Categories
Uncategorized

Reinterpretasi Pendayagunaan ZIS

Mayoritas umat islam berharap bahwa zakat, infaq dan sedekah (ZIS), sebagai institusi keuangan yang Islami akan berperan banyak dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial ekonomi umat kontemporer, terutama yang berkaitan dengan ketimpangan kepemilikan sumber-sumber ekonomi.

ZIS diyakini sebagai simbol ekonomi keadilan dan kerakyatan, yang dapat menempatkan sumber-sumber ekonomi pada tempat yang semestinya, sehingga secara kreatif akan sanggup menumbuhkan daya produktivitas anggota masyarakat dalam mencari dan mengembangkan pendapatan mereka.

Pada waktu yang sama, ia dapat menjadi media penguatan masyarakat yang dengan efektif bisa mengangkat derajat kelompok masyarakat yang lemah (al mustadh’afin), sehingga mereka memiliki kapasitas, potensi dan kesempatan yang sama dengan kelompok yang telah lebih kuat, untuk memakmurkan kehidupan ini dan mengelola sumber-sumber daya alam.

Tetapi dalam tataran fikih aplikatif, untuk membenarkan dan merealisasikan harapan ini, ZIS masih memerlukan interpretasi terhadap teks-teks yang terkait. Dengan didasarkan pada semangat misi keadilan zakat itu sendiri, pada kesadrana realitas pendukung pada masa Nabi SAW (asbab an-nuzul dan asbab al-wurud) dan realitas sosial ekonomi kita sekarang.

Banyak hal dalam aplikasi fikih ZIS yang sementara ini diterapkan, tidak berjalan paralel dengan misi yang ingin diraih melalui syari’atnya. Yaitu misi keadilan ekonomi, penguatan masyarakat lemah, dan pemerataan kesejahteraan. Apabila ZIS masih diharapkan untuk ikut menyelesaikan beberapa permasalahan sosial ekonomi umat dewasa ini, maka upaya interpretasi fikih zakat adalah sebuah keniscayaan, baik dalam hal penggalangan, maupun pada persoalan alokasi dan distribusinya.

Categories
Uncategorized

2 Trainer PIRAC Melatih Perempuan di NTB

Hamid Abidin, M.Si, Direktur Eksekutif PIRAC
Ninik Annisa, Researcher PIRAC

DEPOK – Terhitung Senin (11/6/2012) hingga esok, 2 trainer PIRAC Hamid Abidin dan Ninik Annisa melatih sekitar 30 perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB) Pelatihan ini bertajuk “Crating Winning Fundraising For Women Empowerment.”

Menurut Manager Pelatihan PIRAC, Nor Hiqmah, pelatihan selama 2 hari ini diadakan oleh Oxfam Mataram bersama LSM Perempuan di NTB sebagai Mitra Oxfam di sana.

Training ini menjadi salah satu sarana bagi mitra Oxfam agar dapat menangkap peluang sumber pendanaan dan mobilisasi sumberdaya. Training ini  mengantarkan organisasi Mitra Oxfam di NTB untuk memahami cara bekerja pengalangan sumberdaya secara kreatif dan inovatif.

Hasil survei PIRAC, kata Hiqmah, menunjukkan tingkat kedermawaan kaum perempuan cukup tinggi yakni 99,7%, dengan rata-rata sumbangan mencapai Rp. 843.436/orang/tahun. Tak hanya individu perempuan, dukungan untuk program perempuanpun datang dari perusahaan lewat CSR-nya, donor internasional maupun pemerintah.

“Tentunya survey tersebut membuktikan, program pemberdayaan perempuan saat ini mulai menjadi perhatian publik dan sektor swasta/perusahaan. Kegiatan fundraising untuk program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh organisasi perempuan, yayasan sosial atau OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) juga mendapatkan dukungan/sumbangan yang cukup siginifikan,” jelasnya.

Sejauh ini, tambahnya, belum banyak organisasi yang mampu memanfaatkan peluang fundraising untuk program perempuan ini, sehingga banyak organisasi merasa kurang mendapatkan dukungan dari publik. Sangat beruntunglah Mitra Oxfam di NTT yang mendapat pelatihan dari PIRAC, mendapat pengalaman dan keahlian dalam berfundraising. LSM mana berikutnya? – maifil

Categories
Uncategorized

Malangnya Kota Malang

Kota Malang berhawa sedang, dulu terkenal sebagai kota dingin di Jawa Timur. Malang terletak pada ketinggian antara 429 – 667 meter di atas permukaan air laut. 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06° – 8,02° Lintang Selatan, dengan dikelilingi gunung-gunung : Gunung Arjuno di sebelah Utara, Gunung Semeru di sebelah Timur, Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat, Gunung Kelud di sebelah Selatan

Jumlah penduduk Kota Malang 820.243 (2010), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun. Sebagian besar penduduk Kota Malang adalah suku Jawa, serta sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura, Arab, dan Tionghoa. Agama mayoritas adalah Islam, diikuti dengan Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu.

