Lanskap Pendanaan OMS Indonesia: Antara Ketergantungan Donor dan Urgensi Diversifikasi
- 24/11/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Jakarta, 13 November 2025 – Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia menghadapi tantangan kompleks dalam mempertahankan keberlanjutan finansial di tengah perubahan lanskap pendanaan global yang semakin dinamis. Kondisi ini mengemuka dalam pelatihan yang digelar pada hari ketiga, dengan tema “Lanskap Pendanaan dan Alternatif Sumber untuk Organisasi Masyarakat Sipil” yang disampaikan oleh narasumber Amalinda Savirani.
Dalam sesi tersebut, terungkap bahwa sumber pendanaan tradisional dari donor internasional tidak lagi stabil seperti sebelumnya, sementara regulasi pemerintah semakin ketat dan persaingan untuk mendapatkan dana kian meningkat. Perubahan ini menuntut OMS untuk memahami konteks pembiayaan yang lebih dinamis, sekaligus menjajaki berbagai alternatif pendanaan seperti filantropi lokal, crowdfunding, kemitraan dengan sektor swasta, hingga pengembangan usaha sosial.
Debat Lama dalam Konteks Baru
Perdebatan mengenai ketergantungan OMS pada pendanaan luar, terutama dari pemerintah dan donor internasional, bukanlah isu baru. Merujuk pada buku klasik NGOs, States and Donors: Too Close for Comfort? yang diedit David Hulme dan Michael Edwards, serta pembaharuannya NGOs, States, and Donors Revisited: Still Too Close for Comfort? oleh Nicola Banks, David Hulme, dan Michael Edwards, perdebatan ini kini diperbarui oleh perubahan konteks global yang ditandai dengan meningkatnya teknologi, transparansi publik, serta dinamika politik dan ekonomi yang terus bergeser.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah kedekatan berlebihan OMS dengan donor dapat memengaruhi agenda organisasi serta mengurangi keberpihakan pada akar rumput. Pertanyaan kritis terus mengemuka: apakah OMS dapat membawa perubahan jangka panjang jika agenda dan prioritasnya sangat dipengaruhi donor? Pendanaan yang terlalu terikat pada kepentingan donor dapat membuat OMS lebih fokus pada proyek jangka pendek demi memenuhi tuntutan pelaporan, alih-alih perubahan struktural yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat.
Kesenjangan Pendanaan Global yang Menganga
Data dari Human Rights Funders Network (HRFN) tahun 2024 mengungkapkan kesenjangan yang sangat signifikan dalam aliran pendanaan hak asasi manusia global. Dari total pendanaan yayasan untuk hak asasi manusia yang mencapai $4,1 miliar pada tahun 2019, sebanyak 99% berasal dari negara-negara Global North (negara maju), sementara negara-negara Global South & East hanya berkontribusi 1%.
Kesenjangan menjadi semakin jelas ketika melihat lokasi penerima pendanaan. Sebanyak 88% dana mengalir dan tetap berada di negara-negara Global North, sedangkan organisasi-organisasi di negara Global South & East hanya menerima 12% dari total pendanaan global, dengan rincian 0,3% yang berasal dari dalam wilayah mereka sendiri dan 99,7% yang bersumber dari Global North.
Temuan ini mengonfirmasi pola ketergantungan struktural yang telah lama menjadi keprihatinan dalam ekosistem OMS global. Organisasi masyarakat sipil di negara berkembang, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada donor internasional dari negara maju, sementara kapasitas filantropi lokal masih sangat terbatas.
Basis Sosial OMS Indonesia yang Lemah
Savirani menyoroti bahwa secara umum, banyak OMS di Indonesia memiliki basis sosial yang lemah, terutama karena hubungan dengan masyarakat belum terinstitusi secara kuat. Legitimasi sosial OMS juga dinilai belum kokoh, sehingga kepercayaan publik terhadap organisasi tidak berkembang optimal. Kondisi ini membuat OMS kesulitan memperoleh dukungan pendanaan dari publik, meskipun peluang filantropi domestik sebenarnya terus berkembang.
