Revolusi Keuangan CSO Mengapa Organisasi seperti PIRAC Tinggalkan ‘Kebanggaan’ Overhead Kecil?

JAKARTA, 11 November 2025 – Sebuah gerakan fundamental tengah bergulir di kalangan Organisasi Masyarakat Sipil (CSO)  di Indonesia, menyerukan untuk meninggalkan praktik penganggaran usang yang justru mengancam keberlangsungan misi organisasi. Organisasi-organisasi kunci, termasuk mereka yang independen dan berfokus pada penelitian, pelatihan, konsultasi, advokasi, serta penguatan masyarakat sipil di bidang filantropi seperti PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), kini berada di garis depan dalam mengadopsi model Penganggaran Strategis demi mencapai resiliensi finansial yang sesungguhnya.

Inisiatif ini mendesak CSO untuk keluar dari jebakan yang disebut ‘Siklus Kelaparan’ (Starvation Cycle).

Jebakan ‘Overhead’ dan Ancaman Misi

Selama bertahun-tahun, banyak CSO menganggap rendahnya biaya overhead (biaya pendukung non-program) sebagai indikator efisiensi, bahkan sebuah kebanggaan. Namun, anggapan ini terbukti melemahkan.

Novi Meyanto, Co-Director dari Yayasan PLUS, membagikan pengalaman pahit organisasinya. “Banyak CSO suka bangga bilang, overhead kami kecil sekali. Tapi tahu enggak, justru itu yang sering bikin organisasi kita kelaparan,” ungkap Novi.

Yayasan PLUS, misalnya, pernah hanya mencantumkan sekitar 10% atau kurang untuk biaya pendukung dalam proposal hibah. Setelah dana cair, mereka baru menyadari kekurangan dana untuk staf keuangan, administrasi, dan operasional dasar, yang memaksa mereka menombok dari proyek lain.

“Padahal program yang efektif itu cuma bisa jalan kalau infrastrukturnya kuat, jika biaya pendukung ditekan habis-habisan, maka staf kelelahan, laporan telat, dan sistem terbatas,” tegas Novi.

Pergeseran Paradigma yang Didukung PIRAC

Menanggapi situasi ini dan temuan riset UGM yang menyebut banyak CSO belum berhasil maka dibutuhkan pergeseran fundamental. Isu keuangan tidak boleh lagi dianggap hanya tugas bendahara atau direktur, melainkan harus menjadi nilai strategis organisasi.

Organisasi didorong beralih dari Project Finance (Keuangan Proyek) yang hanya fokus melacak arus kas menjadi Organizational Finance (Keuangan Organisasi).

Pergeseran ini menuntut informasi keuangan dipakai secara strategis oleh seluruh tim, termasuk tim fundraising, untuk membuat keputusan yang lebih cerdas dan strategis demi keberlanjutan organisasi.

PIRAC menyadari bahwa tanpa kesehatan finansial yang kuat, upaya kerja-kerja terbaik pun tidak akan tercapai. Oleh karena itu, PIRAC sebagai lembaga yang yang kredibel, secara aktif menyuarakan bahwa CSO harus berani berinvestasi pada tim dan sistem internal sebagai fondasi utama keberlanjutan.

 Tiga Pilar Strategi Keuangan Wajib Adopsi

 Model Penganggaran Strategis yang kini menjadi blueprint keberlanjutan memiliki tiga pilar utama yang wajib diadopsi:

  1. Diversifikasi Sumber Dana: Organisasi harus mengurangi ketergantungan pada satu atau dua donor besar. Diversifikasi ke hibah jangka panjang, proyek kerjasama, hingga layanan konsultasi berfungsi sebagai bantalan penting agar misi tetap berjalan.
  2. Skenario Budgeting: Karena situasi politik dan ekonomi sering berubah, CSO harus siap dengan berbagai kemungkinan. Ini dilakukan dengan membuat minimal tiga versi anggaran berdasarkan proyeksi masa depan yaitu realistik, optimistik, dan terbaik.
  3. Memetakan Semua Pengeluaran (Investasi Kesehatan): Untuk memutus starvation cycle, semua biaya, termasuk gaji staf, komunikasi, listrik, dan sistem IT harus dianggap sebagai Indirect Cost yang esensial. Ini adalah pengakuan bahwa biaya-biaya tersebut adalah bagian penting juga dari keberlanjutan organisasi.

Misi CSO mungkin bukan soal uang, namun Novi Meyanto mengingatkan, “tanpa keuangan yang sehat, visi kita juga enggak akan tercapai”. Melalui adopsi penganggaran strategis, PIRAC menunjukkan kesiapan dan menjadi lebih percaya diri saat negosiasi, serta memastikan misi tetap berjalan, bahkan ketika kondisi eksternal berubah drastis. (SRI S)