Categories
Uncategorized

Tim Peniliti PIRAC Riset di Yogyakarta

DEPOK – Tim Peniliti Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) hadir di Yogyakarta melakukan penelitian evaluasi terhadap program yang telah dilakukan Persada, Mitra Yayasan Unilever Indonesia (YUI) di Yogyakarta.

Sebelumnya,  YUI dengan mitra Persada sejak tahun 2010 sudah melakukan kampanye Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan nama program “Desa Sehat” yang menekankan pada materi “Cuci Tangan dan Kesehatan Mulut”. Program ini dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Yogyakarta.

“Untuk Mei dan Juni 2012 ini, Unilever mempercayakan kepada PIRAC untuk mengevaluasi program tersebut guna  mengetahui sejauh mana  program ini mencapai sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat setempat . Untuk ini PIRAC menurunkan 2 peneliti ke Yogyakarta, saya sendiri dan Yusuf Yudapraja, ” ungkap Ninik Annisa, Manager Research PIRAC, sepulang dari Jogjakarta, Selasa (5/6/2012).

Categories
Uncategorized

Peniliti PIRAC Hadir di Malang

MALANG – Tim Peniliti Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) melakukan penelitian mendalam di Malang, mulai 28 Mei 2012 s.d 1 Juni 2012. Penelitian tersebut mengevaluasi tingkat keberhasilan program Public Health Education Program (PHEP) yang dilaksanakan Yayasan Unilever Indonesia (YUI) di Malang.

Tim yang diturunkan adalah Nor Hiqmah dan Maifil Eka Putra, sejak kemarin sore, Senin (28/5/2012), tim dari Bandara langsung melakukan briefing dengan tim PIRAC di Malang untuk pembagian tugas responden yang akan di wawancarai.

Secara maraton tim dari Jakarta, malam itu juga mewawancarai pejabat Kota Malang dari Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Malang, untuk mengetahui peran pemerintah dan tanggapannya dengan program yang diprakarsai Unilever dan dijalankan Mitra Unilever, Spektra di Malang.

Khusus untuk Malang, YUI bersama Spektra melakukan Program Stop AIDS dengan membentuk Duta Stop AIDS di sekolah-sekolah. Program ini sudah dijalankan YUI di Indonesia sejak 2007 lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, YUI mempercayakan kepada PIRAC ( Public Interest Research and Advocacy Center) untuk mengadakan penelitian di wilayah Jawa Timur dan Jogjakarta, akhir Mei 2012 ini, guna mengetahui tingkat keberhasilan dari program tersebut.

Seperti disampaikan Ninik Annisa, Manager Research PIRAC, menyikapi kondisi kesehatan masyarakat Indonesia terutama masalah sanitasi yang berada di level rendah, karenanya sejak tahun 2000, Unilever Indonesia melalui Yayasan Unilever Indonesia (YUI) meluncurkan Public Health Education Program (PHE). Fokus program PHE ini  memberikan edukasi hidup sehat kepada masyarakat.

Dikatakan Annisa, tahun 2005, PHE meluncurkan program Integrated Health Promotion Program (IHPP) di Yogyakarta. Fokus dari IHPP ialah memberikan edukasi kesehatan pada anak usia sekolah dasar dan juga para ibu di Posyandu. Hingga saat ini, program ini telah direplikasi ke Jawa Barat, Jawa Timur, Makasar dan Medan.

Memasuki tahun 2007, lanjutnya, PHE juga berfokus kepada isu pencegahan HIV/AIDS sejalan dengan meningkatnya penderita HIV/AIDS di Indonesia. Berawal dari proyek “Brani Ngomong Brani Buktiin”, sebuah kegiatan kerjasama antara Yayasan Unilever, Close Up, Yayasan Cinta Anak Bangsa, Radio Prambors dan Music Television Indonesia, kegiatan ini kemudian menjadi program pendidikan remaja usia SMP dan SMU untuk pencegahan HIV/AIDS. Program ini disebut Surabaya Stop AIDS pada tahun 2008 dan Jakarta Stop AIDS pada tahun 2010.

“Fokus ketiga dari PHE ialah program nutrisi. Unilever bermitra dengan World Food Programme dengan tajuk “Together for Child Vitality” yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kecukupan gizi dan sekaligus untuk membantu anak-anak yang menderita malnutrisi,” jelas Ninik.

Hingga saat ini, PHE sudah memasukkan unsur edukasi perilaku hidup bersih dan sehat ke dalam program. Sementara memasuki kuartal 2010, program kemitraan akan fokus kepada kampanye keanekaragaman pangan sebagai upaya mengaktifkan kembali bahan makanan local yang bernutrisi sebagai asupan dalam masyarakat di Lombok Timur. Tentu banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang dapat dipeting dari program ini.

Dikatakan Ninik, setelah ketiga fokus program itu berjalan, tentu diperlukan sebuah studi evaluasi untuk mengkaji apakah program ini tetap sasaran atau tidak dan bagaimana effektifitas dampak dari program itu. Sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan menentukan program yang efektif untuk perbaikan pelaksanaan program di masa mendatang. – Maifil