Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku
- 02/06/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Membangun Kemandirian dari Kepingan yang Terluka:
Kiprah GASIRA dalam Memberdayakan Perempuan Penyintas di Maluku
Di tengah hiruk-pikuk Kota Ambon yang dikelilingi laut biru Maluku, sebuah yayasan kecil namun berpengaruh telah berdiri tegak selama hampir dua dekade, Yayasan GASIRA. Berdiri sejak 2007, Gasira tidak hanya menjadi rumah aman bagi para penyintas kekerasan, tetapi juga menjadi mercusuar harapan bagi transformasi ekonomi perempuan di wilayah kepulauan.

Lebih dari Sekadar Rumah Aman
Membuka diskusi dalam visitasi dampingan bersama KEHATI dan PIRAC pada Senin, 26 Mei 2025, Lies Marantika, Direktur Eksekutif GASIRA, menyampaikan data yang mencengangkan: sebanyak 39 kasus kekerasan seksual ditangani tahun lalu, dengan biaya hampir 2 juta rupiah per korban. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah panjang tentang proses pemulihan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis, tetapi juga berfokus pada keberlanjutan ekonomi para penyintas.
GASIRA telah berkembang jauh dari sekadar menyediakan layanan rumah aman. Sejak 2012, organisasi ini telah mengintegrasikan pendekatan holistik yang mencakup pemeriksaan kesehatan awal, layanan psikologis dari RSKJ dan RS Bhayangkara, hingga rujukan ke dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing kasus. Yang membedakan GASIRA adalah komitmennya pada penguatan kapasitas, memberikan pelatihan HAM, gender, konseling paralegal, dan advokasi kepada para penyintas.
Menjangkau Kepulauan Melalui Kemitraan Lokal
Geografis Maluku yang berupa kepulauan tidak menjadi penghalang bagi GASIRA untuk menjangkau komunitas terpencil. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, mereka bekerja sama dengan 30 wilayah kecil di Saparua, Nusa Laut, dan Haruko. Yang menarik, GASIRA tidak mengandalkan struktur formal semata, tetapi melibatkan lembaga adat dan keagamaan sebagai garda terdepan di daerah yang tidak memiliki organisasi formal.
“Kami melatih 8-10 orang dari tiap desa agar mampu memberikan pendampingan secara mandiri,” jelas Marantika. Pendekatan ini memungkinkan intervensi tidak lagi bergantung pada GASIRA secara langsung, melainkan melalui kader-kader lokal yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan memadai.
Inovasi Pendidikan: Dari Ruang Kelas hingga Kampanye Kreatif
Program pendidikan seksualitas dan gender untuk remaja SMP menjadi salah satu inovasi GASIRA yang patut dicontoh. Dengan melibatkan guru dari tiga bidang studi—Bimbingan Konseling, Biologi, dan Agama—program ini memastikan pemahaman yang utuh tentang tubuh, nilai-nilai agama, dan pendampingan psikososial.
Kreativitas juga menjadi kunci dalam kampanye mereka. Lomba mading bertema kekerasan seksual dan kampanye 16 Hari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan ruang ekspresi bagi remaja untuk memahami isu-isu sensitif melalui medium yang mereka sukai.
Dari Trauma Menuju Kemandirian Ekonomi
Transformasi paling menginspirasi datang dari program pemberdayaan ekonomi yang menargetkan perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan, dan perempuan miskin. Mie kelor dan sambal ikan julung (ikan roa) menjadi produk unggulan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri para penyintas.
Vuadi Genna Mailoa, Staff Advokasi dan Pendidikan GASIRA, menguraikan rencana ambisius mereka dalam proposal “Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan: Bimbingan Teknis Kewirausahaan Inklusif bagi Penyintas Kekerasan di Kota Ambon.” Program ini akan memberikan pembimbingan teknis mulai dari dasar-dasar memulai usaha, Bisnis Model Canvas, hingga strategi marketing.
“Tidak semua penyintas mengerti teknologi, jadi kami mulai dengan pendekatan door-to-door sebelum akhirnya mereka bisa beralih ke digital marketing,” ungkap Genna, menunjukkan kepekaan GASIRA terhadap kondisi riil para penyintas.
Sinergi Multi-Sektor: Kunci Keberlanjutan
Yang membuat GASIRA berbeda adalah kemampuannya membangun jaringan kolaborasi yang solid. Dari dukungan internasional seperti UN Women, SDGs Indonesia, New Zealand Embassy, dan Wilde Ganzen, hingga dukungan komunitas diaspora Perempuan Maluku di Belanda untuk kebutuhan institusional.
Pada pendampingan kunjungan lapangan di Kota Ambon, Tim PIRAC menggagas diskusi kolaborasi multi sektor yang melibatkan pemerintah dan perusahaan swasta. Beberapa Perusahaan seperti PT Matahari Putra TBK, BRI, BTN, pemerintah seperti BP POM, BSPJI dan lembaga filantropi seperti Dompet Duafa dan Human Initiative telah mengonfirmasi kehadiran mereka dalam kegiatan diskusi kolaborasi ini.
Nor Hiqmah dari PIRAC menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran: “Kami perlu memetakan minat dan fokus CSR masing-masing perusahaan, kemudian merancang kolaborasi yang saling menguntungkan.”
Visi Berkelanjutan: Dari Lokal Menuju Nasional
Strategi GASIRA untuk mendorong pemanfaatan produk lokal seperti mie kelor sebagai Pangan Tambahan (PMT) dalam program penanganan stunting menunjukkan visi jangka panjang mereka. Dengan menyesuaikan proposal agar selaras dengan indikator SDGs dan target CSR perusahaan, GASIRA bersiap menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.
Kesiapan teknis rumah produksi untuk memenuhi standar PIRT dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar produk dapat menembus pasar yang lebih luas dan berdaya saing.
Masa Depan yang Penuh Harapan
Melalui perpaduan layanan pemulihan trauma, pendidikan preventif, dan pemberdayaan ekonomi, GASIRA telah membuktikan bahwa penyintas kekerasan tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka sendiri. Dengan dukungan kolaborasi multi-sektor yang semakin menguat, visi untuk menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan bagi perempuan penyintas di Maluku tampak semakin nyata.
Di tengah tantangan geografis kepulauan dan kompleksitas isu kekerasan berbasis gender, GASIRA telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, komitmen yang kuat, dan kemitraan strategis, transformasi nyata bukanlah sekadar impian. Mereka adalah bukti hidup bahwa dari kepingan yang terluka, bisa tumbuh kekuatan yang mengubah tidak hanya nasib individu, tetapi juga masa depan komunitas. (*SS&NH)
