Satu dekade terakhir menjadi saksi bisu bagaimana geliat kedermawanan masyarakat Indonesia tumbuh luar biasa. Saat krisis ekonomi melanda atau bencana alam terjadi, solidaritas publik selalu hadir menjadi jaring pengaman sosial yang tangguh. Namun, di balik kedermawanan yang masif ini, sektor sosial kita masih menghadapi tantangan struktural yang berliku. Regulasi yang tersebar di berbagai kementerian, insentif pajak yang belum optimal, hingga sistem pendukung yang belum kokoh sering kali memperlambat ruang gerak Organisasi Masyarakat Sipil (OMS).

Untuk memotret dinamika ini secara objektif, Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS) meluncurkan Doing Good Index (DGI) 2026. Melalui kolaborasi bersama Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC), kajian dua tahunan ini hadir untuk memetakan kesehatan dan kesejahteraan sektor sosial di Asia, termasuk Indonesia. Bagaimana rapor Indonesia tahun ini? Apa saja peluang dan hambatan yang perlu kita urai bersama?

Berbeda dari edisi sebelumnya, DGI 2026 kini mengelompokkan negara-negara Asia ke dalam lima klaster performa: Not Doing Enough, Doing Okay, Doing Better, Doing Well, hingga yang tertinggi Doing Excellent. Penilaian ini didasarkan pada empat pilar utama yang menentukan subur atau gersangnya ekosistem filantropi di suatu negara.

PIRAC bersama para mitra melihat bahwa hasil riset ini bukan sekadar angka di atas kertas. Rapor ini merupakan cermin sekaligus kompas arah bagi para pengambil kebijakan, pelaku lembaga filantropi, serta organisasi masyarakat sipil untuk berbenah.

Menyikapi hasil temuan studi global tersebut, sebuah ruang dialektika bertajuk Launching & Diskusi Publik: Membedah Rapor DGI 2026 dan Masa Depan Sektor Sosial di Indonesia akan digelar. Agenda ini mempertemukan para pakar, pembuat kebijakan, dan praktisi lapangan untuk merumuskan strategi taktis.

Berikut adalah pokok pikiran utama yang akan dibedah oleh para narasumber:

  • Membangun Ekosistem Kondusif Lewat Data
    Ninik Annisa, MA (Direktur Eksekutif PIRAC) menekankan bahwa pemanfaatan data hasil survei mampu mengarahkan gerakan sosial yang lebih terukur. Data ini mempermudah kita mengenali bagian ekosistem mana yang macet dan mana yang perlu diakselerasi.
  • Reformasi Fiskal untuk Keberlanjutan Organisasi
    Dr. Ning Rahayu, M.Si (Dosen Ilmu Kebijakan Pajak Universitas Indonesia) menyoroti pentingnya insentif fiskal. Kebijakan pajak yang ramah terhadap donasi bisa menjadi bahan bakar utama bagi kemandirian finansial OMS dalam jangka panjang.
  • Harmonisasi Regulasi Demi Target SDGs
    Maharani, S.E., M.B.A. (Kementerian PPN / BAPPENAS) memaparkan bagaimana peran pemerintah dalam merancang regulasi yang sehat. Sektor sosial yang kuat dapat mempercepat pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.
  •  Menjaga Landskap Akuntabilitas Publik
    Udhi Tri Kurniawan, M.Si (General Manager Program Dompet Dhuafa)menggarisbawahi bahwa kepercayaan publik adalah mata uang utama sektor sosial. Ekosistem kedermawanan yang sehat dibangun di atas tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Melalui sinergi ini, upaya advokasi kebijakan ke depan diharapkan memiliki basis data yang kuat, sehingga tidak lagi bergerak meraba-raba dalam gelap.

Mengubah wajah sektor sosial Indonesia membutuhkan kerja kolektif. Menghadiri dan terlibat dalam diseminasi hasil survei ini menjadi langkah awal untuk memahami posisi kita dalam peta filantropi Asia.
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
📅 Selasa 14 Juli 2026
🕘 09.00 – 12.00 WIB
🏢 Philanthropy Building Dompet Dhuafa – Jatipadang – Jakarta Selatan
Peta Google Maps >> https://s.id/ol5xn
📱 Zoom Online : https://s.id/zoomDGI2026

Diskusi ini terbuka bagi responden Social Delivery Organization (SDO), pegiat lembaga sosial, sektor swasta, penggerak wirausaha sosial, akademisi, hingga rekan media. Partisipasi aktif Anda dalam agenda ini akan membantu memperjelas arah perbaikan regulasi dan ekosistem sosial demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif.