PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center
  • Depan
  • Profil PIRAC
    • Tentang PIRAC
    • Struktur Organisasi PIRAC
  • Program Kerja
    • Riset dan Kajian
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Advokasi Kebijakan
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
  • Berita Kegiatan
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Membangun Jembatan di Kepulauan: Kisah Baileo Maluku Merancang Masa Depan

06/05/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan modern, sebuah organisasi di Ambon berusaha menata ulang fondasi kerja mereka sambil mempertahankan nilai-nilai lokal Maluku

Sore itu, 27 Mei 2025, ruang kantor Baileo Maluku terasa lebih ramai dari biasanya. Tujuh orang duduk melingkar, dokumen bertebaran di meja, dan laptop terbuka menampilkan presentasi yang akan menentukan langkah besar organisasi ini ke depan. Stevi Talahatu, salah satu pengurus Baileo Maluku, membuka diskusi dengan nada serius namun penuh harapan.

“Kita perlu bicara jujur hari ini,” katanya memulai pembicaraan yang akan berlangsung lebih dari dua jam. Di hadapannya duduk rekan-rekan dari PIRAC dan KEHATI, mitra yang telah menemani perjalanan panjang Baileo Maluku dalam mengembangkan komunitas di kepulauan.

Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin. Esok harinya, Baileo Maluku akan menghadapi momen penting: forum kolaborasi multi-sektor yang menghadirkan perusahaan CSR, BUMN, dan lembaga perbankan. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

Menata Ulang Fondasi: Dari Satu Dokumen Menjadi Enam Pilar
Seperti rumah yang direnovasi, Baileo Maluku memutuskan untuk membongkar total sistem Standard Operating Procedures (SOP) mereka. Dokumen yang selama ini menjadi satu kesatuan akan dipecah menjadi enam bagian yang lebih spesifik dan fungsional.

“Selama ini SOP kita seperti lemari yang isinya campur aduk,” jelas Stevi dengan analogi sederhana. “Pakaian, sepatu, dokumen, semua jadi satu. Sekarang kita mau bikin lemari dengan sekat-sekat yang jelas.”

Keenam bagian itu akan mencakup kepegawaian, pengelolaan data, perencanaan program, pelaksanaan, monitoring evaluasi, hingga pengelolaan keuangan. Langkah ini terinspirasi dari pengalaman bekerja sama dengan HIVOS, mitra dari Belanda, yang menuntut SOP tersendiri dengan standar internasional.

Paulina Uktolseja, Bendahara Baileo Maluku, mengangguk setuju. Perempuan yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pemberdayaan masyarakat ini paham betul pentingnya sistem yang teratur. “Di Maluku, kita terbiasa kerja dengan perasaan. Tapi kalau mau berkolaborasi dengan lembaga besar, kita harus bisa bicara dengan bahasa mereka juga.”

Realita Pahit CSR di Ambon: Ketika Pintu Mulai Tertutup
Ketika pembicaraan beralih ke strategi pendanaan, suasana ruangan sedikit meredup. Paulina memaparkan kenyataan yang dihadapi organisasi masyarakat sipil di Ambon: akses ke dana Corporate Social Responsibility (CSR) semakin sulit.
“Dulu, perusahaan masih mau ngobrol langsung dengan kita,” kenang Paulina. “Sekarang, mereka lebih pilih salurkan dana melalui pemerintah kota atau provinsi. Yang bisa kita dapat paling Rp25-50 juta, itupun untuk bikin bak sampah atau taman kecil.”

Nor Hiqmah dari PIRAC kemudian berbagi perspektif yang lebih luas. Menurutnya, lembaga besar seperti Greenpeace dan WWF masih berhasil menggalang dana publik melalui program kembalian di retail seperti Indomaret dan Alfamidi. “Model seperti ini bisa direplikasi, tapi butuh strategi komunikasi yang kuat,” sarannya.