Orientasi program OMS yang banyak berfokus pada pendekatan developmentalist dan sering dianggap sejalan dengan ideologi neoliberalisme turut mempengaruhi pola pendanaan. Menurut Banks dkk (2014:708), kecenderungan ini menempatkan OMS sebagai bagian dari arsitektur pembangunan global yang tidak selalu berpihak pada kebutuhan masyarakat akar rumput.
Lima Alternatif Sumber Pendanaan
Kajian programatik MADANI tentang Mobilisasi Sumber Daya dan Keberlanjutan Finansial OMS Lokal di Indonesia yang dilakukan bersama USAID, FHI 360, dan Indonesia untuk Kemanusiaan mengidentifikasi pentingnya diversifikasi pendanaan sebagai kunci keberlanjutan OMS. Dalam sesi pelatihan, dipaparkan lima alternatif sumber pendanaan yang dapat dikembangkan OMS:
Pertama, pendanaan dari negara melalui berbagai skema hibah, program kemitraan, hingga dukungan kebijakan. Advokasi pembentukan Dana Abadi OMS yang disuarakan INFID dan Pokja Dana Abadi OMS, serta penerapan skema swakelola dalam proyek pengadaan pemerintah, menunjukkan kesadaran negara akan pentingnya peran OMS dalam pembangunan dan demokrasi.
Kedua, donor internasional yang meski mengalami tren penurunan, masih menjadi sumber penting. Namun, OMS perlu mengadvokasi praktik pendanaan yang lebih fleksibel untuk mengatasi constraining factor seperti persyaratan pelaporan yang sangat ketat, pembatasan penggunaan dana untuk biaya operasional, dan kurangnya fleksibilitas dalam penggunaan anggaran.
Ketiga, mobilisasi dana publik yang memiliki potensi sangat besar di Indonesia. Data World Giving Index 2024 menunjukkan Indonesia menempati peringkat pertama dunia dalam aspek donasi uang dengan skor 90%, jauh melampaui negara-negara seperti Myanmar (78%), Malta (74%), dan Islandia (71%). Namun, tantangannya adalah mengalihkan tradisi kedermawanan dari bentuk donasi jangka pendek dan sporadis menuju dukungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Keempat, pendanaan korporat melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dan corporate foundation. Beberapa corporate foundation terkemuka seperti Tanoto Foundation (Rp 534,9 miliar pada 2023), Putra Sampoerna Foundation (Rp 120 miliar pada 2022), dan Adaro Foundation (Rp 94,3 miliar pada 2021) menunjukkan potensi signifikan. Namun, OMS perlu mengembangkan prinsip kemitraan yang jelas untuk memastikan tidak ada konflik nilai dan independensi tetap terjaga.
Kelima, social enterprises sebagai strategi pengembangan model bisnis berkelanjutan. Literatur akademik dari Nicholls (2011) dan Roy dkk (2021) menunjukkan tren ini terus meningkat. Lembaga donor memfasilitasi upaya keberlanjutan dengan mendorong OMS memiliki unit bisnis sendiri, sementara negara seperti Swedia turut berperan sebagai sumber pembiayaan social enterprises milik OMS.
Kesehatan Organisasi sebagai Kunci
Kajian MADANI menekankan bahwa strategi pendanaan OMS sangat dipengaruhi oleh kondisi “kesehatan” internal organisasi. Kesehatan organisasi mencakup tata kelola yang baik, sistem keuangan yang tertata, kapasitas sumber daya manusia, transparansi dan akuntabilitas, serta kemampuan manajemen strategis. OMS yang memiliki fondasi internal kuat akan lebih mampu mengembangkan strategi pendanaan yang efektif dan berkelanjutan.
Dengan kemampuan beradaptasi serta pengelolaan organisasi yang transparan dan akuntabel, OMS memiliki peluang untuk memperkuat kemandirian finansial dan memastikan keberlanjutan misi sosialnya di tengah tantangan yang terus berkembang. Keseimbangan antara berbagai sumber pendanaan, mulai dari donor institusional, pemerintah, hingga masyarakat luas, menjadi kunci untuk memastikan OMS dapat terus menjalankan misi mereka secara independen dan efektif.
