Gotong Royong Modern: Menakar Peran Filantropi Indonesia
dalam Mewujudkan SDGs

Pernahkah Anda mendengar tentang SDGs? Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bukan sekadar daftar cita-cita global di atas kertas. Ini adalah misi kemanusiaan untuk menghapus kemiskinan, menjaga planet bumi, dan memastikan perdamaian serta kesejahteraan bagi semua orang pada tahun 2030. Di Indonesia, misi besar ini tidak hanya dipanggul oleh pemerintah, tetapi juga diperkuat oleh para “dermawan modern” yang kita kenal sebagai lembaga filantropi. Sebuah riset mendalam yang dilakukan oleh PIRAC dan Filantropi Indonesia pada tahun 2020 mengungkapkan bagaimana yayasan keluarga, perusahaan, hingga lembaga keagamaan bahu-membahu menyelaraskan sumber daya mereka demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Langkah awal dari gerakan ini dimulai dengan komitmen. Riset menunjukkan bahwa mayoritas lembaga filantropi di Indonesia sudah mulai “berbicara” dalam bahasa SDGs. Komitmen mereka bukan sekadar janji manis, melainkan sudah tertuang dalam laporan program (26%) dan rencana strategis organisasi (23%). Artinya, isu-isu seperti pendidikan dan kesehatan bukan lagi sekadar kegiatan amal sesaat, melainkan sudah menjadi bagian dari rencana jangka panjang lembaga. Meskipun begitu, perjalanan ini masih menghadapi tantangan pada sisi sumber daya manusia. Pasalnya, baru sekitar 11% lembaga yang memiliki staf dengan keahlian penuh dalam menyelaraskan program dengan target global tersebut. Hal ini menjadi pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup; diperlukan kecakapan teknis agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Berbicara mengenai fokus aksi, lembaga filantropi Indonesia ternyata memiliki “anak emas” dalam pilihan program mereka. Sektor pendidikan berkualitas (SDGs No. 4) menduduki peringkat pertama sebagai bidang yang paling diminati, disusul oleh kehidupan sehat dan sejahtera (SDGs No. 3). Hal ini sangat masuk akal mengingat akar budaya filantropi kita sangat kuat pada isu-isu sosial dasar. Selain itu, mereka sangat menyadari bahwa misi ini tidak bisa dikerjakan sendirian. Itulah mengapa “Kemitraan untuk Mencapai Tujuan” (SDGs No. 17) menjadi prioritas ketiga. Menariknya, pemerintah menjadi mitra yang paling sering diajak berkolaborasi (20%), diikuti oleh sektor swasta dan perguruan tinggi. Sinergi ini membuktikan bahwa lembaga filantropi adalah mitra strategis yang mampu mengisi celah-celah pembangunan melalui pendekatan yang lebih partisipatif dan inklusif.
Namun, riset ini juga menyentuh sisi realita yang harus dibenahi. Banyak lembaga yang belum bisa bergerak maksimal karena merasa SDGs belum menjadi mandat utama organisasi atau karena keterbatasan sumber daya pendanaan. Selain itu, keterlibatan lembaga filantropi dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) maupun Daerah (RAD) masih di bawah 50%. Ini adalah peluang yang hilang jika suara dari lembaga-lembaga yang bersentuhan langsung dengan akar rumput ini tidak didengar. Oleh karena itu, riset ini merekomendasikan agar lembaga filantropi mulai menggunakan SDGs sebagai kerangka kerja (framework) utama, bukan hanya sebagai tempelan label di akhir program. Dengan begitu, setiap rupiah yang didonasikan dan setiap keringat relawan yang mengucur dapat diukur dampaknya secara nasional maupun global.
Di sisi lain, peran pemerintah sangat krusial sebagai “dirigen” dalam simfoni pembangunan ini. Pemerintah diharapkan tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga memberikan bimbingan teknis yang mudah dipahami. Rekomendasi riset menekankan pentingnya pembuatan panduan atau tools SDGs yang praktis agar lembaga kecil sekalipun bisa ikut berkontribusi. Selain itu, pemerintah perlu membuka pintu komunikasi yang lebih lebar, memberikan insentif, dan apresiasi bagi lembaga yang berkomitmen tinggi. Penghapusan hambatan kebijakan dan penyediaan data satu pintu akan memudahkan lembaga filantropi untuk memetakan di mana bantuan mereka paling dibutuhkan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih program di satu wilayah sementara wilayah lain terlupakan.
Pada akhirnya, SDGs adalah tentang prinsip “No One Left Behind” — tidak ada satu orang pun yang boleh tertinggal. Filantropi Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka adalah mesin penggerak yang luar biasa dalam mewujudkan janji tersebut. Dari bantuan pendidikan di pelosok desa hingga kampanye kesehatan di perkotaan, peran mereka sangatlah vital. Masa depan Indonesia yang lebih hijau, adil, dan sejahtera bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong jika kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat terus diperkuat. Mari kita dukung setiap inisiatif kebaikan ini, karena setiap tindakan kecil yang selaras dengan tujuan besar akan membawa perubahan yang nyata bagi generasi mendatang.
Download Laporan Riset Aksi dan Peran Lembaga Filantropi Dalam Pencapaian SDGs di Indonesia