Stevi mengakui dengan jujur bahwa Baileo Maluku memang belum berpengalaman membangun relasi strategis dengan lembaga filantropi. “Kita masih belajar. Selama ini kerja ya kerja saja, tidak pernah memikirkan bagaimana membangun jaringan yang sistematis.”

Pelajaran dari Bakso Ikan Tuna yang Tak Laku
Diskusi kemudian bergeser ke pengalaman lapangan yang lebih personal. Salah satu program yang paling diingat adalah upaya pemberdayaan perempuan melalui produksi bakso ikan tuna di Pulau Nusa Laut.

“Secara sosial, program itu bagus. Ibu-ibu antusias, skillnya meningkat,” cerita Stevi. “Tapi pasar tidak menyerap. Belum lagi kalau cuaca buruk, listrik mati, produksi langsung terhenti.”

Program ini menjadi cermin tantangan yang dihadapi banyak inisiatif pemberdayaan di daerah kepulauan. Infrastruktur yang terbatas, akses pasar yang sulit, dan ketergantungan pada faktor eksternal membuat program-program sosial sulit berkelanjutan secara ekonomi.

Lebih dari itu, budaya kerja kolektif di masyarakat Maluku ternyata memiliki karakteristik unik. “Orang Maluku itu lebih cocok kerja koordinatif, bukan operasional bersama,” refleksi Stevi. “Setiap orang punya alat sendiri, punya tanggung jawab sendiri, tapi tetap dalam satu wadah koordinasi.”

Evaluasi Jujur: Ketika Keluarga dan Bisnis Bercampur
Momen paling intens dari diskusi terjadi ketika tim membahas evaluasi internal organisasi. Dengan keberanian yang patut diacungi jempol, mereka mengakui kesalahan-kesalahan masa lalu.

“Selama ini kita sering campur antara manajemen program dan bisnis,” akui Stevi. “Keputusan juga terlalu dipengaruhi hubungan kekeluargaan. Ada kasus peminjaman dana internal yang akhirnya jadi pelajaran besar.”

Sarah R. Talaksaru, yang turut hadir dalam diskusi, menambahkan bahwa pengalaman tersebut justru memperkuat komitmen untuk memisahkan fungsi bisnis dan program. “Kita harus profesional, tapi tetap manusiawi. Sistemnya yang harus kuat, bukan orangnya yang dikuatkan.”

Cahaya Harapan dari Desa Mahu
Di tengah berbagai tantangan, ada satu kisah sukses yang membuat mata peserta diskusi berbinar: pendampingan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) di Desa Mahu, Saparua Timur. “Banyak desa di Maluku Tengah belum punya Perdes yang sah karena prosesnya dilakukan pihak luar tanpa melibatkan masyarakat,” jelas Stevi. “Tapi di Mahu berbeda. Kita libatkan masyarakat dari awal sampai akhir.”

Hasilnya mencengangkan. Camat setempat tidak hanya mengapresiasi prosesnya, tetapi juga merekomendasikan model ini untuk desa-desa lain. “Ini bukti bahwa penguatan komunitas harus dimulai dari pelibatan aktif dan pemulihan tata kelola lokal,” tambah Paulina dengan bangga.

Epilog: Jembatan untuk Masa Depan
Ketika peserta diskusi mulai membereskan dokumen dan menutup laptop, suasana ruangan terasa berbeda. Ada optimisme baru, meski disertai kesadaran akan tantangan besar di depan mata.

Baileo Maluku bukan sekadar organisasi pemberdayaan masyarakat biasa. Mereka adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai lokal Maluku dan tuntutan global, antara idealisme sosial dan realitas ekonomi.

Perjalanan mereka mencerminkan pergulatan banyak organisasi masyarakat sipil di Indonesia: bagaimana tetap relevan di tengah perubahan zaman, bagaimana menjaga misi sosial sambil membangun keberlanjutan ekonomi, dan bagaimana belajar dari kegagalan untuk melangkah lebih mantap ke masa depan.

