PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center
  • Depan
  • Profil PIRAC
    • Tentang PIRAC
    • Struktur Organisasi PIRAC
  • Program Kerja
    • Riset dan Kajian
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Advokasi Kebijakan
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
  • Berita Kegiatan
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Tag Archive for: lokalatih

PIRAC Sharing Pembelajaran Bersama OMS mitra Ananta Fund

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Rabu, 24 September 2025 lalu, PIRAC diundang Ananta Fund – Yayasan KEHATI untuk sharing pembelajaran bersama Organisasi Masyarakat Sipil di Bogor. Sebelumnya, PIRAC dengan dukungan Ananta Fund mengimplementasikan program “Peningkatan Kapasitas Tata Kelola & Keberlanjutan Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia Tengah dan Timur”, di semester awal 2025 lalu. Program tersebut meliputi rangkaian kegiatan self assessment, lokalatih tata kelola dan fundraising untuk ketahanan dan keberlanjutan organisasi di Makassar dan 4 kali pendampingan secara daring, serta penguatan jejaring dan kemitraan lintas sektor di Ambon dan Jayapura.

Capaian program

Pada kegiatan sharing pembelajaran tersebut hadir mewakili PIRAC adalah Ninik Annisa, Direktur Eksekutif PIRAC, yang membagi pengalaman PIRAC selama program peningkatan kapasitas dan pendampingan. Mitra yang didampingi terdapat 20 mitra OMS yang tersebar di Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur.

Dari program yang direncanakan, dapat dikatakan program telah berhasil  dengan berbagai capaian. Diantaranya, PIRAC membuat tool ‘Prestasi’ yang digunakan untuk self assessment organisasi mitra atas kondisi diri organisasi tersebut, yang dibuat menyesuaiakan karakter organisasi yang terlibat dalam program ini. 88% peserta menunjukkan peningkatan kapasitasnya pasca lokalatih, terkait dengan tata kelola dan strategi fundraising organisasi, pengembangan SDM organisasi, penyusunan proposal berbasis LFA, dan strategi jejaring kemitraan. Sementara melalui pendampingan sebanyak 4 kali pertemuan, terkait penyususnan SOP, struktur organisasi, proposal dan database donatur. Selain itu juga terdapat setidaknya 55 dokumen kelembagaan yang berhasil disusun oleh mitra, 71% mitra telah mampu menyusu laporan keuangan sesuai dengan standar ISAK 35 dengan menggunakan SaktiApp (dibuat dengan menyesuaikan standar namun memudahkan). Dari hasil monitoring menunjukkan hampir seluruh mitra telah memahami dan menerapkan struktur organisasinya.

Selain itu, dari program ini juga telah mendorong penguatan jejaring lintas sektor melalui forum kolaborasi multipihak di 3 lokasi yaitu Makassar, Jayapura, dan Ambon. Kegiatan tersebut mempertemukan OMS, lembaga filantropi, sektor swasta, dan pemerintah, yang menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama strategis dengan OMS mitra yang didampingi.

Hambatan & Tantangan

Selama pelaksanaan program, sejumlah tantangan muncul yang memengaruhi efektivitas dan kecepatan respons mitra dalam menjalankan tugas. Keterbatasan respons dan komunikasi terjadi akibat aktivitas lapangan yang padat, keterbatasan waktu, serta kendala sinyal dan teknologi yang menghambat tindak lanjut pendampingan secara cepat. Dari sisi kapasitas teknis, masih tampak kelemahan dalam kemampuan dokumentasi, seperti keterbatasan kompetensi menulis, kesulitan dalam penyusunan proposal, dan hambatan dalam merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Selain itu, struktur pengambilan keputusan yang hierarkis turut memperlambat proses, karena sebagian peserta tidak memiliki otoritas penuh dan harus menunggu persetujuan pimpinan di tengah birokrasi internal yang kompleks. Di sisi lain, koordinasi internal juga belum optimal akibat padatnya jadwal program, terbatasnya waktu untuk diskusi, serta kurangnya sinkronisasi antaranggota tim. Situasi ini diperparah oleh belum kuatnya kepemimpinan dan mekanisme kaderisasi yang dapat memastikan transfer pengetahuan dan informasi secara berkelanjutan.

Dampak Program

Selama periode program, kapasitas dan tata kelola kelembagaan mitra menunjukkan kemajuan signifikan. Sebagian besar telah menyusun atau mereviu dokumen penting seperti SOP Keuangan, SOP Kelembagaan, dan SOP Perlindungan (PSEA, rujukan kasus, dll), menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya tata kelola yang akuntabel. Beberapa mitra, seperti Yayasan Harapan Ibu Papua, LP2A Papua, Wallacea, dan AMAN Tana Luwu, juga telah melengkapi AD/ART, SOP pelaksanaan program, serta protokol keamanan data dan kantor. Selain itu, mitra mulai mengembangkan proposal program berbasis potensi lokal—seperti pemulihan lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak—serta menjajaki kemitraan dengan lembaga pendanaan seperti Ananta Fund & KEHATI, Rumah Zakat, HI, BAZNAS, BaKTI, Yayasan Kalla, dan CSR PT Kalla Group. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas kelembagaan, inisiatif programatik, dan keberanian mengakses sumber daya eksternal secara lebih strategis.

Pembelajaran

Pembelajaran penting dari pelaksanaan program menunjukkan bahwa kesetaraan akses teknologi di antara peserta tidak dapat diasumsikan begitu saja; karenanya, strategi komunikasi harus inklusif dan adaptif dengan memanfaatkan berbagai platform seperti WhatsApp, email, SMS, dan telepon agar pesan tersampaikan secara efektif. Pengalaman juga menegaskan bahwa peningkatan kemampuan teknis merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan pendampingan bertahap, bukan sekadar pelatihan tunggal. Pendekatan mentoring dengan tugas spesifik, konsultasi rutin, dan penyediaan template praktis terbukti lebih efektif dalam memperkuat kapasitas mitra.

Selain itu, pemahaman terhadap struktur kekuasaan internal organisasi menjadi kunci untuk mencegah kebuntuan dalam pengambilan keputusan—sehingga keterlibatan pimpinan perlu diintegrasikan dalam setiap tahapan program. Di sisi lain, praktik pemetaan pemangku kepentingan dan perluasan jejaring lintas sektor membuka peluang kolaborasi yang lebih strategis bagi OMS. Melalui kemitraan dengan pemerintah (advokasi kebijakan dan akses program), sektor swasta (CSR dan filantropi perusahaan), akademisi (riset dan program berbasis bukti), serta media (kampanye publik dan penguatan branding), OMS dapat memperluas sumber daya, meningkatkan posisi tawar, dan memperkuat sinergi gerakan sosial yang berkelanjutan.

