Dari Dapur ke Rak Swalayan: Tantangan dan Peluang UMKM Menembus Pasar Modern

Dari Dapur ke Rak Swalayan: Tantangan dan Peluang UMKM Menembus Pasar Modern

Di dapur-dapur kecil di pelosok Maluku, perempuan dan pemuda menggiling rempah, mengolah ikan, dan mengemas sagu menjadi pangan olahan. Produk-produk itu lahir dari kearifan lokal, tetapi sering kali hanya berakhir di warung tetangga. Bukan karena kualitasnya kalah, tapi karena mereka belum siap menembus tantangan standar pasar modern.

Namun kini, peluang mulai terbuka. Dalam Diskusi Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pemberdayaan Masyarakat Maluku yang digelar di The Roof Café & Eatery, Kota Ambon, Rabu, 28 Mei 2025, tiga aktor penting memaparkan bagaimana UMKM lokal bisa naik kelas: Hypermart, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hypermart: Membuka Pintu Etalase Pasar Modern

Leonn Glen dari Hypermart Maluku City Mall menyampaikan kabar yang menggembirakan. Retail modern ini tidak hanya membuka pintu bagi produk lokal, tetapi juga secara aktif menyediakan ruang pamer gratis selama 2–3 hari untuk UMKM yang ingin mengenalkan produknya langsung ke pelanggan.

“Setiap hari kami dikunjungi sekitar 1.400–1.600 pelanggan. Di akhir pekan bisa sampai 2.500. Ini peluang luar biasa bagi UMKM lokal,” ujarnya.

Namun Leonn juga mengingatkan, masuk ke pasar modern tidak bisa dengan cara biasa. “Pernah ada produk yang habis di hari pertama karena antusiasme pembeli, tapi hari kedua dan ketiga tidak ada pasokan tambahan. Konsistensi suplai itu penting,” jelasnya.

Hypermart siap menjadi mitra, tetapi UMKM harus siap dengan standar pasokan, kualitas, dan legalitas. Di sinilah tantangan terbesar berada.

Tantangan Legalitas dan Standar Produksi

Masalah paling sering muncul justru di balik dapur—mulai dari kualitas air, kebersihan tempat produksi, hingga pengemasan dan label. Dalam sesi tanya jawab, Kak Ella dari Walang Perempuan menanyakan soal produksi sagu dan bagaimana UMKM bisa memenuhi standar kesehatan pangan.

Tamran Ismail dari BPOM menjawab dengan gamblang: “Dalam produksi pangan olahan, keamanan tidak hanya dinilai dari produk akhir. Tapi dari seluruh proses, mulai dari bahan baku, air yang digunakan, hingga cara penyimpanan.”
Air, misalnya, harus memenuhi standar kebersihan tertentu. Tempat produksi harus terpisah dari dapur rumah tangga biasa. Label produk harus menyertakan informasi gizi, komposisi, dan nomor izin edar.

Banyak pelaku UMKM tersandung di tahap ini, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Dukungan Pemerintah: Sertifikasi dan Teknologi

Untuk itu, peran pemerintah sangat krusial. Edward J. D dari BSPJI Ambon menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan berbagai layanan pendampingan teknis dan pembiayaan untuk pengembangan industri kecil, termasuk skema DAPATI—Dana Pengembangan Teknologi Industri.
“DAPATI memberikan skema bantuan 75% dari pemerintah dan 25% dari pelaku usaha,” ujar Edward. “Kami juga bantu dengan sertifikasi halal dan SNI, karena BSPJI adalah laboratorium resmi BPJPH.”

Sementara BPOM memiliki program “Desa Kenali Kelompok UMKM”, yang membantu pelaku usaha mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB), NPWP, dan izin edar secara digital. Semua proses bisa diakses secara daring melalui sistem e-registrasi.

Dengan kombinasi dukungan teknis dari BSPJI dan BPOM, serta akses pasar dari Hypermart, terbuka jalur konkret bagi UMKM lokal untuk tidak hanya tumbuh—tetapi juga bertahan dan bersaing.

Dari Maluku untuk Pasar yang Lebih Luas

Pintu sudah terbuka, tapi tangga masih harus dilalui satu per satu. UMKM lokal di Maluku kini berada di persimpangan: apakah akan tetap bermain di pasar terbatas, atau siap melangkah ke pasar yang lebih luas dengan segala tuntutannya?

Hypermart, BPOM, dan BSPJI menunjukkan bahwa ekosistem untuk mendukung UMKM sebenarnya sudah terbentuk. Yang dibutuhkan sekarang adalah kerja kolaboratif—pemberdayaan dari sisi kapasitas, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen untuk menaati standar mutu.

Dari dapur di desa hingga rak swalayan di kota, produk lokal Maluku kini punya peluang untuk bersaing. Yang dibutuhkan bukan hanya semangat, tapi juga kemampuan memenuhi standar dan keberanian untuk tumbuh. **SS&NH