Di tengah dinamika global yang terus berkembang, kebutuhan sosial di berbagai belahan dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Untuk menjawab tantangan ini, investasi sosial swasta memegang peranan yang sangat penting. Namun, apa saja sebenarnya faktor-faktor yang mendorong atau justru menghambat pemberian dan penerimaan investasi sosial swasta tersebut? Pertanyaan ini dijawab secara komprehensif melalui Doing Good Index yang diterbitkan secara dua tahunan oleh CAPS.
Kini, laporan tersebut telah memasuki edisi kelima. Doing Good Index 2026 hadir dengan mengkaji berbagai perkembangan penting selama dua tahun terakhir guna membantu memetakan arah sektor sosial di Asia. Berdasarkan data orisinal dan bukti yang solid, laporan ini menyajikan tinjauan mendalam mengenai kondisi infrastruktur sosial di kawasan regional serta menawarkan cetak biru kebijakan untuk membangun masa depan yang lebih adil.
Edisi kelima dari Doing Good Index ini disusun berdasarkan data berbasis bukti yang diperoleh melalui metode yang sangat ketat. CAPS melibatkan total 2.166 organisasi penyedia layanan sosial (SDO) sebagai responden dalam survei orisinal mereka. Selain itu, laporan ini juga diperkaya melalui konsultasi mendalam dengan 132 pakar yang tersebar di 17 negara atau wilayah ekonomi Asia.
Tidak hanya berfokus pada evaluasi umum, Doing Good Index 2026 juga memperluas cakupannya dengan memuat sejumlah bagian khusus yang sangat relevan dengan situasi saat ini. Laporan ini mencakup:
- Bagian tematik khusus mengenai peran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam membentuk sektor sosial Asia.
- Analisis mendalam mengenai pola pendanaan yang berlaku di kawasan tersebut.
- Kajian terkait tingkat adopsi teknologi oleh organisasi penyedia layanan sosial.
- Profil khusus yang menyoroti kondisi di Mongolia.
Melalui cakupan yang luas ini, laporan menyajikan potret komprehensif mengenai bagaimana sektor sosial beroperasi dan menghadapi berbagai tantangan kontemporer di tingkat regional.
Dalam mengkaji perkembangan sektor sosial, Doing Good Index 2026 menaruh perhatian penuh pada empat komponen utama Indeks. Keempat komponen tersebut meliputi regulasi, kebijakan pajak dan fiskal, ekosistem, serta pengadaan. Laporan mengkaji bagaimana komponen-komponen ini telah berkembang selama dua tahun terakhir di 17 negara/wilayah ekonomi Asia.
Kajian ini dilakukan di tengah situasi dunia yang cukup menantang. Saat ini, kawasan Asia dihadapkan pada situasi menurunnya bantuan pembangunan, menyempitnya ruang fiskal, dan di sisi lain, meningkatnya kebutuhan sosial secara drastis.
Menghadapi kondisi tersebut, Indeks 2026 menemukan sebuah realitas penting: Asia sebenarnya telah berhasil membangun infrastruktur untuk melakukan kebaikan (doing good). Kendati demikian, komponen-komponen di dalamnya tidak selalu berjalan selaras. Ketidakselarasan ini pada akhirnya membatasi kemampuan sektor sosial untuk meningkatkan skala operasionalnya, melakukan inovasi, serta merespons berbagai kebutuhan yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Di balik tantangan ketidakselarasan infrastruktur yang dihadapi sebagian besar wilayah di Asia, laporan ini juga mencatat sebuah pencapaian penting dan bersejarah. Singapura berhasil mencatatkan namanya sebagai negara atau wilayah ekonomi pertama yang masuk ke dalam klaster baru bernama “Doing Excellent” atau Kinerja Sangat Baik.
Pencapaian luar biasa ini menunjukkan potensi nyata yang dapat dicapai ketika seluruh elemen pendukung beroperasi secara harmonis. Keberhasilan Singapura membuktikan bahwa saat regulasi, insentif pajak, faktor ekosistem, dan pengadaan saling selaras, sektor sosial dapat mencapai tingkat kinerja yang optimal serta memberikan dampak yang jauh lebih luas bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, Doing Good Index 2026 menegaskan bahwa meskipun infrastruktur untuk berbuat baik telah terbangun di Asia, masih terdapat pekerjaan rumah besar terkait penyelarasan komponen-komponen pendukungnya agar sektor ini tidak terbatasi dalam skala, inovasi, dan responsivitasnya.
Sebagai solusi ke depan, Indeks ini menawarkan cetak biru kebijakan dan praktik yang dapat dimanfaatkan untuk membuka potensi modal sosial swasta secara maksimal. Melalui penerapan cetak biru tersebut, sektor publik, swasta, dan sosial diharapkan dapat mempererat kerja sama guna membangun Asia yang jauh lebih kuat dan lebih adil bagi semua.



