Dari Kampung, Untuk Perubahan: Tiga Suara dari Maluku yang Menggerakkan
- 07/06/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Di sebuah siang yang tenang di Ambon, di rooftop café yang menghadap laut, tiga suara bergema di antara dentingan gelas dan semilir angin. Mereka datang dari kampung-kampung, membawa kisah tentang hutan, tentang perempuan, dan tentang luka yang diubah menjadi harapan. Mereka adalah Stevi Talahatu dari Baileo Maluku Yanes loppies dari Walang Perempuan, dan Genna Mailoa dari Gasira Maluku—tiga tokoh akar rumput yang telah lama bergulat dengan realitas keras masyarakat di Timur Indonesia.
Cerita mereka mengalir dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor Untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang digelar di The Roof Café & Eatery, Kota Ambon, pada Rabu, 28 Mei 2025. Dalam forum itu, aktivis, perbankan, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga filantropi duduk bersama, mencari cara untuk membangun sinergi dari akar rumput hingga pasar modern.
Ketika Hutan Berbisik dan Kampung Bergerak
Stevi Talahatu menatap jauh ke cakrawala, seolah ingat pada suara gergaji mesin yang memekakkan telinga di Yamdena, Tanimbar, bertahun-tahun lalu. Kala itu, hutan adat mereka tak lagi sakral, tapi dijadikan angka-angka oleh korporasi.
“Dari situ kami bergerak. Bukan karena punya modal besar, tapi karena kami tak bisa diam melihat kampung kami dirampas,” ujarnya tenang namun penuh tekad.
Gerakan yang bermula dari protes warga kampung kini menjelma menjadi Yayasan Baileo Maluku, rumah besar bagi tujuh organisasi komunitas adat. Mereka bukan hanya menjaga hutan, tetapi juga membuktikan bahwa konservasi bisa berpijak pada kearifan lokal. Sasi di Haruku, pemantauan gurita di Seram Timur, dan usaha produktif hasil laut hanyalah sebagian kecil dari perjuangan Baileo—yang kini juga memperjuangkan pengakuan tenurial atas tanah adat.
“Perubahan itu tak bisa dari luar saja. Ia harus tumbuh dari kampung,” tambah Stevi, seraya menunjukkan foto kegiatan anak-anak belajar menggambar ikan sebagai bagian dari kampanye konservasi.
Walang Perempuan: Ruang Aman, Ruang Tumbuh
Tak jauh dari Stevi, Yanes Loppies tersenyum lembut. Ia membawa narasi yang tak kalah kuat—tentang perempuan-perempuan Maluku yang bangkit dari keterbatasan dan kekerasan, membentuk usaha, dan menembus pasar swalayan.
“Walang itu tempat bernaung. Kami ingin semua perempuan punya ruang seperti itu,” ujarnya. Sejak 2007, Walang Perempuan mendampingi ratusan perempuan: korban kekerasan, pelaku UMKM, perempuan kepala keluarga. Di Negeri Ihamahu, kelompok dampingan mereka bahkan berhasil menjual produk ke luar pulau. Tapi Yanes jujur soal tantangan: dari SOP produksi yang belum rapi, minimnya legalitas, hingga kurangnya kepercayaan pasar.
Solusinya? Walang menggagas inkubator wirausaha sosial—pendampingan intensif, pelatihan digital, dan kolaborasi lintas pihak. Semua demi satu tujuan: perempuan yang berdaya, tidak hanya selamat, tapi maju dan merdeka secara ekonomi.
Gasira: Dari Luka Jadi Kekuatan
Sementara itu, suara Genna Mailoa membawa suasana menjadi lebih sunyi. Ia tidak hanya bicara tentang angka atau produk, tapi tentang luka—luka perempuan dan anak korban kekerasan seksual yang ditinggalkan dunia. “Banyak dari mereka adalah ibu tunggal. Disakiti, ditinggal, dan dipaksa bertahan sendiri,” tuturnya lirih.
Gasira Maluku, yang lahir pada 8 Oktober 2007, tak sekadar menyediakan rumah aman dan bantuan hukum. Mereka menciptakan pelatihan wirausaha inklusif dalam empat tahap: pelatihan, pendampingan, evaluasi, dan akses modal. Produk seperti mie kelor dan sambal ikan julung lahir dari tangan para penyintas.
“Kami ingin mereka tidak hanya bangkit, tapi juga mandiri. Tapi kami butuh dukungan lebih—terutama soal modal dan akses pasar,” ujar Genna.
Satu Tanah, Banyak Suara, Satu Tujuan
Tiga tokoh, tiga cerita, satu perjuangan: membuktikan bahwa perubahan sosial tak perlu menunggu program besar. Ia bisa lahir dari keresahan, dari desa, dari ruang kecil bernama walang, dari keteguhan menjaga hutan, atau dari pelukan hangat rumah aman.
Maluku bukan hanya tentang keindahan alamnya. Ia adalah ruang hidup bagi perempuan dan komunitas yang sedang bertumbuh, menyembuhkan diri, dan bersuara lantang untuk keadilan. Dan dari sana, dari kampung-kampung itu, muncul cahaya yang menyala untuk Indonesia yang lebih adil dan setara. “Perubahan yang berarti selalu dimulai dari kampung.” — Stevi Talahatu