Sore itu, di kantor kecil Baileo Maluku, bukan hanya rencana strategis yang disusun. Harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi masyarakat kepulauan juga tengah dirajut, satu langkah pada satu waktu. **SS&NH

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-05-06 03:11:002026-09-05 07:44:16Membangun Jembatan di Kepulauan: Kisah Baileo Maluku Merancang Masa Depan

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

06/02/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

Membangun Kemandirian dari Kepingan yang Terluka:

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

Di tengah hiruk-pikuk Kota Ambon yang dikelilingi laut biru Maluku, sebuah yayasan kecil namun berpengaruh telah berdiri tegak selama hampir dua dekade, Yayasan GASIRA. Berdiri sejak 2007, Gasira tidak hanya menjadi rumah aman bagi para penyintas kekerasan, tetapi juga menjadi mercusuar harapan bagi transformasi ekonomi perempuan di wilayah kepulauan.

Lebih dari Sekadar Rumah Aman

Membuka diskusi dalam visitasi dampingan bersama KEHATI dan PIRAC pada Senin, 26 Mei 2025, Lies Marantika, Direktur Eksekutif GASIRA, menyampaikan data yang mencengangkan: sebanyak 39 kasus kekerasan seksual ditangani tahun lalu, dengan biaya hampir 2 juta rupiah per korban. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah panjang tentang proses pemulihan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis, tetapi juga berfokus pada keberlanjutan ekonomi para penyintas.

GASIRA telah berkembang jauh dari sekadar menyediakan layanan rumah aman. Sejak 2012, organisasi ini telah mengintegrasikan pendekatan holistik yang mencakup pemeriksaan kesehatan awal, layanan psikologis dari RSKJ dan RS Bhayangkara, hingga rujukan ke dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing kasus. Yang membedakan GASIRA adalah komitmennya pada penguatan kapasitas, memberikan pelatihan HAM, gender, konseling paralegal, dan advokasi kepada para penyintas.

Menjangkau Kepulauan Melalui Kemitraan Lokal

Geografis Maluku yang berupa kepulauan tidak menjadi penghalang bagi GASIRA untuk menjangkau komunitas terpencil. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, mereka bekerja sama dengan 30 wilayah kecil di Saparua, Nusa Laut, dan Haruko. Yang menarik, GASIRA tidak mengandalkan struktur formal semata, tetapi melibatkan lembaga adat dan keagamaan sebagai garda terdepan di daerah yang tidak memiliki organisasi formal.

“Kami melatih 8-10 orang dari tiap desa agar mampu memberikan pendampingan secara mandiri,” jelas Marantika. Pendekatan ini memungkinkan intervensi tidak lagi bergantung pada GASIRA secara langsung, melainkan melalui kader-kader lokal yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai.

Inovasi Pendidikan: Dari Ruang Kelas hingga Kampanye Kreatif

Program pendidikan seksualitas dan gender untuk remaja SMP menjadi salah satu inovasi GASIRA yang patut dicontoh. Dengan melibatkan guru dari tiga bidang studi—Bimbingan Konseling, Biologi, dan Agama—program ini memastikan pemahaman yang utuh tentang tubuh, nilai-nilai agama, dan pendampingan psikososial.

Kreativitas juga menjadi kunci dalam kampanye mereka. Lomba mading bertema kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan ruang ekspresi bagi remaja untuk memahami isu-isu sensitif melalui medium yang mereka sukai.

Dari Trauma Menuju Kemandirian Ekonomi

Transformasi paling menginspirasi datang dari program pemberdayaan ekonomi yang menargetkan perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan, dan perempuan miskin. Mie kelor dan sambal ikan julung (ikan roa) menjadi produk unggulan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri para penyintas.

Vuadi Genna Mailoa, Staff Advokasi dan Pendidikan GASIRA, menguraikan rencana ambisius mereka dalam proposal “Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan: Bimbingan Teknis Kewirausahaan Inklusif bagi Penyintas Kekerasan di Kota Ambon.” Program ini akan memberikan pembimbingan teknis mulai dari dasar-dasar memulai usaha, Bisnis Model Canvas, hingga strategi marketing.

