PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center
  • Depan
  • Profil PIRAC
    • Tentang PIRAC
    • Struktur Organisasi PIRAC
  • Program Kerja
    • Riset dan Kajian
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Advokasi Kebijakan
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
  • Berita Kegiatan
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Sering Berganti Personil jadi Penghambat Radio Komunitas

October 11, 2012/0 Comments/in Uncategorized/by
JAKARTA – Persoalan seringnya pergantian pengelola radio komunitas (Rakom) menjadi tantangan sendiri bagi perkembangan radio komunitas di Indonesia. Kondisi ini digambarkan oleh Andi Yuwono dari Voice Human Right (VHR) yang menfasilitasi pendampingan beberapa radio komunitas. “Tahun lalu VHR mendampingi 600 radio komunitas, tapi tahun ini hanya 200 radio komunitas dan kemungkinan tahun depan turun menjadi 50 radio komunitas,” Ungkap Andi Yuwono dalam FGD Strategi Fundraising Radio Komunitas yang diselenggarakan oleh Sekolah Fundraising PIRAC, JRKI yang didukung oleh Ford Fondation di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis 8 November 2012. Andy mengungkapkan, bahwa penurunan jumlah radio komunitas dari tahun ke tahun dikarenakan banyaknya radio komunitas yang akhirnya gulung tikar dan tidak lagi siaran. Persolan utamanya adalah seringnya pergantian pengelola radio komunitas. “Bila persoalan kurangnya kapasitas SDM, banyak lembaga yang menfasilitasi peningkatan kapasitas SDM untuk radio komunitas, ada Combaine, JRKI, dan VHR sendiri. Namun seringkali SDM yang sudah diberikan peningkatan kapasitas kemudian pindah dan tidak mengelola radio komunitas lagi,” ujarnya. Andy juga menjelaskan, inisiatif VHR yang menfasilitasi peningkatan kapasitas bagi radio komunitas namun tidak optimal karena seringnya pergantian kepengurusan radio komunitas. Seringnya pergantian personil pengelola radio komuitas ini, menurut Andy, disebabkan tidak ada rasa kepemilikan dari pengelola radio komunitas itu sendiri. Seringkali radio komunitas didirikan bukan dari komunitas tapi dari ketertarikan individu terhadap radio yang kemudian diserahkan ke komunitas. Sumberdaya kepemilikan ketika mendirikan radio komunitas bukan kepemilikan radio komunitas. Karakter radio komunitas diakui Andy, memang beragam. Komisioner KPI, Idy Muzayyad melihat, komunitas membangun media ini untuk menfasilitasi kebutuhan komunitas, mensolidkan komunitas itu sendiri, ada ruang publik dari, oleh dan untuk komunitas yang berinteraksi dalam radio komunitas. Ketika radio komunitas ini benar-benar milik komunitas, persoalan pendanaan bukan menjadi masalah yang besar. Biaya operasional radio komunitas bisa diusahakan oleh komunitas sendiri karena operasional radio komunitas ini kecil bisa dikatakan hanya untuk biaya listrik saja. Andy menegaskan, jikapun radio komunitas akan melakukan fundraising atau penggalangan sumber daya, harusnya fundraisingnya ditujukan untuk komunitas sendiri. Kondisi ini untuk mencerminkan kemandirian dari radio komunitas itu. “Bila ingin untung, ya jadi radio swasta……jangan jadi radio komunitas”, ungkap direktur VHR ini menegaskan.- NH
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 2012-10-11 04:17:002012-10-11 04:17:00Sering Berganti Personil jadi Penghambat Radio Komunitas