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:312026-09-05 07:36:30PIRAC Sharing Pembelajaran Bersama OMS mitra Ananta Fund

Lokalatih Tata Kelola Organisasi Dan Strategi Fundraising Untuk Keberlanjutan Organisasi

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

[vc_row][vc_column][vc_column_text css=””]

Makassar, 20 Februari 2025 – PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) bersama ANANTA FUND – Yayasan KEHATI sukses menyelenggarakan Lokalatih bertajuk Tata Kelola Organisasi dan Strategi Fundraising untuk Keberlanjutan Organisasi di Hotel Aryaduta Makassar pada 17-20 Februari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari 20 organisasi masyarakat sipil (OMS) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Lokalatih ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas OMS, khususnya dalam aspek tata kelola organisasi yang baik dan strategi penggalangan dana guna memperluas peluang kemitraan dengan mitra potensial. Dalam prosesnya, kedua puluh OMS yang berpartisipasi telah melalui seleksi ketat, menjalankan self-assessment, ditingkatkan kapasitasnya melalui Lokalatih ini, dan kemudian melalui pendampingan untuk mendorong daya saing mereka dalam kerja-kerja pemberdayaan, edukasi, dan pembangunan melalui kerja sama pembangunan.

Selama empat hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang mencakup prinsip tata kelola organisasi yang baik, strategi fundraising yang berkelanjutan, hingga teknik membangun kemitraan strategis. Selain sesi pelatihan yang interaktif, para peserta juga terlibat dalam diskusi kelompok, studi kasus, serta sesi berbagi pengalaman dengan organisasi yang telah berhasil menerapkan tata kelola dan strategi fundraising yang efektif.

Ninik Annisa – Direktur PIRAC, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas OMS merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran masyarakat sipil dalam pembangunan sosial di Indonesia. “Dengan tata kelola yang baik dan strategi fundraising yang tepat, OMS dapat lebih mandiri dan berkelanjutan dalam menjalankan program-programnya,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan ANANTA FUND – Yayasan KEHATI, Ibu Gita Gemilang  Wakil Direktur Program Hibah Yayasan KEHATI, menekankan pentingnya kemitraan dan kolaborasi dalam memperbesar dampak sosial. “Kami berharap para peserta dapat menyerap lalu mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk meningkatkan profesionalisme organisasi mereka serta menjalin kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pihak,” ungkapnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Mereka menilai bahwa lokalatih ini memberikan wawasan baru serta kesempatan untuk memperluas jaringan dengan OMS lain dan calon mitra potensial. Ke depan, PIRAC dan ANANTA FUND – Yayasan KEHATI berkomitmen untuk terus mendukung penguatan OMS di Indonesia agar lebih adaptif dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan yang dinamis.

Dengan berakhirnya lokalatih ini, diharapkan para peserta dapat menerapkan hasil pembelajaran dalam organisasi masing-masing dan turut serta dalam membangun ekosistem organisasi masyarakat sipil yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan di Indonesia.

 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:252026-09-05 07:35:17Lokalatih Tata Kelola Organisasi Dan Strategi Fundraising Untuk Keberlanjutan Organisasi

Visitasi Pendampingan PIRAC bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Papua

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan, Uncategorized/by admin

Jayapura, 22 Mei 2025 — Upaya penguatan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Papua kembali digencarkan. PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), dengan dukungan Ananta Fund – Yayasan KEHATI, melakukan pendampingan intensif kepada dua organisasi mitra di Jayapura, yakni Yayasan Harapan Ibu Papua (YHI) dan Lembaga Pengkajian dan Perlindungan Perempuan dan Anak Papua (LP3AP).

Pendampingan berlangsung selama dua hari, 21–22 Mei 2025, sebagai bagian dari inisiatif jangka panjang PIRAC untuk mendorong pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas aktor lokal.

Mengurai Tantangan OMS Papua

Pada hari pertama, PIRAC mengunjungi masing-masing organisasi untuk menggali potensi, tantangan, dan kebutuhan penguatan kelembagaan. Di Yayasan Harapan Ibu Papua, ditemukan sejumlah tantangan mendasar, terutama dalam aspek kapasitas teknis sumber daya manusia.

“Banyak relawan lapangan yang punya pengalaman hebat dalam mendampingi masyarakat. Tapi mereka masih kesulitan menulis laporan atau menarasikan temuan secara sistematis,” ujar salah satu pendamping PIRAC.

Selain itu, YHI juga menghadapi masalah klasik: keberlanjutan pendanaan. Meski sempat didukung oleh donor asing dan program pemerintah, ada masa ketika organisasi benar-benar tidak memiliki dana operasional. Namun semangat para aktivis tetap menyala. Salah satunya dengan berjualan produk olahan sagu demi menopang kegiatan organisasi.

Pendampingan hari kedua berlanjut di LP3AP. Direktur LP3AP, Akmiati, menyoroti masih kuatnya tantangan dalam mendorong sensitivitas dan keadilan gender di Papua.

“Perempuan di Papua belum benar-benar dianggap sebagai subjek pembangunan. Bahkan di kalangan OMS sendiri, alat analisis GEDSI belum digunakan secara maksimal,” ungkapnya.

Meski ada kemajuan di tingkat pemerintah daerah dalam memahami pentingnya isu gender, pendekatan yang dilakukan dinilai masih sporadis dan belum menyentuh akar persoalan sosial-budaya.

LP3AP juga menghadapi persoalan regenerasi. Semakin sedikit anak muda yang berminat bergabung dalam organisasi sosial. Pilihan mayoritas justru tertuju pada profesi yang lebih stabil secara finansial, seperti menjadi ASN. Tingginya biaya hidup di Papua turut memengaruhi ekspektasi insentif tenaga kerja, sehingga kerja sosial menjadi kurang menarik.

Pentingnya Dukungan Jangka Panjang

Baik YHI maupun LP3AP sepakat bahwa penguatan kapasitas SDM, pendampingan berkelanjutan, serta dukungan pendanaan yang lebih stabil sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas kerja-kerja OMS di Papua.

“Jika ingin mendorong transformasi sosial di Papua, maka OMS lokal harus diperkuat dari dalam. Dukungan pelatihan, pendampingan, dan insentif yang layak bisa menjadi kunci menarik minat generasi muda,” terang tim PIRAC.

Pendampingan ini menjadi langkah awal menuju perbaikan sistemik dalam pengelolaan organisasi masyarakat sipil di Papua—agar mereka tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan berdampak lebih luas.

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:56:252026-09-05 07:27:19Visitasi Pendampingan PIRAC bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Papua

