Strategi Membangun Kemitraan Tangguh: Catatan dari NGO Masterclass JICA Indonesia
- 04/02/2026
- Posted by: Bung Administrator
- Category: Berita
JAKARTA, PIRAC – Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) berkesempatan menghadiri secara langsung (offline) kegiatan NGO Masterclass bertajuk “Partnership Management: Building Resilient and Sustainable Collaborations” yang diselenggarakan di Kantor JICA Indonesia, Sentral Senayan II, Jakarta, pada Jumat (30/1). Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi praktisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan NGO mitra JICA untuk mendalami seni mengelola kolaborasi lintas organisasi yang berdampak luas dan berkelanjutan. Dipandu oleh narasumber ahli, Yanti Triyulianti Lacsana dari Circle Indonesia, pelatihan ini menekankan bahwa manajemen kemitraan bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah proses strategis untuk membangun, memelihara, dan meningkatkan hubungan kolaboratif guna memaksimalkan dampak sosial di masyarakat.

Dalam paparan materinya, Yanti Lacsana menggarisbawahi bahwa efektivitas sebuah kemitraan sangat bergantung pada landasan prinsip yang kokoh, yakni adanya visi yang sejalan, rasa saling percaya, serta komunikasi yang transparan. PIRAC mencatat poin penting mengenai instrumen manajemen yang wajib dimiliki organisasi:
- Kesepakatan kemitraan formal (Partnership Agreement)
- Protokol komunikasi yang jelas
- Mekanisme penyelesaian konflik yang telah disepakati sejak awal.
Instrumen-instrumen ini berfungsi sebagai pengaman agar kolaborasi tetap berjalan pada relnya, terutama saat menghadapi tantangan seperti ketimpangan kekuasaan atau perbedaan ekspektasi antarlembaga. Melalui pengelolaan yang adaptif dan fleksibel, OMS/NGO diharapkan mampu mengubah tantangan di lapangan menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas internal masing-masing pihak.
Salah satu bahasan yang paling menarik bagi peserta adalah mengenai praktik baik dalam kemitraan lintas budaya, khususnya saat bekerja sama dengan institusi yang berasal dari Jepang. Narasumber membagikan studi kasus keberhasilan kemitraan antara IC Net Jepang dengan NGO lokal di Sumatera dalam program restorasi lahan gambut. Keberhasilan tersebut dicapai melalui pembagian peran yang spesifik: mitra internasional menyediakan dukungan dana dan keahlian teknis, sementara NGO lokal memimpin keterlibatan masyarakat di lapangan. Kunci utamanya terletak pada kepekaan budaya, di mana setiap pihak harus meluangkan waktu untuk memahami gaya kerja, norma pengambilan keputusan, dan nilai-nilai yang dianut mitra guna membangun kepercayaan (trust) yang bertahan lama.
Dalam kesempatan sesi berbagi pengalaman, Ari Syarifudin yang mewakili PIRAC membagikan pengalamannya dalam membangun kemitraan NGO di Papua. Di kesempatan tersebut Ari menceritakan bagaimana membangun Forum Kemitraan di Jayapura yang mengumpulkan mitra stakeholder NGO di Papua. Dalam forum tersebut, mitra stakeholder di Papua yang terdiri dari lembaga pemerintah daerah, Lembaga filantropi, dan CSR Perusahaan diminta untuk berpartisipasi aktif dalam menjalin kemitraan bersama-sama OMS/NGO lokal yang memiliki program pembangunan sosial di Jayapura.
Kegiatan ini memberikan pesan kuat bahwa investasi dalam manajemen kemitraan adalah investasi untuk menciptakan dampak kolektif yang lebih signifikan. PIRAC dan para peserta lainnya diajak untuk melihat mitra bukan sekadar sebagai penyedia sumber daya, melainkan sebagai kawan strategis dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan. Dengan menguasai keahlian dalam menyederhanakan pelaporan yang sesuai konteks lokal serta melakukan pemantauan bersama, OMS/NGO akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika kerja sama global. Melalui Masterclass ini, diharapkan tercipta sinergi yang lebih erat antara OMS/NGO Indonesia dan JICA untuk menciptakan solusi-solusi inovatif bagi isu-isu pembangunan di masa depan.