“Tidak semua penyintas mengerti teknologi, jadi kami mulai dengan pendekatan door-to-door sebelum akhirnya mereka bisa beralih ke digital marketing,” ungkap Genna, menunjukkan kepekaan GASIRA terhadap kondisi riil para penyintas.

Sinergi Multi-Sektor: Kunci Keberlanjutan

Yang membuat GASIRA berbeda adalah kemampuannya membangun jaringan kolaborasi yang solid. Dari dukungan internasional seperti UN Women, SDGs Indonesia, New Zealand Embassy, dan Wilde Ganzen, hingga dukungan komunitas diaspora Perempuan Maluku di Belanda untuk kebutuhan institusional.

Pada pendampingan kunjungan lapangan di Kota Ambon, Tim PIRAC menggagas diskusi kolaborasi multi sektor yang melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta. Beberapa Perusahaan seperti PT Matahari Putra TBK, BRI, BTN, pemerintah seperti BP POM, BSPJI dan lembaga filantropi seperti Dompet Duafa dan Human Initiative telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan diskusi kolaborasi ini.

Nor Hiqmah dari PIRAC menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran: “Kami perlu memetakan minat dan fokus CSR masing-masing perusahaan, kemudian merancang kolaborasi yang saling menguntungkan.”

Visi Berkelanjutan: Dari Lokal Menuju Nasional

Strategi GASIRA untuk mendorong pemanfaatan produk lokal seperti mie kelor sebagai Pangan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting menunjukkan visi jangka panjang mereka. Dengan menyesuaikan proposal agar selaras dengan indikator SDGs dan target CSR perusahaan, GASIRA bersiap menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.

Kesiapan teknis rumah produksi untuk memenuhi standar PIRT dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar produk dapat menembus pasar yang lebih luas dan berdaya saing.

Masa Depan yang Penuh Harapan

Melalui perpaduan layanan pemulihan trauma, pendidikan preventif, dan pemberdayaan ekonomi, GASIRA telah membuktikan bahwa penyintas kekerasan tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka sendiri. Dengan dukungan kolaborasi multi-sektor yang semakin menguat, visi untuk menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan bagi perempuan penyintas di Maluku tampak semakin nyata.

Di tengah tantangan geografis kepulauan dan kompleksitas isu kekerasan berbasis gender, GASIRA telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, komitmen yang kuat, dan kemitraan strategis, transformasi nyata bukanlah sekadar impian. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari kepingan yang terluka, bisa tumbuh kekuatan yang mengubah tidak hanya nasib individu, tetapi juga masa depan komunitas. (*SS&NH)

Membangun Kemandirian dari Kepingan yang Terluka:

Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

Di tengah hiruk-pikuk Kota Ambon yang dikelilingi laut biru Maluku, sebuah yayasan kecil namun berpengaruh telah berdiri tegak selama hampir dua dekade, Yayasan GASIRA. Berdiri sejak 2007, Gasira tidak hanya menjadi rumah aman bagi para penyintas kekerasan, tetapi juga menjadi mercusuar harapan bagi transformasi ekonomi perempuan di wilayah kepulauan.

Lebih dari Sekadar Rumah Aman

Membuka diskusi dalam visitasi dampingan bersama KEHATI dan PIRAC pada Senin, 26 Mei 2025, Lies Marantika, Direktur Eksekutif GASIRA, menyampaikan data yang mencengangkan: sebanyak 39 kasus kekerasan seksual ditangani tahun lalu, dengan biaya hampir 2 juta rupiah per korban. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah panjang tentang proses pemulihan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis, tetapi juga berfokus pada keberlanjutan ekonomi para penyintas.

GASIRA telah berkembang jauh dari sekadar menyediakan layanan rumah aman. Sejak 2012, organisasi ini telah mengintegrasikan pendekatan holistik yang mencakup pemeriksaan kesehatan awal, layanan psikologis dari RSKJ dan RS Bhayangkara, hingga rujukan ke dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing kasus. Yang membedakan GASIRA adalah komitmennya pada penguatan kapasitas, memberikan pelatihan HAM, gender, konseling paralegal, dan advokasi kepada para penyintas.