Lokalatih Renstra Fundraising Untuk Organisasi

29/08/2026/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin
DEPOK Fundraising merupakan salah satu pilar keberlanjutan organisasi. Apabila fundraising berhasil dilakukan, maka program akan berjalan sesuai rencana, keberhasilan dalam melakukan fundraising juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan organisasi tersebut. Agar dapat melakukan fundraising secara terarah dan terprogram dengan baik, dibutuhkan tidak hanya motivasi, tetapi juga kemampuan menyusun perencanaan strategis (renstra) fundraising organisasi. Sekolah Fundraising PIRAC (Public Interest Research & Advocacy Center)  mengadakan “Lokalatih dan Outbond Rencana Strategis Fundraising”, yang ditujukan untuk membekali organisasi dan meningkatkan keterampilan dalam menyusun perencanaan strategis fundraising. Hal itu disampaikan Nor Hiqmah, Training Manager Sekolah Fundraising PIRAC, di ruang kerjanya, Selasa (29/1/2013). Hiqmah melanjutkan, kegiatan ini akan dilangsungkan 26-28 Pebruari 2013 di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua-Bogor. Untuk organisasi yang berminat dapat mendaftar ke PIRAC hingga batas waktu 15 Pebruari 2013. “Kelas ini hanya diperuntukan untuk -maksimal- 30 orang peserta,” jelas Hiqmah. Pelatihan ini sangat cocok bagi pengurus yayasan, NGO, OPZ dan pengelola CSR, dikarenakan dalam pelatihan ini peserta tidak saja diberikan pengetahuan tentang  “Rencana Strategis Program dan Fundrasing”, melainkan juga peserta dapat memiliki keterampilan dalam  merancang langkah kerja yang sinergis antara program dan fundraising secara sistematis. Sementara itu di saat yang sama, Yusuf, Marketing Manager Sekolah Fundraising PIRAC menambahkan “Kami memberikan diskon khusus bagi para pendaftar di awal sampai dengan 50%. Termasuk para pemegang kartu PSF yang pernah mengikuti kegiatan training di Sekolah Fundraisig PIRAC dan bagi lembaga yang mendaftarkan 3 orang atau lebih”. “Tentunya setelah pelatihan ini, alumni akan tetap mendapat pendampingan dan konsultasi dari PIRAC  saat melakukan implementasi keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tersebut, layaknya organisasi profesional yang memberikan layanan after-sales service yang mumpuni” terang Yusuf mengakhiri. #MY
https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2026-08-29 00:55:352026-09-05 07:37:29Lokalatih Renstra Fundraising Untuk Organisasi

Dari Kampung, Untuk Perubahan: Tiga Suara dari Maluku yang Menggerakkan

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Di sebuah siang yang tenang di Ambon, di rooftop café yang menghadap laut, tiga suara bergema di antara dentingan gelas dan semilir angin. Mereka datang dari kampung-kampung, membawa kisah tentang hutan, tentang perempuan, dan tentang luka yang diubah menjadi harapan. Mereka adalah Stevi Talahatu dari Baileo Maluku Yanes loppies dari Walang Perempuan, dan Genna Mailoa dari Gasira Maluku—tiga tokoh akar rumput yang telah lama bergulat dengan realitas keras masyarakat di Timur Indonesia.

Cerita mereka mengalir dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor Untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang digelar di The Roof Café & Eatery, Kota Ambon, pada Rabu, 28 Mei 2025. Dalam forum itu, aktivis, perbankan, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga filantropi duduk bersama, mencari cara untuk membangun sinergi dari akar rumput hingga pasar modern.

Ketika Hutan Berbisik dan Kampung Bergerak

Stevi Talahatu menatap jauh ke cakrawala, seolah ingat pada suara gergaji mesin yang memekakkan telinga di Yamdena, Tanimbar, bertahun-tahun lalu. Kala itu, hutan adat mereka tak lagi sakral, tapi dijadikan angka-angka oleh korporasi.

“Dari situ kami bergerak. Bukan karena punya modal besar, tapi karena kami tak bisa diam melihat kampung kami dirampas,” ujarnya tenang namun penuh tekad.

Gerakan yang bermula dari protes warga kampung kini menjelma menjadi Yayasan Baileo Maluku, rumah besar bagi tujuh organisasi komunitas adat. Mereka bukan hanya menjaga hutan, tetapi juga membuktikan bahwa konservasi bisa berpijak pada kearifan lokal. Sasi di Haruku, pemantauan gurita di Seram Timur, dan usaha produktif hasil laut hanyalah sebagian kecil dari perjuangan Baileo—yang kini juga memperjuangkan pengakuan tenurial atas tanah adat.

“Perubahan itu tak bisa dari luar saja. Ia harus tumbuh dari kampung,” tambah Stevi, seraya menunjukkan foto kegiatan anak-anak belajar menggambar ikan sebagai bagian dari kampanye konservasi.

Walang Perempuan: Ruang Aman, Ruang Tumbuh

Tak jauh dari Stevi, Yanes Loppies tersenyum lembut. Ia membawa narasi yang tak kalah kuat—tentang perempuan-perempuan Maluku yang bangkit dari keterbatasan dan kekerasan, membentuk usaha, dan menembus pasar swalayan.

“Walang itu tempat bernaung. Kami ingin semua perempuan punya ruang seperti itu,” ujarnya. Sejak 2007, Walang Perempuan mendampingi ratusan perempuan: korban kekerasan, pelaku UMKM, perempuan kepala keluarga. Di Negeri Ihamahu, kelompok dampingan mereka bahkan berhasil menjual produk ke luar pulau. Tapi Yanes jujur soal tantangan: dari SOP produksi yang belum rapi, minimnya legalitas, hingga kurangnya kepercayaan pasar.

Solusinya? Walang menggagas inkubator wirausaha sosial—pendampingan intensif, pelatihan digital, dan kolaborasi lintas pihak. Semua demi satu tujuan: perempuan yang berdaya, tidak hanya selamat, tapi maju dan merdeka secara ekonomi.

Gasira: Dari Luka Jadi Kekuatan

Sementara itu, suara Genna Mailoa membawa suasana menjadi lebih sunyi. Ia tidak hanya bicara tentang angka atau produk, tapi tentang luka—luka perempuan dan anak korban kekerasan seksual yang ditinggalkan dunia. “Banyak dari mereka adalah ibu tunggal. Disakiti, ditinggal, dan dipaksa bertahan sendiri,” tuturnya lirih.

Gasira Maluku, yang lahir pada 8 Oktober 2007, tak sekadar menyediakan rumah aman dan bantuan hukum. Mereka menciptakan pelatihan wirausaha inklusif dalam empat tahap: pelatihan, pendampingan, evaluasi, dan akses modal. Produk seperti mie kelor dan sambal ikan julung lahir dari tangan para penyintas.

“Kami ingin mereka tidak hanya bangkit, tapi juga mandiri. Tapi kami butuh dukungan lebih—terutama soal modal dan akses pasar,” ujar Genna.

Satu Tanah, Banyak Suara, Satu Tujuan

Tiga tokoh, tiga cerita, satu perjuangan: membuktikan bahwa perubahan sosial tak perlu menunggu program besar. Ia bisa lahir dari keresahan, dari desa, dari ruang kecil bernama walang, dari keteguhan menjaga hutan, atau dari pelukan hangat rumah aman.

Maluku bukan hanya tentang keindahan alamnya. Ia adalah ruang hidup bagi perempuan dan komunitas yang sedang bertumbuh, menyembuhkan diri, dan bersuara lantang untuk keadilan. Dan dari sana, dari kampung-kampung itu, muncul cahaya yang menyala untuk Indonesia yang lebih adil dan setara. “Perubahan yang berarti selalu dimulai dari kampung.” — Stevi Talahatu

 

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 04:55:002026-09-05 07:38:27Dari Kampung, Untuk Perubahan: Tiga Suara dari Maluku yang Menggerakkan

Membangun Sinergi dari Timur: Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Maluku

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Ambon, 28 Mei 2025 — Bertempat di The Roof Café & Eatery, diskusi lintas sektor bertajuk “Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku” berlangsung hangat di tengah semilir angin pesisir Ambon. Sebanyak 30 perwakilan dari organisasi masyarakat sipil (OMS), pemerintah, sektor swasta, perbankan, dan lembaga filantropi hadir untuk mendiskusikan satu hal krusial: bagaimana membangun kolaborasi yang berdampak nyata bagi pemberdayaan masyarakat Maluku.

