Di Desa Lebah Sempage, Lombok Barat, kehidupan masyarakat berjalan di antara dua wajah: realitas keterbatasan dan keteguhan menjaga harapan. Desa ini tak hanya menyimpan cerita tentang kemiskinan, terbatasnya akses pekerjaan, dan kerentanan sosial ekonomi—tetapi juga menyimpan denyut tekad warga untuk bangkit, memperbaiki hidup, dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Dalam konteks inilah, proses penggalian data dan cerita lapangan yang dilakukan PIRAC untuk mendukung Program Memphis PGA yang diinisiasi Yayasan Islamic Relief Indonesia menemukan relevansinya: memahami suara warga secara langsung, bukan sekadar melalui angka, tetapi melalui pengalaman hidup, kebutuhan riil, dan aspirasi yang nyaris selalu bertabrakan dengan tantangan struktural yang mereka hadapi sehari-hari.
Dinamika Sosial Ekonomi & Budaya
Lebah Sempage menghadirkan dinamika sosial ekonomi yang kompleks. Di satu sisi, warga masih bergulat dengan terbatasnya lapangan pekerjaan layak, pendapatan yang fluktuatif, dan keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Beberapa keluarga bertahan hidup dengan penghasilan yang tak menentu; sebagian lain menggantungkan hidup pada pekerjaan informal yang tidak selalu memberikan jaminan keberlanjutan. Situasi ini seringkali diperparah oleh faktor budaya dan kebiasaan lokal yang pada titik tertentu justru membentuk pola pikir pasrah pada kondisi yang ada, meski di saat bersamaan mereka sesungguhnya menyimpan keinginan kuat untuk berubah.
Lebah Sempage bukanlah desa yang hanya bisa digambarkan dengan kata “keterbatasan”. Ada potensi yang nyata, baik dari kekuatan sosial budaya, modal sosial warga, maupun peluang ekonomi yang bisa dikembangkan. Ikatan sosial masyarakat masih kuat; gotong royong masih hidup; kehadiran tokoh masyarakat, pemuka agama, dan kelompok perempuan menjadi energi sosial penting. Selain itu, peluang pengembangan usaha kecil, sektor pertanian, peternakan, hingga potensi ekonomi lokal sebenarnya terbuka jika mendapatkan dukungan yang tepat: akses pelatihan, pendampingan usaha, peningkatan kapasitas, serta penguatan manajemen ekonomi keluarga.
Asa untuk Bangkit
Di balik semua itu, harapan masyarakat Lebah Sempage terhadap kehidupannya sebenarnya sederhana namun sangat bermakna: hidup yang lebih stabil, pendapatan yang lebih layak, pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak, dan kondisi keluarga yang lebih aman serta bermartabat. Mereka memandang Program Memphis PGA sebagai sesuatu yang tidak hanya “datang membawa bantuan”, tetapi diharapkan menjadi mitra perubahan—membantu membuka akses pengetahuan, memperkuat kapasitas ekonomi, menghadirkan pendekatan pemberdayaan yang sensitif terhadap konteks lokal, sekaligus memastikan warga tidak hanya menjadi objek program, tetapi subjek dari perubahan itu sendiri.
Meski demikian, jalan menuju perubahan tidaklah mulus. Ada sejumlah tantangan krusial yang perlu dimitigasi secara serius. Dari sisi masyarakat, tantangan terbesar seringkali bukan hanya pada kemiskinan material, tetapi pada pola pikir, kesiapan bertransformasi, dan keberlanjutan partisipasi warga dalam program. Dari sisi program, keberhasilan Memphis PGA akan sangat ditentukan oleh kemampuan membaca konteks lokal secara tepat, memastikan inklusivitas, membangun kepercayaan warga, serta menjamin keberlanjutan intervensi yang tidak berhenti hanya sebagai proyek jangka pendek. Dengan demikian, kerja bersama antara masyarakat, pemerintah desa, dan Memphis PGA menjadi kunci: memastikan bahwa harapan masyarakat Lebah Sempage tidak berhenti sebagai “asa yang dititipkan”, tetapi benar-benar bergerak menjadi proses perubahan yang nyata. (NA)
Sumber photo : Google Maps/@Machroen Lombok