Membangun Jembatan di Kepulauan: Kisah Baileo Maluku Merancang Masa Depan
- 05/06/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan modern, sebuah organisasi di Ambon berusaha menata ulang fondasi kerja mereka sambil mempertahankan nilai-nilai lokal Maluku
Sore itu, 27 Mei 2025, ruang kantor Baileo Maluku terasa lebih ramai dari biasanya. Tujuh orang duduk melingkar, dokumen bertebaran di meja, dan laptop terbuka menampilkan presentasi yang akan menentukan langkah besar organisasi ini ke depan. Stevi Talahatu, salah satu pengurus Baileo Maluku, membuka diskusi dengan nada serius namun penuh harapan.
“Kita perlu bicara jujur hari ini,” katanya memulai pembicaraan yang akan berlangsung lebih dari dua jam. Di hadapannya duduk rekan-rekan dari PIRAC dan KEHATI, mitra yang telah menemani perjalanan panjang Baileo Maluku dalam mengembangkan komunitas di kepulauan.
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin. Esok harinya, Baileo Maluku akan menghadapi momen penting: forum kolaborasi multi-sektor yang menghadirkan perusahaan CSR, BUMN, dan lembaga perbankan. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
Menata Ulang Fondasi: Dari Satu Dokumen Menjadi Enam Pilar
Seperti rumah yang direnovasi, Baileo Maluku memutuskan untuk membongkar total sistem Standard Operating Procedures (SOP) mereka. Dokumen yang selama ini menjadi satu kesatuan akan dipecah menjadi enam bagian yang lebih spesifik dan fungsional.
“Selama ini SOP kita seperti lemari yang isinya campur aduk,” jelas Stevi dengan analogi sederhana. “Pakaian, sepatu, dokumen, semua jadi satu. Sekarang kita mau bikin lemari dengan sekat-sekat yang jelas.”
Keenam bagian itu akan mencakup kepegawaian, pengelolaan data, perencanaan program, pelaksanaan, monitoring evaluasi, hingga pengelolaan keuangan. Langkah ini terinspirasi dari pengalaman bekerja sama dengan HIVOS, mitra dari Belanda, yang menuntut SOP tersendiri dengan standar internasional.
Paulina Uktolseja, Bendahara Baileo Maluku, mengangguk setuju. Perempuan yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pemberdayaan masyarakat ini paham betul pentingnya sistem yang teratur. “Di Maluku, kita terbiasa kerja dengan perasaan. Tapi kalau mau berkolaborasi dengan lembaga besar, kita harus bisa bicara dengan bahasa mereka juga.”

Realita Pahit CSR di Ambon: Ketika Pintu Mulai Tertutup
Ketika pembicaraan beralih ke strategi pendanaan, suasana ruangan sedikit meredup. Paulina memaparkan kenyataan yang dihadapi organisasi masyarakat sipil di Ambon: akses ke dana Corporate Social Responsibility (CSR) semakin sulit.
“Dulu, perusahaan masih mau ngobrol langsung dengan kita,” kenang Paulina. “Sekarang, mereka lebih pilih salurkan dana melalui pemerintah kota atau provinsi. Yang bisa kita dapat paling Rp25-50 juta, itupun untuk bikin bak sampah atau taman kecil.”
Nor Hiqmah dari PIRAC kemudian berbagi perspektif yang lebih luas. Menurutnya, lembaga besar seperti Greenpeace dan WWF masih berhasil menggalang dana publik melalui program kembalian di retail seperti Indomaret dan Alfamidi. “Model seperti ini bisa direplikasi, tapi butuh strategi komunikasi yang kuat,” sarannya.
Stevi mengakui dengan jujur bahwa Baileo Maluku memang belum berpengalaman membangun relasi strategis dengan lembaga filantropi. “Kita masih belajar. Selama ini kerja ya kerja saja, tidak pernah memikirkan bagaimana membangun jaringan yang sistematis.”