Provinsi Maluku, dengan kekayaan bahari dan budaya yang luar biasa, masih menghadapi tantangan serius dalam pembangunan. Letak geografis sebagai wilayah kepulauan, ketimpangan akses layanan dasar, kemiskinan yang tinggi, serta kerentanan terhadap bencana alam menjadikan proses pembangunan di wilayah ini tidak mudah. Hal ini tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku yang masih di bawah rata-rata nasional.

Dalam konteks ini, organisasi masyarakat sipil (OMS) memainkan peran penting karena kedekatannya dengan komunitas-komunitas akar rumput, terutama mereka yang terpinggirkan. Namun, keterbatasan sumber daya dan minimnya akses terhadap pengambilan keputusan strategis kerap menjadi penghambat dalam memperluas dampak kerja-kerja mereka. Maka, kolaborasi lintas sektor menjadi pendekatan yang semakin relevan dan mendesak.

Tiga OMS, Tiga Cerita Perubahan

Diskusi ini diselenggarakan oleh Ananta untuk memperkenalkan tiga mitra OMS mereka di Maluku: Baileo Maluku, Walang Perempuan, dan Gasira Maluku. Ketiganya memaparkan praktik baik dan inovasi pemberdayaan berbasis komunitas dan potensi lokal.

Dari perlindungan hutan adat dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal oleh Baileo, pendampingan UMKM perempuan oleh Walang Perempuan, hingga pemberdayaan penyintas kekerasan melalui kewirausahaan oleh Gasira, masing-masing organisasi menunjukkan bagaimana perubahan dapat dimulai dari kampung.

Dukungan Lintas Sektor: Lembaga Filantropi, Pemerintah dan Perusahaan

Diskusi juga menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang memiliki komitmen terhadap pembangunan inklusif di Maluku. Dari sektor filantropi, hadir Dompet Dhuafa Maluku dan Human Initiative, yang membagikan pengalaman pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan CSR untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pentingnya pendekatan partisipatif berbasis kebutuhan lokal.

Dari sisi pemerintah, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon dan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Ambon turut memaparkan dukungan teknis dan kebijakan terkait sertifikasi produk, izin edar, serta penguatan UMKM berbasis standar industri dan keamanan pangan.

Sektor perbankan diwakili oleh Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Cabang Ambon dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ambon, yang mempresentasikan inovasi pembiayaan inklusif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa agunan, program Satu Desa Satu Mantri, serta pengembangan Desa Brilian sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal.

Dari kalangan pelaku usaha dan swasta, hadir pula perwakilan dari Hypermart (PT. Matahari Putra Prima Tbk.), PT. Aneka Sumber Tata Bahark, dan PT. Harta Samudra, yang berbagi peluang dan tantangan kemitraan dengan pelaku UMKM lokal. Hypermart secara khusus membuka peluang bagi UMKM untuk memamerkan dan menjual produknya di rak swalayan, selama mampu memenuhi kriteria standardisasi dan pasokan.

Sementara itu, dari sektor konservasi dan lingkungan, hadir Yayasan Kehati, dan dari sektor pendidikan serta pemberdayaan inklusif, turut serta Yayasan Rumah Generasi.

Diskusi ini juga difasilitasi oleh PIRAC, lembaga yang selama ini aktif dalam penguatan kapasitas OMS dan advokasi kebijakan pembangunan inklusif.

Menuju Kolaborasi yang Lebih Terstruktur

Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga bertujuan untuk membangun jejaring strategis lintas sektor di Maluku. Beberapa tujuan utama kegiatan ini meliputi memperkenalkan profil dan capaian OMS mitra Ananta, mengidentifikasi potensi kolaborasi yang bisa dikembangkan, memfasilitasi dialog antar pemangku kepentingan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang konkret untuk kerja sama jangka pendek maupun panjang.

Sinergi dari Timur untuk Indonesia

Forum ini menjadi langkah awal penting untuk memperkuat ekosistem kolaborasi lintas sektor di Maluku. Di tengah tantangan struktural yang kompleks, semangat gotong royong lintas sektor menjadi kunci untuk membuka peluang baru, memperkuat pemberdayaan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan.

Dengan mempertemukan berbagai kekuatan—dari zakat hingga CSR, dari dapur UMKM hingga rak swalayan, dari kampung hingga kebijakan nasional—Maluku sedang membangun jejak kolaborasi yang bisa menjadi contoh inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia. **SS&NH

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 04:26:002026-09-05 07:39:41Membangun Sinergi dari Timur: Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Maluku

Perbankan untuk Rakyat: Inovasi Pembiayaan UMKM di Timur Indonesia

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Saat banyak pelaku UMKM di Maluku berjuang mempertahankan usaha dengan modal terbatas dan akses pasar yang belum stabil, dua institusi keuangan hadir dengan semangat yang berbeda: bukan sekadar menyalurkan kredit, tapi menjadi bagian dari perubahan.

Dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku, yang diselenggarakan di The Roof Café & Eatery, Ambon, Rabu 28 Mei 2025, perwakilan dari Bank BRI dan Bank BTN membagikan pendekatan mereka yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput di Timur Indonesia.

KUR Tanpa Agunan: Modal yang Menjangkau Lebih Banyak Orang

Linda M. F. Noya dari Bank BTN menjelaskan bagaimana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kini semakin ramah terhadap pelaku usaha kecil dan mikro. Tak lagi terbatas pada pelaku usaha besar di perkotaan, KUR kini menyasar pasar tradisional, nelayan, dan pelaku usaha rumahan di desa-desa.

“KUR kami memberikan plafon dari Rp50 juta hingga Rp500 juta,” ungkap Linda. “Yang menarik, untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, tidak diperlukan agunan. Ini menjawab keresahan banyak pelaku UMKM yang punya usaha, tapi tidak punya jaminan formal.”

Skema ini dirancang agar lebih mudah diakses oleh kelompok rentan, termasuk perempuan kepala keluarga, petani, dan pelaku usaha sektor informal—kelompok yang selama ini dianggap ‘berisiko tinggi’ oleh sistem keuangan konvensional.

Satu Desa, Satu Mantri: Mengenal Warga, Menilai Potensi

Sementara itu, Kun Pattikawa dari Bank BRI membagikan cerita tentang program unik yang dilaksanakan sejak 2021: “Satu Desa, Satu Mantri.” Dalam program ini, petugas BRI—disebut mantri—tinggal dan bekerja langsung di tengah masyarakat desa. Mereka bukan sekadar staf bank, tapi juga fasilitator pembangunan ekonomi lokal.

“Mantri kami tahu siapa yang punya kebun cengkeh, siapa yang pandai bikin kerajinan, siapa yang butuh modal tapi malu bicara soal uang,” jelas Kun. “Mereka tidak hanya mencatat angka, tapi memahami konteks.”

Program ini memperpendek jarak antara bank dan rakyat. Dengan tinggal di desa, mantri bisa mengidentifikasi potensi lokal secara langsung, sekaligus membangun kepercayaan. Warga desa pun tidak lagi melihat bank sebagai institusi yang jauh dan rumit, tapi sebagai mitra usaha.

