Kemitraan Filantropi Pendidikan: Momentum Sinergi Lintas Sektor Pascakrisis

JAKARTA, 18 November 2025 – Upaya penguatan ekosistem pendidikan nasional memasuki fase baru. Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), bersama Bakti Barito, dan Klaster Filantropi Pendidikan (KFP) PFI, menggelar dialog strategis bertajuk Philanthropy Sharing Session #51. Forum daring yang diselenggarakan melalui Zoom Cloud Meeting ini menjadi momentum krusial untuk mendorong sinergi antara pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dengan puluhan lembaga filantropi.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan di lapangan, kolaborasi lintas sektor yang bertema “Kemitraan Strategis untuk Inovasi Kolaboratif dan Keberlanjutan Ekosistem Filantropi Pendidikan di Indonesia” ini menegaskan peran filantropi sebagai pelengkap yang strategis. Kehadiran sekitar 50 perwakilan, yang mayoritas merupakan Manajer Program atau Manajer Kemitraan dari lembaga-lembaga filantropi, menunjukkan tingkat komitmen sektor ini dalam memperkuat akses, mutu, dan relevansi pendidikan di Indonesia.  Dalam acara ini PIRAC diwakili oleh Ari Syarifudin berkesempatan hadir dalam  kegiatan ini. 

Klaster Filantropi Pendidikan (KFP) sendiri didirikan sebagai wadah kolaborasi untuk berbagi praktik baik, mengembangkan kemitraan, dan mendorong inovasi program. Secara umum agenda forum ini memiliki tiga tujuan yaitu :

  • Menjadi ruang diskusi dan pertukaran informasi antar Multi-Stakeholder mengenai fokus dan pendekatan program.
  • Mengidentifikasi peluang sinergi dan kolaborasi antar Multi-Stakeholder dengan lembaga anggota klaster.
  • Mendorong penguatan koordinasi dan komunikasi untuk memperkuat ekosistem filantropi pendidikan.

Ada dua narasumber yang mempresentasikan materi diskusi.  Yang pertama yaitu  Vivi Andriani, S.T., M.Sc., Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Kemendikdasmen RI yang membawakan materi mengenai “Kolaborasi Pemerintah dan Filantropi untuk Akselerasi Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan”.  Narasumber kedua yaitu Bukik Setiawan, Koordinator Klaster Filantropi Pendidikan sekaligus Ketua Yayasan Guru Belajar. Bung Nukik membawakan materi mengenai “Kemitraan Strategis Pendidikan Indonesia”.

Acara dibuka oleh Wakil Ketua Badan Pengurus PFI dan Direktur Bakti Barito, Dian A. Purbasari, dalam sambutannya, menyoroti bahwa kontribusi filantropi harus berorientasi pada dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat. Bakti Barito, yang merupakan salah satu pelaksana kegiatan, menekankan perannya dalam mengkatalisasi kondisi yang dibutuhkan untuk Indonesia yang lebih berkelanjutan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Sesi utama forum diisi dengan Diskusi Interaktif yang membahas “Kolaborasi Pemerintah dan Filantropi untuk Akselerasi Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan,” dengan narasumber dari Vivi Andriani, S.T., M.Sc., Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Kemendikdasmen RI. Dalam presentasinya, Ibu Vivi menegaskan bahwa mereka terus mendorong kemitraan strategis untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas program pendidikan. Semua program strategis ini diletakkan dalam kerangka tata kelola Partisipasi Semesta Pendidikan Berkelanjutan (PSPB). Dengan berkolaborasi melalui platform Rumah Pendidikan, Klaster Filantropi Pendidikan (KFP) PFI dapat memastikan bahwa setiap dana yang disalurkan bukan sekadar donasi sesaat, melainkan investasi yang terukur, terintegrasi dengan kebijakan, dan memberikan dampak berkelanjutan dalam kurun waktu RPJPN 2025-2045.

Ini adalah kesempatan bagi filantropi untuk menjadi mitra strategis yang terverifikasi, tidak hanya membantu, tetapi bersama-sama pemerintah, menjadi arsitek fondasi pendidikan yang kuat untuk Generasi Emas 2045. Kontribusi yang sistemik pada pilar Wajib Belajar 13 Tahun, lulusan STEAM, dan pendidikan inklusif akan menjamin Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia unggul yang mampu berkompetisi di panggung global.

Usai pemaparan dilanjutkan dengan tanggapan atas materi dari perwakilan Pemerintah. Muhammad Shirli Gumilang (Ketua Sekolah Guru Literat GREAT Edunesia – Dompet Dhuafa)  sebagai moderator diskusi memberikan kesempatan kepada Bapak  Bukik Setiawan, Koordinator Klaster Filantropi Pendidikan sekaligus Ketua Yayasan Guru Belajar, memaparkan pandangan klaster mengenai sinergi program. Bukik mengingatkan kembali ke forum bagaimana memastikan kerja sama yang terbangun dapat lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan.  Sektor filantropi memiliki potensi unik yang menjadikannya mitra tak tergantikan bagi pemerintah. Potensi ini adalah kemampuan bergerak lincah di luar batasan birokrasi dan siklus politik. 

Menurut Bukik Setiawan, fFilantropi, dengan modal inovasi, kedekatan akar rumput, dan kelincahannya, siap menjadi ujung tombak perubahan. Kini, tantangan ada di tangan pemerintah untuk membuka pintu birokrasi selebar-lebarnya, menyerap praktik baik ini, dan merangkainya menjadi kebijakan yang kuat demi terwujudnya visi #SemuaMuridSemuaGuru yang berpihak pada anak Indonesia.

PIRAC (Yayasan Public Interest Research & Advocacy Center), lembaga yang fokus pada riset dan advokasi, melihat diskusi interaktif dan tanya jawab berjalan intensif. Peserta yang hadir merupakan decision-makers di tingkat manajerial, memungkinkan adanya identifikasi yang lebih cepat terhadap potensi co-creation dan co-funding di masa depan.

Forum ini secara eksplisit menjadi bentuk sinergi antara Kemendikdasmen dan PFI dalam mendorong partisipasi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional melalui kolaborasi, ko-kreasi, dan aksi kolektif.

Penutup: Konsolidasi Komitmen

PIRAC melihat konsolidasi pemahaman bersama mengenai arah program sektoral  dianggap tercapai. Keberhasilan acara yang diselenggarakan secara daring ini menggarisbawahi urgensi penguatan koordinasi antara Multi-Stakeholder..

Dengan kolaborasi antara anggota PFI diharapkan tercipta langkah-langkah konkret menuju kemitraan yang terstruktur dan berdampak. Sektor filantropi telah hadir dengan komitmen kuat; kini, tantangannya adalah menerjemahkan dialog strategis ini menjadi aksi kolektif yang mampu mengakselerasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh penjuru negeri.