Dari Zakat hingga CSR: Peran Filantropi dalam Pemberdayaan Maluku

Dari Zakat hingga CSR: Peran Filantropi dalam Pemberdayaan Maluku

Di tengah arus perubahan yang perlahan namun pasti menggeliat dari Timur Indonesia, dua lembaga filantropi hadir membawa harapan: Dompet Dhuafa dan Human Initiative. Dalam forum Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang berlangsung di The Roof Café & Eatery, Ambon, pada Rabu, 28 Mei 2025, keduanya membuka mata para peserta tentang bagaimana dana sosial—baik dari zakat, infak, sedekah, hingga corporate social responsibility (CSR)—dapat menjadi bahan bakar perubahan yang berkelanjutan.

Dompet Dhuafa: Zakat sebagai Investasi Sosial

La Januri, yang akrab disapa Bang Jay, berdiri tenang di hadapan peserta. Ia membawa kisah Dompet Dhuafa yang telah lebih dari 30 tahun mengelola dana zakat dan mengubahnya menjadi program-program nyata bagi masyarakat kecil. Sejak 2020, mereka aktif membangun program pemberdayaan di Maluku, menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini jauh dari jangkauan pusat.

“Kami mengelola dana zakat, infak, sedekah, hingga CSR melalui lima pilar: ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya-lingkungan, dan kemanusiaan,” jelasnya.

Namun yang paling menarik, menurut Bang Jay, adalah pengembangan wakaf produktif dan dana abadi. Alih-alih menghabiskan dana sosial untuk bantuan sesaat, Dompet Dhuafa menanamnya dalam bentuk aset usaha—baik lahan pertanian, peternakan, maupun unit ekonomi—yang hasilnya terus-menerus kembali ke masyarakat.

“Zakat bukan hanya amal, tapi investasi sosial. Kita ingin menciptakan siklus pemberdayaan yang tak terputus,” tegasnya.

Di Maluku, pendekatan ini terwujud melalui program peningkatan produktivitas pertanian dan UMKM lokal. Misalnya, penguatan kelompok usaha perempuan yang sebelumnya hanya menjual hasil laut mentah, kini mulai memproduksi olahan dengan nilai tambah dan pasar yang lebih luas.

Human Initiative: Bertolak dari Realitas, Bukan Persepsi

Jika Dompet Dhuafa datang dengan kekuatan struktur dan pengalaman panjang, Human Initiative membawa semangat partisipatif dan kepekaan lokal yang mendalam. Sitti Halijah Tubaka, perwakilan mereka di forum, berbicara lugas dan jernih: “Sering kali, intervensi program kita lahir dari asumsi kita sendiri, bukan dari realitas masyarakat,” ujarnya. “Kami belajar bahwa kunci pemberdayaan bukan di tangan kita—tapi di mereka, masyarakat itu sendiri.”

Human Initiative menekankan pentingnya pemetaan potensi dan kebutuhan secara partisipatif sebelum merancang program. Di beberapa desa dampingan mereka di Maluku, pendekatan ini menghasilkan intervensi yang sangat kontekstual—mulai dari pelatihan pembuatan produk lokal berbasis sumber daya desa, hingga penguatan jaringan distribusi melalui koperasi komunitas. “Kami tidak datang membawa jawaban. Kami datang untuk mendengarkan,” ujar Halijah.

Bagi Human Initiative, kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal—dari pemerintah desa, tokoh adat, hingga lembaga keuangan—adalah syarat mutlak agar program berjalan efektif dan berkelanjutan. “Kami ingin jadi katalis, bukan pengganti peran masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Sinergi yang Diperlukan: Dana Sosial, Arah Lokal

Dalam diskusi yang berlangsung hampir empat jam itu, terjalin satu kesimpulan bersama: filantropi tidak cukup hanya hadir, tapi juga harus berakar. Dana sosial bisa menjadi pengubah keadaan—bila dikelola dengan visi jangka panjang dan berbasis kebutuhan nyata.
Perwakilan dari lembaga lain pun mengapresiasi pendekatan kedua lembaga ini. Beberapa UMKM yang hadir bahkan langsung menyatakan minat untuk menjalin kemitraan. Di sudut ruangan, para peserta mulai berdiskusi tentang peluang kolaborasi antara sektor keuangan, komunitas adat, dan filantropi.

Epilog: Dari Kebaikan yang Terstruktur, Lahirlah Ketahanan

Dompet Dhuafa dan Human Initiative menunjukkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya niat, tapi harus ditata, dirancang, dan diukur dampaknya. Di Maluku, kebaikan itu kini hadir dalam bentuk pelatihan, penguatan usaha, pertanian, dan ruang-ruang dialog yang memungkinkan komunitas tumbuh dengan martabat.

Dari zakat hingga CSR, dari infak hingga partisipasi masyarakat, Maluku hari ini menjadi panggung untuk membuktikan bahwa filantropi yang cerdas dan berpihak bisa mempercepat perubahan.
Dan dari Ambon—dari rooftop yang menghadap ke laut biru itu—sebuah pelajaran berharga mengalir ke seluruh penjuru negeri: kebaikan yang terorganisir bisa menjadi strategi pembangunan yang paling kuat. **SS&NH