Menjangkau Kepulauan Melalui Kemitraan Lokal

Geografis Maluku yang berupa kepulauan tidak menjadi penghalang bagi GASIRA untuk menjangkau komunitas terpencil. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, mereka bekerja sama dengan 30 wilayah kecil di Saparua, Nusa Laut, dan Haruko. Yang menarik, GASIRA tidak mengandalkan struktur formal semata, tetapi melibatkan lembaga adat dan keagamaan sebagai garda terdepan di daerah yang tidak memiliki organisasi formal.

“Kami melatih 8-10 orang dari tiap desa agar mampu memberikan pendampingan secara mandiri,” jelas Marantika. Pendekatan ini memungkinkan intervensi tidak lagi bergantung pada GASIRA secara langsung, melainkan melalui kader-kader lokal yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai.

Inovasi Pendidikan: Dari Ruang Kelas hingga Kampanye Kreatif

Program pendidikan seksualitas dan gender untuk remaja SMP menjadi salah satu inovasi GASIRA yang patut dicontoh. Dengan melibatkan guru dari tiga bidang studi—Bimbingan Konseling, Biologi, dan Agama—program ini memastikan pemahaman yang utuh tentang tubuh, nilai-nilai agama, dan pendampingan psikososial.

Kreativitas juga menjadi kunci dalam kampanye mereka. Lomba mading bertema kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan ruang ekspresi bagi remaja untuk memahami isu-isu sensitif melalui medium yang mereka sukai.

Dari Trauma Menuju Kemandirian Ekonomi

Transformasi paling menginspirasi datang dari program pemberdayaan ekonomi yang menargetkan perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan, dan perempuan miskin. Mie kelor dan sambal ikan julung (ikan roa) menjadi produk unggulan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri para penyintas.

Vuadi Genna Mailoa, Staff Advokasi dan Pendidikan GASIRA, menguraikan rencana ambisius mereka dalam proposal “Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan: Bimbingan Teknis Kewirausahaan Inklusif bagi Penyintas Kekerasan di Kota Ambon.” Program ini akan memberikan pembimbingan teknis mulai dari dasar-dasar memulai usaha, Bisnis Model Canvas, hingga strategi marketing.

“Tidak semua penyintas mengerti teknologi, jadi kami mulai dengan pendekatan door-to-door sebelum akhirnya mereka bisa beralih ke digital marketing,” ungkap Genna, menunjukkan kepekaan GASIRA terhadap kondisi riil para penyintas.

Sinergi Multi-Sektor: Kunci Keberlanjutan

Yang membuat GASIRA berbeda adalah kemampuannya membangun jaringan kolaborasi yang solid. Dari dukungan internasional seperti UN Women, SDGs Indonesia, New Zealand Embassy, dan Wilde Ganzen, hingga dukungan komunitas diaspora Perempuan Maluku di Belanda untuk kebutuhan institusional.

Pada pendampingan kunjungan lapangan di Kota Ambon, Tim PIRAC menggagas diskusi kolaborasi multi sektor yang melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta. Beberapa Perusahaan seperti PT Matahari Putra TBK, BRI, BTN, pemerintah seperti BP POM, BSPJI dan lembaga filantropi seperti Dompet Duafa dan Human Initiative telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan diskusi kolaborasi ini.

Nor Hiqmah dari PIRAC menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran: “Kami perlu memetakan minat dan fokus CSR masing-masing perusahaan, kemudian merancang kolaborasi yang saling menguntungkan.”

Visi Berkelanjutan: Dari Lokal Menuju Nasional

Strategi GASIRA untuk mendorong pemanfaatan produk lokal seperti mie kelor sebagai Pangan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting menunjukkan visi jangka panjang mereka. Dengan menyesuaikan proposal agar selaras dengan indikator SDGs dan target CSR perusahaan, GASIRA bersiap menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.