Desa Brilian: Inkubator Inovasi Ekonomi Lokal

Lebih dari sekadar kredit, BRI juga mengembangkan konsep “Desa Brilian”—yakni desa-desa unggulan yang menjadi model inovasi ekonomi berbasis potensi lokal. Konsep ini menggabungkan BUMDes yang aktif, kepemimpinan desa yang responsif, dan dukungan akses pembiayaan dari perbankan.

“Di beberapa desa di Maluku, kami melihat geliat ekonomi yang luar biasa. Tapi sering kali tidak ada instrumen untuk mendukungnya. Melalui Desa Brilian, kami bantu fasilitasi pelatihan digital, manajemen usaha, sampai promosi produk,” tambah Kun.

Program ini menempatkan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, tapi sebagai subjek perubahan. Bank menjadi mitra strategis dalam memperkuat infrastruktur ekonomi lokal.

Membuka Keran, Menyalurkan Harapan

Skema kredit yang lebih inklusif, kehadiran petugas di lapangan, serta pengembangan desa berbasis potensi adalah contoh nyata bahwa perbankan bisa memainkan peran sosial yang lebih kuat. Di forum tersebut, baik BTN maupun BRI menekankan pentingnya transparansi, kolaborasi, dan pendampingan sebagai kunci keberhasilan.

Mereka bukan datang untuk menawarkan produk, tapi untuk mendengar, memahami, dan membangun bersama.

Bagi pelaku usaha kecil di Maluku, kehadiran bank yang inklusif seperti ini bukan hanya membuka keran pembiayaan, tapi juga menyalurkan harapan—bahwa usaha kecil tak lagi sendiri, dan desa bisa tumbuh menjadi pusat kekuatan ekonomi baru. **SS&NH

 

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 03:58:002026-09-05 07:40:16Perbankan untuk Rakyat: Inovasi Pembiayaan UMKM di Timur Indonesia

Dari Dapur ke Rak Swalayan: Tantangan dan Peluang UMKM Menembus Pasar Modern

06/07/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Di dapur-dapur kecil di pelosok Maluku, perempuan dan pemuda menggiling rempah, mengolah ikan, dan mengemas sagu menjadi pangan olahan. Produk-produk itu lahir dari kearifan lokal, tetapi sering kali hanya berakhir di warung tetangga. Bukan karena kualitasnya kalah, tapi karena mereka belum siap menembus tantangan standar pasar modern.

Namun kini, peluang mulai terbuka. Dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang digelar di The Roof Café & Eatery, Kota Ambon, Rabu, 28 Mei 2025, tiga aktor penting memaparkan bagaimana UMKM lokal bisa naik kelas: Hypermart, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hypermart: Membuka Pintu Etalase Pasar Modern

Leonn Glen dari Hypermart Maluku City Mall menyampaikan kabar yang menggembirakan. Retail modern ini tidak hanya membuka pintu bagi produk lokal, tetapi juga secara aktif menyediakan ruang pamer gratis selama 2–3 hari untuk UMKM yang ingin mengenalkan produknya langsung ke pelanggan.

“Setiap hari kami dikunjungi sekitar 1.400–1.600 pelanggan. Di akhir pekan bisa sampai 2.500. Ini peluang luar biasa bagi UMKM lokal,” ujarnya.

Namun Leonn juga mengingatkan, masuk ke pasar modern tidak bisa dengan cara biasa. “Pernah ada produk yang habis di hari pertama karena antusiasme pembeli, tapi hari kedua dan ketiga tidak ada pasokan tambahan. Konsistensi suplai itu penting,” jelasnya.

Hypermart siap menjadi mitra, tetapi UMKM harus siap dengan standar pasokan, kualitas, dan legalitas. Di sinilah tantangan terbesar berada.

Tantangan Legalitas dan Standar Produksi

Masalah paling sering muncul justru di balik dapur—mulai dari kualitas air, kebersihan tempat produksi, hingga pengemasan dan label. Dalam sesi tanya jawab, Kak Ella dari Walang Perempuan menanyakan soal produksi sagu dan bagaimana UMKM bisa memenuhi standar kesehatan pangan.

Tamran Ismail dari BPOM menjawab dengan gamblang: “Dalam produksi pangan olahan, keamanan tidak hanya dinilai dari produk akhir. Tapi dari seluruh proses, mulai dari bahan baku, air yang digunakan, hingga cara penyimpanan.”
Air, misalnya, harus memenuhi standar kebersihan tertentu. Tempat produksi harus terpisah dari dapur rumah tangga biasa. Label produk harus menyertakan informasi gizi, komposisi, dan nomor izin edar.

Banyak pelaku UMKM tersandung di tahap ini, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Dukungan Pemerintah: Sertifikasi dan Teknologi

Untuk itu, peran pemerintah sangat krusial. Edward J. D dari BSPJI Ambon menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan berbagai layanan pendampingan teknis dan pembiayaan untuk pengembangan industri kecil, termasuk skema DAPATI—Dana Pengembangan Teknologi Industri.
“DAPATI memberikan skema bantuan 75% dari pemerintah dan 25% dari pelaku usaha,” ujar Edward. “Kami juga bantu dengan sertifikasi halal dan SNI, karena BSPJI adalah laboratorium resmi BPJPH.”

Sementara BPOM memiliki program “Desa Kenali Kelompok UMKM”, yang membantu pelaku usaha mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB), NPWP, dan izin edar secara digital. Semua proses bisa diakses secara daring melalui sistem e-registrasi.

Dengan kombinasi dukungan teknis dari BSPJI dan BPOM, serta akses pasar dari Hypermart, terbuka jalur konkret bagi UMKM lokal untuk tidak hanya tumbuh—tetapi juga bertahan dan bersaing.

Dari Maluku untuk Pasar yang Lebih Luas

Pintu sudah terbuka, tapi tangga masih harus dilalui satu per satu. UMKM lokal di Maluku kini berada di persimpangan: apakah akan tetap bermain di pasar terbatas, atau siap melangkah ke pasar yang lebih luas dengan segala tuntutannya?

Hypermart, BPOM, dan BSPJI menunjukkan bahwa ekosistem untuk mendukung UMKM sebenarnya sudah terbentuk. Yang dibutuhkan sekarang adalah kerja kolaboratif—pemberdayaan dari sisi kapasitas, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen untuk menaati standar mutu.

Dari dapur di desa hingga rak swalayan di kota, produk lokal Maluku kini punya peluang untuk bersaing. Yang dibutuhkan bukan hanya semangat, tapi juga kemampuan memenuhi standar dan keberanian untuk tumbuh. **SS&NH

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-07-06 03:40:002026-09-05 07:44:05Dari Dapur ke Rak Swalayan: Tantangan dan Peluang UMKM Menembus Pasar Modern

Membangun Jembatan di Kepulauan: Kisah Baileo Maluku Merancang Masa Depan

06/05/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan modern, sebuah organisasi di Ambon berusaha menata ulang fondasi kerja mereka sambil mempertahankan nilai-nilai lokal Maluku

Sore itu, 27 Mei 2025, ruang kantor Baileo Maluku terasa lebih ramai dari biasanya. Tujuh orang duduk melingkar, dokumen bertebaran di meja, dan laptop terbuka menampilkan presentasi yang akan menentukan langkah besar organisasi ini ke depan. Stevi Talahatu, salah satu pengurus Baileo Maluku, membuka diskusi dengan nada serius namun penuh harapan.