Meningkatkan Akuntabilitas Filantropi Media

October 8, 2012/0 Comments/in Uncategorized/by
JAKARTA – Untuk mendorong profesionalisme media dalam pengelolaan donasi publik (Filantropi), PIRAC bersama PFI, Kemensos dan KPI dengan dukungan Yayasan TIFA beberapa waktu lalu duduk bareng membicarakan etika filantropi media. Kegiatan yang digelar dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion) melihat secara garis besar praktik kegiatan filantropi media. Dilaksanakan di Gedung Kemensos, Selasa 7 Agustus 2012. Menurut Direktur PIRAC, Hamid Abidin, M.Si., FGD ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaring saran dan masukan berbagai pihak guna meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas media di Indonesia dalam menggalang, mengelola dan menyalurkan sumbangan sosial masyarakat. Acara ini dibuka oleh Drs margowiyono M.S.I selaku Diretur Pengumpulan dan Pengelolaan Sumberdaya Bantuan Sosial Kemensos. Selain Kemensos, KPI, PIRAC dan PFI, FGD ini juga dihadiri oleh media yang menegelola bantuan kemanusiaan seperti Pundi Amal SCTV. MNC TV, RCTI Peduli, Global TV dan Yayasan Satu Untuk Negeri dari TV One. Beberapa point penting hasil FGD ini, lanjut Hamid, menurut Kemensos bahwa media boleh menggalang dan mengelola bantuan sepanjang memiliki struktur tersendiri, entah dalam bentuk yayasan maupun kepentingan dengan rekening yang terpisah. Bila Kemensos tidak mempersoalkan nama pengelola bantuan di media, KPI justru menentang keras pencantuman nama media untuk pengelolaan bantuan karena bisa menjadi ‘brand imange’ atau bagian dari Public Relation media. “Bila kita mendengar Pundi Amal SCTV, apakah yang beramal SCTV? Kan pemirsanya atau RCTI Peduli, kan yang peduli pemirsa RCTI bukan RCTInya,” jelas ibu Azimah dari KPI. “Hal lain yang masih jadi polekmik dalam diskusi FGD ini adalah terkait dengan perijinan. Bila pada aturan sebelumnya ijin harus dilakukan 3 bulan, ada usulan untuk merevisinya menjadi 1 tahun dengan laporan triwulan atau persemester. Pada perijinan ini juga masih ada perbedaan antara Kemensos dengan KPI,” jelas Hamid. Dijelaskan, dalam aturan Kemensos dalam kondisi darurat ijin bisa menyusul maksimal 1 minggu setelah kegiatan penggalangan dana dilakukan namun pada KPI ijin harus dilakukan sebelum kegiatan pengalangan bagaimanapun kondisinya. Selain perijinan diskusi ini juga membahas terkait dengan pola pengunaan sisa dana, sistem pelaporan dan adanya call center untuk menanggapi keluhan dan kontrol masyarakat terkait dengan penggalangan dana publik oleh media. Point-point inilah yang kemudian menjadi rekomendasi untuk didiskusikan pada FGD berikutnya. “Pada FGD ini hal yang menjadi kesepeakatan bersama adalah perlunya aturan untuk media dalam penggalangan dana publik. Karena media tidak bebas nilai, ada berbagai kepentingan yang melingkupi media. Karena itulah media perlu ditata dan diberikan aturan main untuk penggalangan dan pengelolaan dana publik,” terang Hamid. Dilanjutkan Hamid, salah satu peran sosial media yang saat ini paling menonjol adalah keterlibatan mereka dalam menggalang dana sosial masyarakat. Peran itu cukup mengemuka manakala terjadi bencana alam atau musibah. Saat musibah atau bencana berlangsung, media secara spontan membuka program penggalangan dan pendistribusian bantuan dari masyarakat. Hebatnya, program penggalangan dana ini mendapatkan dukungan dan sambutan yang positif dari masyarakat. Keberhasilan itu terbukti dari melimpahnya bantuannya yang berhasil digalang yang jumlahnya mencapai milayaran rupiah. Ditegaskan Hamid, di luar potensi dan perannya dalam penggalangan sumbangan, profesionalisme dan akuntabilitas media dalam pendayagunaan sumbangan juga mendapat sorotan. Banyak media yang belum membuat dan memberikan laporan pertanggungjawaban sumbangan secara lengkap. “Dalam beberapa kasus, penyaluran sumbangan yang dilakukan media juga dinilai tidak tepat sasaran. Belum lagi kasus penyalahgunaan sumbangan masyarakat untuk mendanai program CSR media. Selain itu, Media dianggap kehilangan fungsi kontrolnya ketika ia terlibat langsung dalam distribusi atau pendayagunaan dana yang digalang,” kata Hamid mengakhiri.
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 2012-10-08 04:49:002012-10-08 04:49:00Meningkatkan Akuntabilitas Filantropi Media
Search Search