Kesiapan teknis rumah produksi untuk memenuhi standar PIRT dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar produk dapat menembus pasar yang lebih luas dan berdaya saing.

Masa Depan yang Penuh Harapan

Melalui perpaduan layanan pemulihan trauma, pendidikan preventif, dan pemberdayaan ekonomi, GASIRA telah membuktikan bahwa penyintas kekerasan tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka sendiri. Dengan dukungan kolaborasi multi-sektor yang semakin menguat, visi untuk menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan bagi perempuan penyintas di Maluku tampak semakin nyata.

Di tengah tantangan geografis kepulauan dan kompleksitas isu kekerasan berbasis gender, GASIRA telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, komitmen yang kuat, dan kemitraan strategis, transformasi nyata bukanlah sekadar impian. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari kepingan yang terluka, bisa tumbuh kekuatan yang mengubah tidak hanya nasib individu, tetapi juga masa depan komunitas. (*SS&NH)

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-02-06 09:55:002026-09-05 07:44:51Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku

Budidaya Lele RW 08 – Dari Tantangan Menuju Kemandirian Pangan

01/02/2025/0 Comments/in Pelatihan dan Pendampingan/by admin

[vc_row][vc_column][vc_column_text css=””]Kegiatan monitoring budidaya lele yang dilaksanakan pada 26 Desember 2024 mengungkap berbagai dinamika menarik dalam upaya pengembangan perikanan darat di tingkat desa. Di balik pertumbuhan yang menggembirakan, tim monitoring menemukan beberapa tantangan operasional yang membutuhkan perhatian khusus.

“Kendala utama yang kami hadapi saat ini adalah masalah pengelolaan air kolam,” ungkap Pak Mustari, ketua kelompok budidaya lele, saat ditemui di lokasi pembudidayaan. Menurut penjelasannya, ada beberapa masalah operasional yang perlu segera ditangani.

“Kami menemukan bahwa air kolam sering berkurang secara tidak terduga. Setelah diselidiki, ternyata ada anak-anak yang kadang bermain di sekitar kolam dan iseng membuka saluran air. Ini tentu mengganggu stabilitas air kolam,” jelasnya sambil menunjukkan beberapa titik saluran air yang rawan gangguan.

Lebih lanjut Pak Mustari menambahkan bahwa beberapa kali ditemui adanya kelalaian dari petugas piket yang terkadang lupa menutup saluran air setelah melakukan pergantian air kolam. Ini membuat air terus mengalir keluar tanpa terkendali.

Setalah dilakukan pemeriksaan oleh pak Hari selaku pendamping budidaya lele, kendala – kendala yang muncul tidak begitu mempengaruhi pertumbuhan lele. Di tengah tantangan tersebut, perkembangan lele menunjukkan hasil yang menggembirakan. “Alhamdulillah, meski ada beberapa kendala, lele-lele kita tumbuh dengan baik. Saat ini berat rata-ratanya sudah mencapai 80 gram per ekor,” ujar Pak Hari dengan wajah optimis.

Menanggapi berbagai kendala yang ada, Pak Mustari sekalu ketua kelompok menyampaikan beberapa solusi strategis. “Kami akan meningkatkan pengawasan dan memastikan petugas piket lebih teliti saat melakukan pergantian air maupun pemberian pakan. Sistem saling mengingatkan antar petugas piket juga akan diterapkan untuk meminimalisir kelalaian dalam menjalankan tugas,” jelasnya.

Kabar menggembirakan lainnya datang dari sisi pemasaran. Dalam pertemuan monitoring tersebut, telah dicapai kesepakatan harga jual lele yang menjanjikan. “Kami sudah sepakat dengan pembeli untuk harga Rp 24.000 per kilogram dalam kondisi segar. Ini adalah harga yang cukup baik mengingat kondisi pasar saat ini,” ungkap Pak Wahyudi anggota budidaya lele menanggapi diskusi harga lele di pasaran.