“Kita perlu bicara jujur hari ini,” katanya memulai pembicaraan yang akan berlangsung lebih dari dua jam. Di hadapannya duduk rekan-rekan dari PIRAC dan KEHATI, mitra yang telah menemani perjalanan panjang Baileo Maluku dalam mengembangkan komunitas di kepulauan.

Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin. Esok harinya, Baileo Maluku akan menghadapi momen penting: forum kolaborasi multi-sektor yang menghadirkan perusahaan CSR, BUMN, dan lembaga perbankan. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

Menata Ulang Fondasi: Dari Satu Dokumen Menjadi Enam Pilar
Seperti rumah yang direnovasi, Baileo Maluku memutuskan untuk membongkar total sistem Standard Operating Procedures (SOP) mereka. Dokumen yang selama ini menjadi satu kesatuan akan dipecah menjadi enam bagian yang lebih spesifik dan fungsional.

“Selama ini SOP kita seperti lemari yang isinya campur aduk,” jelas Stevi dengan analogi sederhana. “Pakaian, sepatu, dokumen, semua jadi satu. Sekarang kita mau bikin lemari dengan sekat-sekat yang jelas.”

Keenam bagian itu akan mencakup kepegawaian, pengelolaan data, perencanaan program, pelaksanaan, monitoring evaluasi, hingga pengelolaan keuangan. Langkah ini terinspirasi dari pengalaman bekerja sama dengan HIVOS, mitra dari Belanda, yang menuntut SOP tersendiri dengan standar internasional.

Paulina Uktolseja, Bendahara Baileo Maluku, mengangguk setuju. Perempuan yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pemberdayaan masyarakat ini paham betul pentingnya sistem yang teratur. “Di Maluku, kita terbiasa kerja dengan perasaan. Tapi kalau mau berkolaborasi dengan lembaga besar, kita harus bisa bicara dengan bahasa mereka juga.”

Realita Pahit CSR di Ambon: Ketika Pintu Mulai Tertutup
Ketika pembicaraan beralih ke strategi pendanaan, suasana ruangan sedikit meredup. Paulina memaparkan kenyataan yang dihadapi organisasi masyarakat sipil di Ambon: akses ke dana Corporate Social Responsibility (CSR) semakin sulit.
“Dulu, perusahaan masih mau ngobrol langsung dengan kita,” kenang Paulina. “Sekarang, mereka lebih pilih salurkan dana melalui pemerintah kota atau provinsi. Yang bisa kita dapat paling Rp25-50 juta, itupun untuk bikin bak sampah atau taman kecil.”

Nor Hiqmah dari PIRAC kemudian berbagi perspektif yang lebih luas. Menurutnya, lembaga besar seperti Greenpeace dan WWF masih berhasil menggalang dana publik melalui program kembalian di retail seperti Indomaret dan Alfamidi. “Model seperti ini bisa direplikasi, tapi butuh strategi komunikasi yang kuat,” sarannya.

Stevi mengakui dengan jujur bahwa Baileo Maluku memang belum berpengalaman membangun relasi strategis dengan lembaga filantropi. “Kita masih belajar. Selama ini kerja ya kerja saja, tidak pernah memikirkan bagaimana membangun jaringan yang sistematis.”

Pelajaran dari Bakso Ikan Tuna yang Tak Laku
Diskusi kemudian bergeser ke pengalaman lapangan yang lebih personal. Salah satu program yang paling diingat adalah upaya pemberdayaan perempuan melalui produksi bakso ikan tuna di Pulau Nusa Laut.

“Secara sosial, program itu bagus. Ibu-ibu antusias, skillnya meningkat,” cerita Stevi. “Tapi pasar tidak menyerap. Belum lagi kalau cuaca buruk, listrik mati, produksi langsung terhenti.”

Program ini menjadi cermin tantangan yang dihadapi banyak inisiatif pemberdayaan di daerah kepulauan. Infrastruktur yang terbatas, akses pasar yang sulit, dan ketergantungan pada faktor eksternal membuat program-program sosial sulit berkelanjutan secara ekonomi.

Lebih dari itu, budaya kerja kolektif di masyarakat Maluku ternyata memiliki karakteristik unik. “Orang Maluku itu lebih cocok kerja koordinatif, bukan operasional bersama,” refleksi Stevi. “Setiap orang punya alat sendiri, punya tanggung jawab sendiri, tapi tetap dalam satu wadah koordinasi.”

Evaluasi Jujur: Ketika Keluarga dan Bisnis Bercampur
Momen paling intens dari diskusi terjadi ketika tim membahas evaluasi internal organisasi. Dengan keberanian yang patut diacungi jempol, mereka mengakui kesalahan-kesalahan masa lalu.

“Selama ini kita sering campur antara manajemen program dan bisnis,” akui Stevi. “Keputusan juga terlalu dipengaruhi hubungan kekeluargaan. Ada kasus peminjaman dana internal yang akhirnya jadi pelajaran besar.”

Sarah R. Talaksaru, yang turut hadir dalam diskusi, menambahkan bahwa pengalaman tersebut justru memperkuat komitmen untuk memisahkan fungsi bisnis dan program. “Kita harus profesional, tapi tetap manusiawi. Sistemnya yang harus kuat, bukan orangnya yang dikuatkan.”

Cahaya Harapan dari Desa Mahu
Di tengah berbagai tantangan, ada satu kisah sukses yang membuat mata peserta diskusi berbinar: pendampingan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) di Desa Mahu, Saparua Timur. “Banyak desa di Maluku Tengah belum punya Perdes yang sah karena prosesnya dilakukan pihak luar tanpa melibatkan masyarakat,” jelas Stevi. “Tapi di Mahu berbeda. Kita libatkan masyarakat dari awal sampai akhir.”

Hasilnya mencengangkan. Camat setempat tidak hanya mengapresiasi prosesnya, tetapi juga merekomendasikan model ini untuk desa-desa lain. “Ini bukti bahwa penguatan komunitas harus dimulai dari pelibatan aktif dan pemulihan tata kelola lokal,” tambah Paulina dengan bangga.

Epilog: Jembatan untuk Masa Depan
Ketika peserta diskusi mulai membereskan dokumen dan menutup laptop, suasana ruangan terasa berbeda. Ada optimisme baru, meski disertai kesadaran akan tantangan besar di depan mata.

Baileo Maluku bukan sekadar organisasi pemberdayaan masyarakat biasa. Mereka adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai lokal Maluku dan tuntutan global, antara idealisme sosial dan realitas ekonomi.

Perjalanan mereka mencerminkan pergulatan banyak organisasi masyarakat sipil di Indonesia: bagaimana tetap relevan di tengah perubahan zaman, bagaimana menjaga misi sosial sambil membangun keberlanjutan ekonomi, dan bagaimana belajar dari kegagalan untuk melangkah lebih mantap ke masa depan.

