Membangun Sinergi dari Timur: Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Maluku
- 07/06/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Ambon, 28 Mei 2025 — Bertempat di The Roof Café & Eatery, diskusi lintas sektor bertajuk “Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku” berlangsung hangat di tengah semilir angin pesisir Ambon. Sebanyak 30 perwakilan dari organisasi masyarakat sipil (OMS), pemerintah, sektor swasta, perbankan, dan lembaga filantropi hadir untuk mendiskusikan satu hal krusial: bagaimana membangun kolaborasi yang berdampak nyata bagi pemberdayaan masyarakat Maluku.
Provinsi Maluku, dengan kekayaan bahari dan budaya yang luar biasa, masih menghadapi tantangan serius dalam pembangunan. Letak geografis sebagai wilayah kepulauan, ketimpangan akses layanan dasar, kemiskinan yang tinggi, serta kerentanan terhadap bencana alam menjadikan proses pembangunan di wilayah ini tidak mudah. Hal ini tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku yang masih di bawah rata-rata nasional.
Dalam konteks ini, organisasi masyarakat sipil (OMS) memainkan peran penting karena kedekatannya dengan komunitas-komunitas akar rumput, terutama mereka yang terpinggirkan. Namun, keterbatasan sumber daya dan minimnya akses terhadap pengambilan keputusan strategis kerap menjadi penghambat dalam memperluas dampak kerja-kerja mereka. Maka, kolaborasi lintas sektor menjadi pendekatan yang semakin relevan dan mendesak.
Tiga OMS, Tiga Cerita Perubahan
Diskusi ini diselenggarakan oleh Ananta untuk memperkenalkan tiga mitra OMS mereka di Maluku: Baileo Maluku, Walang Perempuan, dan Gasira Maluku. Ketiganya memaparkan praktik baik dan inovasi pemberdayaan berbasis komunitas dan potensi lokal.
Dari perlindungan hutan adat dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal oleh Baileo, pendampingan UMKM perempuan oleh Walang Perempuan, hingga pemberdayaan penyintas kekerasan melalui kewirausahaan oleh Gasira, masing-masing organisasi menunjukkan bagaimana perubahan dapat dimulai dari kampung.
Dukungan Lintas Sektor: Lembaga Filantropi, Pemerintah dan Perusahaan
Diskusi juga menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang memiliki komitmen terhadap pembangunan inklusif di Maluku. Dari sektor filantropi, hadir Dompet Dhuafa Maluku dan Human Initiative, yang membagikan pengalaman pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan CSR untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pentingnya pendekatan partisipatif berbasis kebutuhan lokal.
Dari sisi pemerintah, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon dan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Ambon turut memaparkan dukungan teknis dan kebijakan terkait sertifikasi produk, izin edar, serta penguatan UMKM berbasis standar industri dan keamanan pangan.
Sektor perbankan diwakili oleh Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Cabang Ambon dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ambon, yang mempresentasikan inovasi pembiayaan inklusif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa agunan, program Satu Desa Satu Mantri, serta pengembangan Desa Brilian sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal.
Dari kalangan pelaku usaha dan swasta, hadir pula perwakilan dari Hypermart (PT. Matahari Putra Prima Tbk.), PT. Aneka Sumber Tata Bahark, dan PT. Harta Samudra, yang berbagi peluang dan tantangan kemitraan dengan pelaku UMKM lokal. Hypermart secara khusus membuka peluang bagi UMKM untuk memamerkan dan menjual produknya di rak swalayan, selama mampu memenuhi kriteria standardisasi dan pasokan.
Sementara itu, dari sektor konservasi dan lingkungan, hadir Yayasan Kehati, dan dari sektor pendidikan serta pemberdayaan inklusif, turut serta Yayasan Rumah Generasi.
Diskusi ini juga difasilitasi oleh PIRAC, lembaga yang selama ini aktif dalam penguatan kapasitas OMS dan advokasi kebijakan pembangunan inklusif.
Menuju Kolaborasi yang Lebih Terstruktur
Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga bertujuan untuk membangun jejaring strategis lintas sektor di Maluku. Beberapa tujuan utama kegiatan ini meliputi memperkenalkan profil dan capaian OMS mitra Ananta, mengidentifikasi potensi kolaborasi yang bisa dikembangkan, memfasilitasi dialog antar pemangku kepentingan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang konkret untuk kerja sama jangka pendek maupun panjang.
Sinergi dari Timur untuk Indonesia
Forum ini menjadi langkah awal penting untuk memperkuat ekosistem kolaborasi lintas sektor di Maluku. Di tengah tantangan struktural yang kompleks, semangat gotong royong lintas sektor menjadi kunci untuk membuka peluang baru, memperkuat pemberdayaan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan.
Dengan mempertemukan berbagai kekuatan—dari zakat hingga CSR, dari dapur UMKM hingga rak swalayan, dari kampung hingga kebijakan nasional—Maluku sedang membangun jejak kolaborasi yang bisa menjadi contoh inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia. **SS&NH
