Perbankan untuk Rakyat: Inovasi Pembiayaan UMKM di Timur Indonesia
- 07/06/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Konsultasi, Pendampingan
Saat banyak pelaku UMKM di Maluku berjuang mempertahankan usaha dengan modal terbatas dan akses pasar yang belum stabil, dua institusi keuangan hadir dengan semangat yang berbeda: bukan sekadar menyalurkan kredit, tapi menjadi bagian dari perubahan.
Dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku, yang diselenggarakan di The Roof Café & Eatery, Ambon, Rabu 28 Mei 2025, perwakilan dari Bank BRI dan Bank BTN membagikan pendekatan mereka yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput di Timur Indonesia.
KUR Tanpa Agunan: Modal yang Menjangkau Lebih Banyak Orang
Linda M. F. Noya dari Bank BTN menjelaskan bagaimana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kini semakin ramah terhadap pelaku usaha kecil dan mikro. Tak lagi terbatas pada pelaku usaha besar di perkotaan, KUR kini menyasar pasar tradisional, nelayan, dan pelaku usaha rumahan di desa-desa.
“KUR kami memberikan plafon dari Rp50 juta hingga Rp500 juta,” ungkap Linda. “Yang menarik, untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, tidak diperlukan agunan. Ini menjawab keresahan banyak pelaku UMKM yang punya usaha, tapi tidak punya jaminan formal.”
Skema ini dirancang agar lebih mudah diakses oleh kelompok rentan, termasuk perempuan kepala keluarga, petani, dan pelaku usaha sektor informal—kelompok yang selama ini dianggap ‘berisiko tinggi’ oleh sistem keuangan konvensional.
Satu Desa, Satu Mantri: Mengenal Warga, Menilai Potensi
Sementara itu, Kun Pattikawa dari Bank BRI membagikan cerita tentang program unik yang dilaksanakan sejak 2021: “Satu Desa, Satu Mantri.” Dalam program ini, petugas BRI—disebut mantri—tinggal dan bekerja langsung di tengah masyarakat desa. Mereka bukan sekadar staf bank, tapi juga fasilitator pembangunan ekonomi lokal.
“Mantri kami tahu siapa yang punya kebun cengkeh, siapa yang pandai bikin kerajinan, siapa yang butuh modal tapi malu bicara soal uang,” jelas Kun. “Mereka tidak hanya mencatat angka, tapi memahami konteks.”
Program ini memperpendek jarak antara bank dan rakyat. Dengan tinggal di desa, mantri bisa mengidentifikasi potensi lokal secara langsung, sekaligus membangun kepercayaan. Warga desa pun tidak lagi melihat bank sebagai institusi yang jauh dan rumit, tapi sebagai mitra usaha.
Desa Brilian: Inkubator Inovasi Ekonomi Lokal
Lebih dari sekadar kredit, BRI juga mengembangkan konsep “Desa Brilian”—yakni desa-desa unggulan yang menjadi model inovasi ekonomi berbasis potensi lokal. Konsep ini menggabungkan BUMDes yang aktif, kepemimpinan desa yang responsif, dan dukungan akses pembiayaan dari perbankan.
“Di beberapa desa di Maluku, kami melihat geliat ekonomi yang luar biasa. Tapi sering kali tidak ada instrumen untuk mendukungnya. Melalui Desa Brilian, kami bantu fasilitasi pelatihan digital, manajemen usaha, sampai promosi produk,” tambah Kun.
Program ini menempatkan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, tapi sebagai subjek perubahan. Bank menjadi mitra strategis dalam memperkuat infrastruktur ekonomi lokal.
Membuka Keran, Menyalurkan Harapan
Skema kredit yang lebih inklusif, kehadiran petugas di lapangan, serta pengembangan desa berbasis potensi adalah contoh nyata bahwa perbankan bisa memainkan peran sosial yang lebih kuat. Di forum tersebut, baik BTN maupun BRI menekankan pentingnya transparansi, kolaborasi, dan pendampingan sebagai kunci keberhasilan.
Mereka bukan datang untuk menawarkan produk, tapi untuk mendengar, memahami, dan membangun bersama.
Bagi pelaku usaha kecil di Maluku, kehadiran bank yang inklusif seperti ini bukan hanya membuka keran pembiayaan, tapi juga menyalurkan harapan—bahwa usaha kecil tak lagi sendiri, dan desa bisa tumbuh menjadi pusat kekuatan ekonomi baru. **SS&NH