Sore itu, di kantor kecil Baileo Maluku, bukan hanya rencana strategis yang disusun. Harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi masyarakat kepulauan juga tengah dirajut, satu langkah pada satu waktu. **SS&NH

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-05-06 03:11:002026-09-05 07:44:16Membangun Jembatan di Kepulauan: Kisah Baileo Maluku Merancang Masa Depan

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

06/02/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Membangun Kemandirian dari Kepingan yang Terluka:

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

Di tengah hiruk-pikuk Kota Ambon yang dikelilingi laut biru Maluku, sebuah yayasan kecil namun berpengaruh telah berdiri tegak selama hampir dua dekade, Yayasan GASIRA. Berdiri sejak 2007, Gasira tidak hanya menjadi rumah aman bagi para penyintas kekerasan, tetapi juga menjadi mercusuar harapan bagi transformasi ekonomi perempuan di wilayah kepulauan.

Lebih dari Sekadar Rumah Aman

Membuka diskusi dalam visitasi dampingan bersama KEHATI dan PIRAC pada Senin, 26 Mei 2025, Lies Marantika, Direktur Eksekutif GASIRA, menyampaikan data yang mencengangkan: sebanyak 39 kasus kekerasan seksual ditangani tahun lalu, dengan biaya hampir 2 juta rupiah per korban. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah panjang tentang proses pemulihan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis, tetapi juga berfokus pada keberlanjutan ekonomi para penyintas.

GASIRA telah berkembang jauh dari sekadar menyediakan layanan rumah aman. Sejak 2012, organisasi ini telah mengintegrasikan pendekatan holistik yang mencakup pemeriksaan kesehatan awal, layanan psikologis dari RSKJ dan RS Bhayangkara, hingga rujukan ke dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing kasus. Yang membedakan GASIRA adalah komitmennya pada penguatan kapasitas, memberikan pelatihan HAM, gender, konseling paralegal, dan advokasi kepada para penyintas.

Menjangkau Kepulauan Melalui Kemitraan Lokal

Geografis Maluku yang berupa kepulauan tidak menjadi penghalang bagi GASIRA untuk menjangkau komunitas terpencil. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, mereka bekerja sama dengan 30 wilayah kecil di Saparua, Nusa Laut, dan Haruko. Yang menarik, GASIRA tidak mengandalkan struktur formal semata, tetapi melibatkan lembaga adat dan keagamaan sebagai garda terdepan di daerah yang tidak memiliki organisasi formal.

“Kami melatih 8-10 orang dari tiap desa agar mampu memberikan pendampingan secara mandiri,” jelas Marantika. Pendekatan ini memungkinkan intervensi tidak lagi bergantung pada GASIRA secara langsung, melainkan melalui kader-kader lokal yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai.

Inovasi Pendidikan: Dari Ruang Kelas hingga Kampanye Kreatif

Program pendidikan seksualitas dan gender untuk remaja SMP menjadi salah satu inovasi GASIRA yang patut dicontoh. Dengan melibatkan guru dari tiga bidang studi—Bimbingan Konseling, Biologi, dan Agama—program ini memastikan pemahaman yang utuh tentang tubuh, nilai-nilai agama, dan pendampingan psikososial.

Kreativitas juga menjadi kunci dalam kampanye mereka. Lomba mading bertema kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan ruang ekspresi bagi remaja untuk memahami isu-isu sensitif melalui medium yang mereka sukai.

Dari Trauma Menuju Kemandirian Ekonomi

Transformasi paling menginspirasi datang dari program pemberdayaan ekonomi yang menargetkan perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan, dan perempuan miskin. Mie kelor dan sambal ikan julung (ikan roa) menjadi produk unggulan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri para penyintas.

Vuadi Genna Mailoa, Staff Advokasi dan Pendidikan GASIRA, menguraikan rencana ambisius mereka dalam proposal “Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan: Bimbingan Teknis Kewirausahaan Inklusif bagi Penyintas Kekerasan di Kota Ambon.” Program ini akan memberikan pembimbingan teknis mulai dari dasar-dasar memulai usaha, Bisnis Model Canvas, hingga strategi marketing.

“Tidak semua penyintas mengerti teknologi, jadi kami mulai dengan pendekatan door-to-door sebelum akhirnya mereka bisa beralih ke digital marketing,” ungkap Genna, menunjukkan kepekaan GASIRA terhadap kondisi riil para penyintas.

Sinergi Multi-Sektor: Kunci Keberlanjutan

Yang membuat GASIRA berbeda adalah kemampuannya membangun jaringan kolaborasi yang solid. Dari dukungan internasional seperti UN Women, SDGs Indonesia, New Zealand Embassy, dan Wilde Ganzen, hingga dukungan komunitas diaspora Perempuan Maluku di Belanda untuk kebutuhan institusional.

Pada pendampingan kunjungan lapangan di Kota Ambon, Tim PIRAC menggagas diskusi kolaborasi multi sektor yang melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta. Beberapa Perusahaan seperti PT Matahari Putra TBK, BRI, BTN, pemerintah seperti BP POM, BSPJI dan lembaga filantropi seperti Dompet Duafa dan Human Initiative telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan diskusi kolaborasi ini.

Nor Hiqmah dari PIRAC menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran: “Kami perlu memetakan minat dan fokus CSR masing-masing perusahaan, kemudian merancang kolaborasi yang saling menguntungkan.”

Visi Berkelanjutan: Dari Lokal Menuju Nasional

Strategi GASIRA untuk mendorong pemanfaatan produk lokal seperti mie kelor sebagai Pangan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting menunjukkan visi jangka panjang mereka. Dengan menyesuaikan proposal agar selaras dengan indikator SDGs dan target CSR perusahaan, GASIRA bersiap menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.

Kesiapan teknis rumah produksi untuk memenuhi standar PIRT dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar produk dapat menembus pasar yang lebih luas dan berdaya saing.

Masa Depan yang Penuh Harapan

Melalui perpaduan layanan pemulihan trauma, pendidikan preventif, dan pemberdayaan ekonomi, GASIRA telah membuktikan bahwa penyintas kekerasan tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka sendiri. Dengan dukungan kolaborasi multi-sektor yang semakin menguat, visi untuk menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan bagi perempuan penyintas di Maluku tampak semakin nyata.

Di tengah tantangan geografis kepulauan dan kompleksitas isu kekerasan berbasis gender, GASIRA telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, komitmen yang kuat, dan kemitraan strategis, transformasi nyata bukanlah sekadar impian. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari kepingan yang terluka, bisa tumbuh kekuatan yang mengubah tidak hanya nasib individu, tetapi juga masa depan komunitas. (*SS&NH)

Membangun Kemandirian dari Kepingan yang Terluka:

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

Di tengah hiruk-pikuk Kota Ambon yang dikelilingi laut biru Maluku, sebuah yayasan kecil namun berpengaruh telah berdiri tegak selama hampir dua dekade, Yayasan GASIRA. Berdiri sejak 2007, Gasira tidak hanya menjadi rumah aman bagi para penyintas kekerasan, tetapi juga menjadi mercusuar harapan bagi transformasi ekonomi perempuan di wilayah kepulauan.