 

Yang lebih menarik, hasil penjualan nantinya akan digunakan untuk pengembangan usaha. “Kami berencana menggunakan hasil penjualan ini untuk membeli bibit lele baru dan menambah jumlah kolam. Target kami adalah meningkatkan kapasitas produksi agar bisa memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah,” tambahnya menegaskan hasil kesepakatan kelompok.

 

Rencana panen sendiri sudah mulai dipersiapkan. “Kemungkinan besar kami akan melakukan panen antara akhir Januari atau awal Februari 2025. Sebelum panen, kami akan melakukan pemisahan antara lele yang sudah siap panen dengan yang masih perlu waktu tambahan untuk mencapai ukuran optimal,” jelas Pak Mustari selaku ketua kelompok.

Untuk memastikan keberlanjutan usaha, tim pengelola juga telah menyusun sejumlah langkah strategis, antara lain:

– Peningkatan sistem keamanan kolam

– Perbaikan manajemen pengelolaan dengan penerapan sistem checklist harian

– Optimalisasi pemberian pakan dan pemantauan kualitas air

– Persiapan penambahan kolam baru untuk meningkatkan kapasitas produksi paska panen

Dalam kegiatan monitoring tersebut, Ketua RW 08, Pak Rojali, menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan budidaya lele di wilayahnya. “Kami sangat optimis usaha ini akan terus berkembang. Dengan dukungan warga dan perbaikan sistem yang telah dilakukan, target kemandirian pangan di tingkat RW dapat segera tercapai,” ungkap Pak Rojali.

Keberhasilan budidaya lele ini menjadi bukti nyata bahwa dengan pengelolaan yang tepat, usaha perikanan darat bisa menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat desa. Tidak hanya memberikan keuntungan finansial, program ini juga berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan di tingkat lokal.

Ke depan, model pengembangan budidaya lele ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi perikanan darat mereka. Dengan kombinasi pendampingan teknis yang tepat, manajemen yang baik, dan semangat untuk terus berkembang, usaha budidaya lele ini diprediksi akan terus tumbuh dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. **NH[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png 0 0 admin https://pirac.org/wp-content/uploads/2026/09/logo_PIRAC_web_200px.png admin2025-02-01 23:27:002026-09-05 07:46:21Budidaya Lele RW 08 – Dari Tantangan Menuju Kemandirian Pangan
Page 2 of 212
Search Search

Recent Posts

  • Merajut Kolaborasi, Mendanai Masa Depan: Inovasi Filantropi untuk Pendidikan Indonesia
  • Potret Asa Lebah Sempage : Di Tengah Realitas, Warga Menjaga Harapan akan Hidup yang Lebih Sejahtera
  • Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
  • Aliansi Filantropi Desak Pemerintah Lindungi, Bukan Batasi, Sumbangan Bencana
  • Menuju Era Baru Filantropi: Saatnya Regulasi Usang Penggalangan Dana Berubah

Recent Comments

    Archives

    • August 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • February 2026
    • December 2025
    • September 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • June 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • October 2023
    • July 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • August 2021
    • September 2020
    • June 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • April 2019
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • December 2018
    • October 2018
    • April 2018
    • November 2016
    • August 2016
    • June 2016
    • May 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • October 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • June 2013
    • February 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • August 2012
    • July 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • February 2012
    • January 2012

    Categories

    • Advokasi Kebijakan
    • Berita Kegiatan
    • Fundraising dan Keberlanjutan
    • Kampanye dan Edukasi
    • Kemitraan dan Jaringan
    • Pelatihan dan Pendampingan
    • Riset dan Kajian Kebijakan
    • Uncategorized

    Alamat

    Jl. M. Ali No. 2 Tanah Baru, Beji, Depok Jawa Barat Indonesia

    © Copyright - PIRAC - Public Interest Research and Advocacy Center - Enfold WordPress Theme by Kriesi
    Scroll to top Scroll to top Scroll to top