Filantropi Indonesia dan Krisis Ekosistem

Ketika Kepercayaan Ada, tetapi Pendanaan dan Kapasitas Terbatas

Filantropi Indonesia dan Krisis Ekosistem

Sektor sosial Indonesia memiliki modal kepercayaan dan keterlibatan korporasi yang cukup kuat. Namun, data Doing Good Index 2026 memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar: pendanaan domestik rendah, kapasitas organisasi terbatas, dan dukungan pengembangan kapasitas belum merata. Membicarakan filantropi sering kali identik dengan pertanyaan sederhana: berapa banyak uang yang diberikan?

Namun Doing Good Index 2026 menawarkan cara pandang berbeda. Yang diukur bukan hanya berapa banyak yang diberikan, melainkan infrastruktur yang membuat pemberian tersebut dapat menghasilkan manfaat sosial. CAPS menggunakan empat pilar untuk melihat kondisi tersebut: regulasi, kebijakan pajak dan fiskal, ekosistem, serta pengadaan. Pilar ekosistem mencakup unsur seperti kepercayaan, talenta, tata kelola, dan persepsi publik terhadap sektor sosial. Kepercayaan adalah modal, tetapi bukan satu-satunya modal.

Di Indonesia, 43 persen organisasi sosial menyatakan bahwa mereka merasa dipercaya oleh pemerintah, 62 persen merasa dipercaya oleh masyarakat, dan 36 persen merasa dipercaya oleh korporasi. Data tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan publik merupakan aset penting.

Namun kepercayaan saja tidak otomatis menghasilkan organisasi yang berkelanjutan. Organisasi tetap membutuhkan pendanaan, tenaga kerja, kapasitas manajemen, sistem tata kelola, dan akses terhadap kemitraan. Justru di titik inilah persoalan ekosistem terlihat.

Pendanaan domestik masih menjadi titik lemah

Sebanyak 84 persen organisasi sosial Indonesia yang disurvei DGI menyatakan bahwa pemberian domestik masih rendah. Struktur pendanaan mereka memperlihatkan ketergantungan yang cukup besar terhadap sumber luar negeri: 51 persen anggaran berasal dari pendanaan asing. Sementara pendanaan dari individu dan yayasan mencapai 26 persen dan korporasi 16 persen.

Angka ini penting karena keberlanjutan organisasi sosial tidak dapat hanya bergantung pada satu sumber. Jika sumber dana tertentu menyusut, organisasi membutuhkan alternatif domestik yang cukup kuat. Karena itu, membangun budaya memberi tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat pemberian dapat berlangsung secara konsisten dan terhubung dengan organisasi yang memiliki kapasitas untuk mengelolanya.

Persoalan talenta juga tidak kecil

DGI 2026 menemukan bahwa kesulitan mendapatkan tenaga kerja merupakan persoalan regional. Sebanyak 73 persen organisasi sosial di Asia menyatakan kesulitan merekrut staf.

Di Indonesia, indikator tersebut menunjukkan perubahan dari 66 persen pada 2024 menjadi 45 persen pada 2026.

Perbaikan ini perlu dibaca secara hati-hati. Angka tersebut menunjukkan kondisi yang lebih baik dibanding 2024, tetapi hampir separuh organisasi yang disurvei masih mengalami kesulitan merekrut staf. Ini menunjukkan bahwa pembiayaan sosial bukan hanya soal uang.

Organisasi membutuhkan orang yang mampu mengelola program, keuangan, teknologi, penggalangan dana, pengukuran dampak, komunikasi, dan hubungan dengan pemerintah maupun donor.

Corporate engagement belum otomatis menjadi pendanaan

Korporasi juga memainkan peran penting. Sebanyak 48 persen organisasi sosial Indonesia menerima pendanaan korporasi dan 48 persen bekerja sama dengan relawan korporasi. Ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup signifikan antara dunia usaha dan sektor sosial.  Namun hubungan tersebut perlu dilihat lebih jauh. Apakah keterlibatan perusahaan hanya berbentuk pendanaan proyek? Apakah juga menghasilkan penguatan kapasitas organisasi? Apakah kemitraan tersebut membantu organisasi membangun keberlanjutan setelah sebuah proyek selesai?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena ekosistem yang sehat bukan hanya ekosistem yang mampu menghimpun dana, melainkan yang mampu membangun kapasitas.

Pendanaan tanpa penguatan kapasitas memiliki keterbatasan

DGI 2026 juga mencatat bahwa dukungan donor terhadap capacity-building merupakan salah satu indikator ekosistem.  Dalam konteks Indonesia, proporsi organisasi yang menerima dukungan donor untuk pengembangan kapasitas tercatat 21 persen pada 2026, turun dari 25 persen pada 2024.

Data ini menunjukkan persoalan yang sering tidak terlihat. Donor dapat membiayai sebuah program, tetapi organisasi juga membutuhkan investasi untuk memperkuat sistem internalnya.

Tanpa kapasitas organisasi yang kuat, keberhasilan sebuah program belum tentu dapat dipertahankan atau diperluas.

Ekosistem adalah persoalan hubungan

DGI 2026 memberikan pesan penting: infrastruktur untuk melakukan kebaikan bekerja sebagai sistem. Regulasi menentukan ruang gerak. Kebijakan fiskal memengaruhi insentif pendanaan. Ekosistem menentukan kepercayaan, talenta, dan kapasitas. Sementara pengadaan membuka peluang organisasi sosial bekerja sama dengan pemerintah.  Karena itu, memperkuat ekosistem tidak dapat dilakukan hanya dengan meminta masyarakat lebih banyak berdonasi.

Yang perlu dibangun adalah hubungan yang lebih kuat antara: donor – organisasi sosial – korporasi – pemerintah – masyarakat.  Masing-masing memiliki sumber daya yang berbeda.

Donor memiliki dana. Pemerintah memiliki mandat publik dan kebijakan. Korporasi memiliki sumber daya, keahlian, jaringan, dan relawan. Organisasi sosial memiliki kedekatan dengan kebutuhan masyarakat.  Tantangannya adalah membuat sumber daya tersebut bertemu secara efektif.

Dari budaya memberi menuju ekosistem dampak

Indonesia memiliki modal penting berupa kepercayaan masyarakat dan keterlibatan berbagai aktor.  Namun data DGI 2026 menunjukkan bahwa modal tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi ekosistem pendanaan dan kapasitas yang kuat.  Karena itu, agenda filantropi Indonesia ke depan sebaiknya tidak berhenti pada kampanye mengajak masyarakat memberi.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan setiap rupiah yang diberikan dapat dikelola oleh organisasi yang transparan, memiliki kapasitas, memperoleh akses pendanaan yang berkelanjutan, dan mampu bekerja sama dengan aktor pembangunan lainnya.

Filantropi yang kuat pada akhirnya bukan hanya tentang banyaknya orang yang memberi.  Ia juga tentang seberapa kuat ekosistem yang membuat pemberian tersebut berubah menjadi dampak sosial yang bertahan lama.

Scroll to Top