Lebih dari Sekadar Rumah Aman

Membuka diskusi dalam visitasi dampingan bersama KEHATI dan PIRAC pada Senin, 26 Mei 2025, Lies Marantika, Direktur Eksekutif GASIRA, menyampaikan data yang mencengangkan: sebanyak 39 kasus kekerasan seksual ditangani tahun lalu, dengan biaya hampir 2 juta rupiah per korban. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah panjang tentang proses pemulihan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis, tetapi juga berfokus pada keberlanjutan ekonomi para penyintas.

GASIRA telah berkembang jauh dari sekadar menyediakan layanan rumah aman. Sejak 2012, organisasi ini telah mengintegrasikan pendekatan holistik yang mencakup pemeriksaan kesehatan awal, layanan psikologis dari RSKJ dan RS Bhayangkara, hingga rujukan ke dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing kasus. Yang membedakan GASIRA adalah komitmennya pada penguatan kapasitas, memberikan pelatihan HAM, gender, konseling paralegal, dan advokasi kepada para penyintas.

Menjangkau Kepulauan Melalui Kemitraan Lokal

Geografis Maluku yang berupa kepulauan tidak menjadi penghalang bagi GASIRA untuk menjangkau komunitas terpencil. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, mereka bekerja sama dengan 30 wilayah kecil di Saparua, Nusa Laut, dan Haruko. Yang menarik, GASIRA tidak mengandalkan struktur formal semata, tetapi melibatkan lembaga adat dan keagamaan sebagai garda terdepan di daerah yang tidak memiliki organisasi formal.

“Kami melatih 8-10 orang dari tiap desa agar mampu memberikan pendampingan secara mandiri,” jelas Marantika. Pendekatan ini memungkinkan intervensi tidak lagi bergantung pada GASIRA secara langsung, melainkan melalui kader-kader lokal yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai.

Inovasi Pendidikan: Dari Ruang Kelas hingga Kampanye Kreatif

Program pendidikan seksualitas dan gender untuk remaja SMP menjadi salah satu inovasi GASIRA yang patut dicontoh. Dengan melibatkan guru dari tiga bidang studi—Bimbingan Konseling, Biologi, dan Agama—program ini memastikan pemahaman yang utuh tentang tubuh, nilai-nilai agama, dan pendampingan psikososial.

Kreativitas juga menjadi kunci dalam kampanye mereka. Lomba mading bertema kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan ruang ekspresi bagi remaja untuk memahami isu-isu sensitif melalui medium yang mereka sukai.

Dari Trauma Menuju Kemandirian Ekonomi

Transformasi paling menginspirasi datang dari program pemberdayaan ekonomi yang menargetkan perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan, dan perempuan miskin. Mie kelor dan sambal ikan julung (ikan roa) menjadi produk unggulan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri para penyintas.

Vuadi Genna Mailoa, Staff Advokasi dan Pendidikan GASIRA, menguraikan rencana ambisius mereka dalam proposal “Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan: Bimbingan Teknis Kewirausahaan Inklusif bagi Penyintas Kekerasan di Kota Ambon.” Program ini akan memberikan pembimbingan teknis mulai dari dasar-dasar memulai usaha, Bisnis Model Canvas, hingga strategi marketing.

“Tidak semua penyintas mengerti teknologi, jadi kami mulai dengan pendekatan door-to-door sebelum akhirnya mereka bisa beralih ke digital marketing,” ungkap Genna, menunjukkan kepekaan GASIRA terhadap kondisi riil para penyintas.

Sinergi Multi-Sektor: Kunci Keberlanjutan

Yang membuat GASIRA berbeda adalah kemampuannya membangun jaringan kolaborasi yang solid. Dari dukungan internasional seperti UN Women, SDGs Indonesia, New Zealand Embassy, dan Wilde Ganzen, hingga dukungan komunitas diaspora Perempuan Maluku di Belanda untuk kebutuhan institusional.

Pada pendampingan kunjungan lapangan di Kota Ambon, Tim PIRAC menggagas diskusi kolaborasi multi sektor yang melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta. Beberapa Perusahaan seperti PT Matahari Putra TBK, BRI, BTN, pemerintah seperti BP POM, BSPJI dan lembaga filantropi seperti Dompet Duafa dan Human Initiative telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan diskusi kolaborasi ini.

Nor Hiqmah dari PIRAC menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran: “Kami perlu memetakan minat dan fokus CSR masing-masing perusahaan, kemudian merancang kolaborasi yang saling menguntungkan.”

Visi Berkelanjutan: Dari Lokal Menuju Nasional

Strategi GASIRA untuk mendorong pemanfaatan produk lokal seperti mie kelor sebagai Pangan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting menunjukkan visi jangka panjang mereka. Dengan menyesuaikan proposal agar selaras dengan indikator SDGs dan target CSR perusahaan, GASIRA bersiap menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.

Kesiapan teknis rumah produksi untuk memenuhi standar PIRT dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar produk dapat menembus pasar yang lebih luas dan berdaya saing.

Masa Depan yang Penuh Harapan

Melalui perpaduan layanan pemulihan trauma, pendidikan preventif, dan pemberdayaan ekonomi, GASIRA telah membuktikan bahwa penyintas kekerasan tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka sendiri. Dengan dukungan kolaborasi multi-sektor yang semakin menguat, visi untuk menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan bagi perempuan penyintas di Maluku tampak semakin nyata.

Di tengah tantangan geografis kepulauan dan kompleksitas isu kekerasan berbasis gender, GASIRA telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, komitmen yang kuat, dan kemitraan strategis, transformasi nyata bukanlah sekadar impian. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari kepingan yang terluka, bisa tumbuh kekuatan yang mengubah tidak hanya nasib individu, tetapi juga masa depan komunitas. (*SS&NH)

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-02-06 09:55:002026-09-05 07:44:51Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku
Page 1 of 212
Search Search

Recent Posts

  • Merajut Kolaborasi, Mendanai Masa Depan: Inovasi Filantropi untuk Pendidikan Indonesia
  • Potret Asa Lebah Sempage : Di Tengah Realitas, Warga Menjaga Harapan akan Hidup yang Lebih Sejahtera
  • Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
  • Aliansi Filantropi Desak Pemerintah Lindungi, Bukan Batasi, Sumbangan Bencana
  • Menuju Era Baru Filantropi: Saatnya Regulasi Usang Penggalangan Dana Berubah

Recent Comments

    Archives

    • August 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • February 2026
    • December 2025
    • September 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • June 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • October 2023
    • July 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • August 2021
    • September 2020
    • June 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • April 2019
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • December 2018
    • October 2018
    • April 2018
    • November 2016
    • August 2016
    • June 2016
    • May 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • October 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • June 2013
    • February 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • August 2012
    • July 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • February 2012
    • January 2012

    Categories

    • Advokasi Kebijakan
    • Berita Kegiatan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Riset dan Kajian Kebijakan
    • Uncategorized

    Alamat

    Jl. M. Ali No. 2 Tanah Baru, Beji, Depok Jawa Barat Indonesia

    © Copyright - PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center - Enfold WordPress Theme by Kriesi
    Scroll to top Scroll to top Scroll to top