Pelajaran dari Bakso Ikan Tuna yang Tak Laku
Diskusi kemudian bergeser ke pengalaman lapangan yang lebih personal. Salah satu program yang paling diingat adalah upaya pemberdayaan perempuan melalui produksi bakso ikan tuna di Pulau Nusa Laut.
“Secara sosial, program itu bagus. Ibu-ibu antusias, skillnya meningkat,” cerita Stevi. “Tapi pasar tidak menyerap. Belum lagi kalau cuaca buruk, listrik mati, produksi langsung terhenti.”
Program ini menjadi cermin tantangan yang dihadapi banyak inisiatif pemberdayaan di daerah kepulauan. Infrastruktur yang terbatas, akses pasar yang sulit, dan ketergantungan pada faktor eksternal membuat program-program sosial sulit berkelanjutan secara ekonomi.
Lebih dari itu, budaya kerja kolektif di masyarakat Maluku ternyata memiliki karakteristik unik. “Orang Maluku itu lebih cocok kerja koordinatif, bukan operasional bersama,” refleksi Stevi. “Setiap orang punya alat sendiri, punya tanggung jawab sendiri, tapi tetap dalam satu wadah koordinasi.”
Evaluasi Jujur: Ketika Keluarga dan Bisnis Bercampur
Momen paling intens dari diskusi terjadi ketika tim membahas evaluasi internal organisasi. Dengan keberanian yang patut diacungi jempol, mereka mengakui kesalahan-kesalahan masa lalu.
“Selama ini kita sering campur antara manajemen program dan bisnis,” akui Stevi. “Keputusan juga terlalu dipengaruhi hubungan kekeluargaan. Ada kasus peminjaman dana internal yang akhirnya jadi pelajaran besar.”
Sarah R. Talaksaru, yang turut hadir dalam diskusi, menambahkan bahwa pengalaman tersebut justru memperkuat komitmen untuk memisahkan fungsi bisnis dan program. “Kita harus profesional, tapi tetap manusiawi. Sistemnya yang harus kuat, bukan orangnya yang dikuatkan.”
Cahaya Harapan dari Desa Mahu
Di tengah berbagai tantangan, ada satu kisah sukses yang membuat mata peserta diskusi berbinar: pendampingan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) di Desa Mahu, Saparua Timur. “Banyak desa di Maluku Tengah belum punya Perdes yang sah karena prosesnya dilakukan pihak luar tanpa melibatkan masyarakat,” jelas Stevi. “Tapi di Mahu berbeda. Kita libatkan masyarakat dari awal sampai akhir.”
Hasilnya mencengangkan. Camat setempat tidak hanya mengapresiasi prosesnya, tetapi juga merekomendasikan model ini untuk desa-desa lain. “Ini bukti bahwa penguatan komunitas harus dimulai dari pelibatan aktif dan pemulihan tata kelola lokal,” tambah Paulina dengan bangga.
Epilog: Jembatan untuk Masa Depan
Ketika peserta diskusi mulai membereskan dokumen dan menutup laptop, suasana ruangan terasa berbeda. Ada optimisme baru, meski disertai kesadaran akan tantangan besar di depan mata.
Baileo Maluku bukan sekadar organisasi pemberdayaan masyarakat biasa. Mereka adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai lokal Maluku dan tuntutan global, antara idealisme sosial dan realitas ekonomi.
Perjalanan mereka mencerminkan pergulatan banyak organisasi masyarakat sipil di Indonesia: bagaimana tetap relevan di tengah perubahan zaman, bagaimana menjaga misi sosial sambil membangun keberlanjutan ekonomi, dan bagaimana belajar dari kegagalan untuk melangkah lebih mantap ke masa depan.
Sore itu, di kantor kecil Baileo Maluku, bukan hanya rencana strategis yang disusun. Harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi masyarakat kepulauan juga tengah dirajut, satu langkah pada satu waktu. **SS&NH