Recent Posts

  • Merajut Kolaborasi, Mendanai Masa Depan: Inovasi Filantropi untuk Pendidikan Indonesia
  • Potret Asa Lebah Sempage : Di Tengah Realitas, Warga Menjaga Harapan akan Hidup yang Lebih Sejahtera
  • Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
  • Aliansi Filantropi Desak Pemerintah Lindungi, Bukan Batasi, Sumbangan Bencana
  • Menuju Era Baru Filantropi: Saatnya Regulasi Usang Penggalangan Dana Berubah

Recent Comments

    Archives

    • August 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • February 2026
    • December 2025
    • September 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • June 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • October 2023
    • July 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • August 2021
    • September 2020
    • June 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • April 2019
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • December 2018
    • October 2018
    • April 2018
    • November 2016
    • August 2016
    • June 2016
    • May 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • October 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • June 2013
    • February 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • August 2012
    • July 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • February 2012
    • January 2012

    Categories

    • Kemitraan dan Jaringan
    • Uncategorized

    Tentang PIRAC

    Organisasi independen yang menyediakan jasa penelitian, pelatihan, konsultasi, advokasi, dan penyebaran informasi di bidang filantropi, serta mobilisasi sumber daya, dan penguatan organisasi masyarakat sipil di Indonesia.

    ENFOLD L.A.

    1818 N Vermont Ave
    Los Angeles, CA, United States

    (555) 774 433

    LA@enfold-startup.com

    ENFOLD Detroit

    4870 Cass Ave
    Detroit, MI, United States

    (555) 389 976

    detroit@enfold-startup.com

    Sitemap

    • About PIRAC
      • Contact Us
      • Program and Activity
      • Research And Study
        • An Evidence-Based Behavior Change Roadmap in Manggarai Regency, East Nusa Tenggara
        • Breaking the Chain of Extreme Poverty
    • Berita Kegiatan
    • Contact
    • Contact
    • Depan
    • Kontak Kami
    • Manajemen PIRAC
      • Pengurus PIRAC
    • News
    • Our Story
    • Pricing
    • Products
    • Products
    • Profil PIRAC
      • Struktur Organisasi PIRAC
      • Tentang PIRAC
    • Program Kerja
      • Advokasi Kebijakan
      • Fundraising dan Keberlanjutan
      • Kampanye dan Edukasi
        • Buku PIRAC
        • Siaran Pers
      • Kemitraan dan Jaringan
      • Pelatihan dan Pendampingan
      • Riset dan Kajian
        • Baseline Study Collective Care Fund Project
        • Dari Peta Sosial ke Aksi Nyata: Riset OMS dalam Memperluas Akses Air Bersih dan Sanitasi
        • Komunikasi yang Menggerakkan: Peta Jalan Perubahan Perilaku Berbasis Bukti di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur
        • Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem
        • Menuju Indonesia Bebas TBC: Riset sebagai Fondasi Strategi OMS Kesehatan yang Berkelanjutan
        • Riset Aksi dan Peran Lembaga Filantropi Dalam Pencapaian SDGs di Indonesi
        • Riset Mengenai Kesiapan Exit Strategy Program Mitra PT Indofood
        • Riset Pemetaan Potensi Filantropi Pendukung Program Bantuan Hukum untuk Warga Miskin dan Kelompok Rentan
        • Riset Pemetaan Potensi Lembaga Filantropi untuk Mendukung Pendidikan di Indonesia
        • Studi Doing Good Index 2024
        • Studi Pemetaan Solidaritan Sosial dan Kemanusiaan di Era Pandemi Covid19
        • Studi Pemetaan Sosial Kondisi Masyarakat di Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat
    • Sample Page
    • Syarat dan Ketentuan
    © Copyright - PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center - Enfold WordPress Theme by Kriesi
    Scroll to top Scroll to top Scroll to top