi Diaspora (Diaspora Based Philanthropy)
Dijelaskan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D, terdapat dua kelompok filantropis berdasarkan besarnya sumbangan, pertama, kelompok/perorangan yang  memberikan sumbangan dalam jumlah besar tetapi jumlah kelompok/orangnya sedikit, kedua, kelompok/orang yang memberikan sumbangan dengan jumlah sedikit tetapi kelompok/orangnya banyak. Kedua kelompok filantropi tadi dapat dijadikan sumber potensial bagi Rumah Sakit sebagai sumber pembiayaan. Salah satu cara yang dapat ditempuh guna menggalang dana publik salah satunya melalui situs/aplikasi urun dana (Crowdfunding). Kegiatan menggalang dana publik untuk kesehatan antara lain nampak pada program/kegiatan yang dijalankan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Dompet Dhuafa dan DoctorSHARE. (SM)
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 2019-09-04 07:24:002019-09-04 07:24:00Diskusi Filantropi Kesehatan Di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Search Search

Recent Posts

  • Merajut Kolaborasi, Mendanai Masa Depan: Inovasi Filantropi untuk Pendidikan Indonesia
  • Potret Asa Lebah Sempage : Di Tengah Realitas, Warga Menjaga Harapan akan Hidup yang Lebih Sejahtera
  • Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
  • Aliansi Filantropi Desak Pemerintah Lindungi, Bukan Batasi, Sumbangan Bencana
  • Menuju Era Baru Filantropi: Saatnya Regulasi Usang Penggalangan Dana Berubah

Recent Comments

    Archives

    • August 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • February 2026
    • December 2025
    • September 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • June 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • October 2023
    • July 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • August 2021
    • September 2020
    • June 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • April 2019
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • December 2018
    • October 2018
    • April 2018
    • November 2016
    • August 2016
    • June 2016
    • May 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • October 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • June 2013
    • February 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • August 2012
    • July 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • February 2012
    • January 2012

    Categories

    • Kemitraan dan Jaringan
    • Uncategorized

    Tentang PIRAC

    Organisasi independen yang menyediakan jasa penelitian, pelatihan, konsultasi, advokasi, dan penyebaran informasi di bidang filantropi, serta mobilisasi sumber daya, dan penguatan organisasi masyarakat sipil di Indonesia.

    ENFOLD L.A.

    1818 N Vermont Ave
    Los Angeles, CA, United States

    (555) 774 433

    LA@enfold-startup.com

    ENFOLD Detroit

    4870 Cass Ave
    Detroit, MI, United States

    (555) 389 976

    detroit@enfold-startup.com

    Sitemap

    • About PIRAC
      • Contact Us
      • Program and Activity
      • Research And Study
        • An Evidence-Based Behavior Change Roadmap in Manggarai Regency, East Nusa Tenggara
        • Breaking the Chain of Extreme Poverty
    • Berita Kegiatan
    • Contact
    • Contact
    • Depan
    • Kontak Kami
    • Manajemen PIRAC
      • Pengurus PIRAC
    • News
    • Our Story
    • Pricing
    • Products
    • Products
    • Profil PIRAC
      • Struktur Organisasi PIRAC
      • Tentang PIRAC
    • Program Kerja
      • Advokasi Kebijakan
      • Fundraising dan Keberlanjutan
      • Kampanye dan Edukasi
        • Buku PIRAC
        • Siaran Pers
      • Kemitraan dan Jaringan
      • Pelatihan dan Pendampingan
      • Riset dan Kajian
        • Baseline Study Collective Care Fund Project
        • Dari Peta Sosial ke Aksi Nyata: Riset OMS dalam Memperluas Akses Air Bersih dan Sanitasi
        • Komunikasi yang Menggerakkan: Peta Jalan Perubahan Perilaku Berbasis Bukti di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur
        • Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem
        • Menuju Indonesia Bebas TBC: Riset sebagai Fondasi Strategi OMS Kesehatan yang Berkelanjutan
        • Riset Aksi dan Peran Lembaga Filantropi Dalam Pencapaian SDGs di Indonesi
        • Riset Mengenai Kesiapan Exit Strategy Program Mitra PT Indofood
        • Riset Pemetaan Potensi Filantropi Pendukung Program Bantuan Hukum untuk Warga Miskin dan Kelompok Rentan
        • Riset Pemetaan Potensi Lembaga Filantropi untuk Mendukung Pendidikan di Indonesia
        • Studi Doing Good Index 2024
        • Studi Pemetaan Solidaritan Sosial dan Kemanusiaan di Era Pandemi Covid19
        • Studi Pemetaan Sosial Kondisi Masyarakat di Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat
    • Sample Page
    • Syarat dan Ketentuan
    © Copyright - PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center - Enfold WordPress Theme by Kriesi
    Scroll to top Scroll to top Scroll to top