Visitasi Pendampingan PIRAC bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Papua
- 28/05/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Pendampingan
Jayapura, 22 Mei 2025 — Upaya penguatan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Papua kembali digencarkan. PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), dengan dukungan Ananta Fund – Yayasan KEHATI, melakukan pendampingan intensif kepada dua organisasi mitra di Jayapura, yakni Yayasan Harapan Ibu Papua (YHI) dan Lembaga Pengkajian dan Perlindungan Perempuan dan Anak Papua (LP3AP).
Pendampingan berlangsung selama dua hari, 21–22 Mei 2025, sebagai bagian dari inisiatif jangka panjang PIRAC untuk mendorong pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas aktor lokal.
Mengurai Tantangan OMS Papua
Pada hari pertama, PIRAC mengunjungi masing-masing organisasi untuk menggali potensi, tantangan, dan kebutuhan penguatan kelembagaan. Di Yayasan Harapan Ibu Papua, ditemukan sejumlah tantangan mendasar, terutama dalam aspek kapasitas teknis sumber daya manusia.
“Banyak relawan lapangan yang punya pengalaman hebat dalam mendampingi masyarakat. Tapi mereka masih kesulitan menulis laporan atau menarasikan temuan secara sistematis,” ujar salah satu pendamping PIRAC.

Selain itu, YHI juga menghadapi masalah klasik: keberlanjutan pendanaan. Meski sempat didukung oleh donor asing dan program pemerintah, ada masa ketika organisasi benar-benar tidak memiliki dana operasional. Namun semangat para aktivis tetap menyala. Salah satunya dengan berjualan produk olahan sagu demi menopang kegiatan organisasi.
Pendampingan hari kedua berlanjut di LP3AP. Direktur LP3AP, Akmiati, menyoroti masih kuatnya tantangan dalam mendorong sensitivitas dan keadilan gender di Papua.
“Perempuan di Papua belum benar-benar dianggap sebagai subjek pembangunan. Bahkan di kalangan OMS sendiri, alat analisis GEDSI belum digunakan secara maksimal,” ungkapnya.
Meski ada kemajuan di tingkat pemerintah daerah dalam memahami pentingnya isu gender, pendekatan yang dilakukan dinilai masih sporadis dan belum menyentuh akar persoalan sosial-budaya.
LP3AP juga menghadapi persoalan regenerasi. Semakin sedikit anak muda yang berminat bergabung dalam organisasi sosial. Pilihan mayoritas justru tertuju pada profesi yang lebih stabil secara finansial, seperti menjadi ASN. Tingginya biaya hidup di Papua turut memengaruhi ekspektasi insentif tenaga kerja, sehingga kerja sosial menjadi kurang menarik.
Pentingnya Dukungan Jangka Panjang
Baik YHI maupun LP3AP sepakat bahwa penguatan kapasitas SDM, pendampingan berkelanjutan, serta dukungan pendanaan yang lebih stabil sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas kerja-kerja OMS di Papua.
“Jika ingin mendorong transformasi sosial di Papua, maka OMS lokal harus diperkuat dari dalam. Dukungan pelatihan, pendampingan, dan insentif yang layak bisa menjadi kunci menarik minat generasi muda,” terang tim PIRAC.
Pendampingan ini menjadi langkah awal menuju perbaikan sistemik dalam pengelolaan organisasi masyarakat sipil di Papua—agar mereka tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan berdampak lebih luas.
