Masa Depan Pendidikan Global dan Peran Strategis Filantropi di Indonesia

Tanoto Foundation dan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) baru-baru ini menyelenggarakan sebuah sesi berbagi pengetahuan istimewa yang menjadi bagian dari Philanthropy Learning Forum ke-78. Mengambil tajuk “Tren dalam Pendidikan Global dan Rekomendasi untuk Pendidikan Indonesia”, forum ini menghadirkan Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, sebagai pembicara utama. Diskusi yang digelar pada 12 Desember 2025 di Gedung Tanoto Foundation, Jakarta Pusat, ini menjadi sorotan penting bagi pemangku kepentingan di sektor sosial, termasuk bagi PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) yang diwakili oleh Ari Syarifudin, sebagai anggota aktif dari PFI.

Andreas Schleicher mengawali presentasinya dengan memaparkan lanskap global yang penuh ketidakpastian, sebuah realitas yang tak terhindarkan bagi generasi mendatang . Tantangan global seperti perubahan iklim, gejolak ekonomi, konflik yang meningkat, hingga munculnya kecerdasan buatan atau General Artificial Intelligence (AI) secara masif, menuntut sistem pendidikan untuk bertransformasi . Beliau menyoroti sebuah pola historis: jenis pekerjaan yang mudah diajarkan cenderung mudah didigitalisasi dan diotomatisasi . Hal ini menciptakan perlombaan abadi antara teknologi dan pendidikan. Jika di era Revolusi Industri, pendidikan publik universal berhasil menjadi penyeimbang untuk menghasilkan kemakmuran, maka di era revolusi digital saat ini, sistem pendidikan harus bekerja keras untuk memastikan manusia tetap unggul dalam tugas-tugas non-rutin dan berbasis teknologi intensif . Ini berarti, sekolah tidak lagi cukup hanya mengajarkan apa yang sudah diketahui, melainkan harus membekali siswa dengan kompetensi untuk beradaptasi, berinovasi, dan menghadapi masalah yang belum pernah ada sebelumnya.

Lebih lanjut, diskusi juga menyentuh tren perkembangan yang paling hangat: pembelajaran berbasis AI. Schleicher memaparkan bahwa AI memiliki dua sisi mata uang yang harus dikelola dengan bijak . Di satu sisi, AI dapat mempersonalisasi dan mempercepat proses belajar, bahkan berpotensi mendorong kesetaraan dalam mengakses pengajaran berkualitas. Namun, tanpa panduan yang tepat, ketergantungan pada AI dapat menimbulkan risiko “kemalasan metakognitif,” mengurangi keterlibatan otak, dan bahkan menurunkan daya ingat siswa, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa studi internasional . Kunci suksesnya terletak pada guru. AI harus menjadi alat yang memberdayakan guru sebagai perancang lingkungan belajar yang inovatif, bukan sebagai pengganti atau mendikte pengajaran.

Untuk mengimbangi dampak AI dan tantangan global, sistem pendidikan harus berfokus pada pengembangan guru dan siswa secara holistik. Guru harus didorong untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengajar, kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan sekolah, dan ruang untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat . Sementara itu, siswa perlu menjadi “pembelajar yang berdaya” (empowered learners)—sosok yang mampu menyesuaikan diri dengan dunia yang mereka tinggali, melihat perubahan sebagai peluang, dan didukung untuk mengatasi tantangan yang mereka hadapi . Ini adalah pergeseran pedagogi yang menempatkan ketahanan (resilience) dan keberlanjutan (sustainability) sebagai fondasi utama pendidikan.

Melihat besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, tren Filantropi pendidikan semakin menempati posisi yang tak terhindarkan. Kolaborasi antara organisasi seperti Tanoto Foundation, Perhimpunan Filantropi Indonesia, dan lembaga lainnya menjadi kunci untuk mengisi celah antara kebutuhan sistem dan kapasitas yang tersedia. Organisasi filantropi indonesia tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga membawa perspektif, inovasi, dan kemitraan strategis, khususnya dalam meningkatkan kualitas guru dan mempercepat adopsi pedagogi adaptif.

Dalam konteks ini, PIRAC hadir sebagai lembaga riset yang memegang peran sentral dan kritis. Sebagai lembaga riset dan advokasi, peran PIRAC sangat vital dalam memastikan bahwa setiap rupiah dan upaya yang disalurkan oleh sektor filantropi untuk pendidikan benar-benar efektif dan berbasis bukti. Mandat PIRAC untuk meningkatkan literasi publik mengenai isu filantropi, termasuk regulasinya, menjadi penguat bagi ekosistem filantropi di Indonesia. Dengan menganalisis dan mendokumentasikan praktik-praktik terbaik, PIRAC membantu filantropis, pemerintah, dan masyarakat untuk memahami bagaimana investasi di sektor pendidikan menghasilkan dampak yang maksimal, sekaligus mendorong akuntabilitas dan transparansi. Kehadiran perwakilan PIRAC di Philanthropy Learning Forum ini menegaskan komitmen mereka untuk terus menjadi jembatan antara data dan kebijakan, sehingga tren Filantropi pendidikan dapat bertumbuh menjadi gerakan yang lebih strategis dan transformatif.

Kesimpulannya tantangan pendidikan global dan domestik sangat besar, tetapi peluang yang menanti di depan, khususnya potensi ekonomi sebesar 808% PDB Indonesia, jauh lebih besar. Realitas ini menuntut sinergi antara kebijakan yang berani, transformasi peran guru, dan dukungan strategis yang terukur dari filantropi indonesia. Dengan adanya peran aktif PIRAC dalam menganalisis dan mengadvokasi, harapan untuk membangun sistem pendidikan yang tangguh, relevan, dan mampu menghasilkan empowered learners bagi masa depan bangsa dapat segera terwujud.