Suara dari Pakisrejo Harapan Masyarakat untuk Keluar dari Kemiskinan
- 18/12/2025
- Posted by: Bung Administrator
- Categories: Berita, Studi dan Riset
Blitar, 5 Desember 2025 – Di sebuah ruang pertemuan Kantor Lurah Pakisrejo, suara-suara perempuan dan kepala keluarga dari berbagai latar belakang berkumpul dalam sebuah diskusi yang penuh harapan. Mereka adalah wajah-wajah dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa: pedagang sayur keliling, buruh tani, peternak skala kecil, hingga janda yang berjuang sendiri menghidupi keluarga.
Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi oleh Nor Hiqmah ini menjadi momentum penting untuk mendengarkan langsung kebutuhan dan aspirasi masyarakat Desa Pakisrejo terkait rencana pelaksanaan Program MEMPHIS oleh Islamic Relief. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengambilan data baseline study Kerjasama Yayasan Islamic Relief dengan PIRAC.
Realitas Kehidupan yang Tidak Menentu
“Kami hidup dari hasil jualan sayur dan buruh tani. Penghasilannya tidak tentu, tergantung musim,” ungkap salah satu peserta yang merupakan pelaku UMKM. Pernyataan ini seolah mewakili kondisi mayoritas warga Pakisrejo yang hadir dalam diskusi.
Dari 12 peserta yang hadir, sebagian besar adalah perempuan kepala keluarga dengan penghasilan rendah. Mereka menggantungkan hidup pada pekerjaan informal yang sangat bergantung pada kondisi hari itu. Ketika musim panen tiba, ada penghasilan. Namun ketika gagal panen atau cuaca tidak bersahabat, keluarga harus menyesuaikan kebutuhan dasar mereka, bahkan untuk urusan makan sehari-hari.
Bagi keluarga tanpa lahan pertanian, situasinya lebih berat lagi. Mereka hanya bisa mengandalkan upah harian yang tidak menentu, membuat perencanaan jangka panjang menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.

Nasi dan Lauk Seadanya
Ketika membicarakan konsumsi sehari-hari, peserta FGD mengakui bahwa menu makanan keluarga mereka sangat sederhana: nasi dengan tempe, tahu, atau telur jika ada uang. Protein hewani seperti ikan atau daging hanya bisa dinikmati sesekali. Buah-buahan? Hanya ketika ada panen dari kebun sendiri atau ketika harga sedang murah di pasar.
“Kami tahu kebutuhan gizi belum terpenuhi dengan baik, terutama untuk anak-anak. Tapi mau bagaimana, harus disesuaikan dengan uang yang ada,” tutur salah satu ibu yang juga anggota kelompok rentan.
Untuk ibu hamil dan balita, bantuan PMT dari posyandu memang membantu, namun belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan gizi harian. Kondisi ini menunjukkan perlunya edukasi dan dukungan ekonomi agar keluarga dapat menyediakan makanan yang lebih beragam dan bernutrisi.
Kelompok Paling Rentan
Diskusi juga mengidentifikasi kelompok-kelompok yang paling kesulitan memenuhi kebutuhan hidup: janda tanpa penopang ekonomi, lansia yang hidup sendiri tanpa dukungan keluarga, buruh tani dan pekerja serabutan, serta rumah tangga dengan anggota yang mengalami penyakit kronis atau disabilitas.
Peserta menilai bahwa proses pendataan program sudah cukup baik, namun masih ada beberapa keluarga rentan yang terlewat, terutama mereka yang tinggal jauh dari pusat dusun atau jarang terlibat dalam kegiatan desa. Mereka mendorong agar pendataan dilakukan lebih mendalam hingga ke level RT untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Akses Layanan yang Belum Merata
Meski berbagai bantuan sosial seperti BPNT, PKH, dan BLT telah tersedia, peserta FGD menyoroti bahwa akses terhadap layanan tersebut belum sepenuhnya merata. Masalah utama terletak pada ketidakakuratan data penerima manfaat.
“Ada yang sebenarnya lebih butuh tapi tidak dapat bantuan, sementara yang relatif mampu justru terdaftar sebagai penerima,” ungkap salah satu peserta. Situasi ini menimbulkan kesenjangan dan rasa ketidakadilan di kalangan warga.
Kelompok yang paling sering kesulitan mengakses layanan adalah mereka yang tidak memiliki jaringan informasi yang baik, memiliki keterbatasan mobilitas, atau enggan terlibat dalam proses administratif.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Di penghujung diskusi, peserta FGD menyampaikan harapan besar mereka. Lebih dari sekadar bantuan konsumtif, mereka mengharapkan program yang dapat memperkuat ekonomi keluarga secara berkelanjutan: bantuan pengembangan usaha, pelatihan keterampilan kerja, dan akses modal usaha.
“Kami bersedia terlibat aktif dalam program apapun yang akan dilaksanakan. Kami ingin belajar dan mengembangkan usaha agar bisa hidup lebih baik,” ujar salah satu single parent dengan penuh semangat.
Mereka juga menekankan pentingnya peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, serta keterlibatan yang terbuka, transparan, dan inklusif bagi semua warga, termasuk perempuan, pemuda, lansia, dan kelompok rentan.
Penutup
FGD di Desa Pakisrejo bukan sekadar pertemuan formalitas. Ini adalah kesempatan berharga untuk mendengar suara langsung dari masyarakat yang akan menjadi penerima manfaat Program MEMPHIS. Diskusi selama dua jam ini menghasilkan gambaran jelas tentang kondisi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.
Dengan proses yang akuntabel, berbasis kebutuhan nyata, dan melibatkan partisipasi masyarakat, Program MEMPHIS diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat Desa Pakisrejo.** (NH)
