Categories
Uncategorized

Lomba Kreasi Tumpeng Indofood dan  Koperasi Selera

Dalam rangka memperingati hari Kartini dan sosialisasi peluncuran Koperasi  SELERA (Sejahtera Lestari Rahardja), pengurus koperasi Selera mengundang kader PKK dari RT/RW dan warga setempat Kelurahan Ciketing untuk mengikuti lomba tumpeng Indomie.  Lomba ini dilakukan pada hari Rabu, 24 April 2019 bertempat di Balai Warga RW 05 Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang Kota Bekasi, Propinsi Jawa Barat.

Salah satu syarat  perlombaan  tumpeng yaitu bahan baku tumpeng harus menggunakan bahan baku mi instan Indomie. PT Indofood menyediakan  bahan baku mie instan sebagai dukungan untuk perlombaan tersebut. Perlombaan  ini diikuti oleh 13 peserta dari RT di RW 05 yang ada di Kelurahan Ciketing. Selain tumpeng, ada juga beragam makanan lain yang dilombakan dengan bahan baku  indomie seperti risol, dimsum, telur gulung, sosis gulung yang semuanya menyertakan bahan Indomie.

Perlombaan tumpeng ini diharapkan tumbuhnya kreativitas para ibu di desa Ciketing dalam mengolah bahan baku mie instan. Kreativitas menjadi nilai penting dalam penilaian.  Tim juri sudah menentukan calon pemenang dengan kriteria yang sudah disiapkan. Adapun kriterianya adalah  item penampilan, rasa dan kesesuaian harga.  Penampilan yang dinilai terkait model, inovasi, bentuk yang menarik dari tumpeng yang disajikan.  Rasa yang dinilai terkait kekhasan rasa, cita rasa yang pas dan enak. Sedangkan kesesuian harga, dinilai dari biaya pembuatan tumpeng yang tidak terlalu mahal antara Rp.  100 ribu sampai Rp. 200 ribu.

 

Melihat ragam kreativitas tinggi, aneka tumpang yang berbagai bentuk dan warna-warni tumpeng, tim juri sempat mengalami pusing untuk menentukan pemenangnya.  Akhirnya setelah melalui proses penjurian, pemenang lomba tumpeng ini adalah perwakilan dari kelompok ibu-ibu RT 8. Kelompok ini berhasil memikat juri karena penampilan tumpeng RT 8 yang keren dan bagus.  Penampilan tumpeng dengan lauknya dominan dari indomie, penampilannya juga  cantik, rasanya enak dan biayanya relative lebih murah sekitar Rp. 150 ribu. Pemenang mendapatkan hadiah cantik dan uang tunai dari Indofood. (NH)

Categories
Uncategorized

Sambutan Dinas Koperasi UKM Kota Bekasi di Peluncuran Koperasi SELERA

Koperasi sebagai badan usaha merupakan pelaku ekonomi yang berbasiskan anggota memiliki potensi yang besar, oleh karenanya dituntut untuk seamakin cerdik dalam memanfaatkan segala peluang bisnis yang ada, dan harus menjalankan usaha secara efektif, efesien serta professional sehingga memiliki daya saing yang tinggi dalam persaingan pasar yang semakin kompetitif. Koperasi sebagai lembaga bisnis yang berbasis anggota harus konsisten mempertahankan jati diri koperasi dalam menghadapi kekuatan ekonomi yang berbasis modal, dengan cara memfungsikan peran anggota sebagai pemilik atau pemodal, sekaligus sebagai pelanggan atau pengguna jasa usaha koperasinya (Dual Identity). Agar koperasi dapat sebagai gerakan ekonomi rakyat dan mampu menjadi agen pembangunan (agen of development) serta kekuatan penyeimbang/penetrasi pasar sekaligus karakteristik kelembagaan ini merupakan ciri pembeda antara koperasi dengan bangun usaha lainnya.

Merespon nilai dan manfaat yang baik keberadaan organisasi koperasi, pengurus organisasi Posdaya Delima VII RW 08 Kelurahan Ciketing Udik tertarik untuk menggunakan wadah koperasi sebagai lembaga ekonomi kegiatan mereka. Sebelumnya ibu-ibu POSDAYA sudha menjalankan program ekonomi bergulir kepada para anggotanya yang sebagian besar memiliki usaha  namun menghadapi sejumlah kendala yakni: (1) belum ada legalitas hukum; (2) lemahnya pengelolaan kelembagaan dan finansial; (3) belum memiliki program jangka panjang yang dapat menjadi dasar atau arah untuk peningkatan ekonomi. Akhirnya berkat dukungan dari PT Indofood dan pendampingan PIRAC, ibu-ibu POSDAYA membentuk koperasi SELERA  (Sejahtera, Lestari, Rahardja). Koperasi dianggap menjadi wadah yang pas bagi ibu-ibu POSDAYA RW 08, untuk membangun posisi tawar mereka dalam meningkatkan kualitas ekonomi secara bersama sehingga dapat menanggulangi kemiskinan serta ikut berpartisipasi dalam pemberdayaan kaum perempuan.

Dalam rangka memperkenalkan Koperasi SELERA kepada publik yang lebih luas, serta untuk menggemakan gerakan koperasi di tanah air, pengurus Koperasi SELERA mengadakan sebuah acara yaitu “Peluncuran Koperasi SELERA” yang dilaksanakan pada Hari Rabu, 24 April 2019, pukul 08.30-13.00 WIB, bertempat di Balai RW 08 Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Acara peluncuran Koperasi SELERA menghadirkan sejumlah undangan dari pihak-pihak terkait seperti Kementerian Usaha Kecil dan Koperasi, Dinas Koperasi Kota Bekasi, perwakilan PT Indofood, Aparatur pemerintahan desa dan Kecamatan Bantar Gebang, masyarakat dan tokoh masyarakat, POSDAYA RW 08 Kecamatan Bantar Gebang, serta undangan dari penggiat Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang memiliki perhatian pada dunia perkoperasian dan pemberdayaan masyarakat.

Perwakilan dari Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kota Bekasi yang diwakili oleh Drs. Abdillah Hamta, M.Si. Beliau memberikan  wejangan dan nasehat kepada pengurus koperasi SELERA. Menurutnya dalam menjalankan organisasi koperasi, penerapan prinsip-prinsip koperasi harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen agar koperasi tidak kehilangan jati dirinya. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Keanggotaan bersifa sukarela dan terbuka; sukarela mengandung arti, untuk menjadi anggota koperasi tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan dalam bentuk apapun, yaitu harus sesuai dengan keinginan dan kesadaranya.

Sedangkan bersifat terbuka mengandung arti, terbuka bagi siapapun tanpa mengenal golongan, agama, ras ataupun partai politik. Hal-hal yang bersifat teknis tentang persyaratan keanggotaan secara khusus dapat disesuaikan dengan keputusan dengan keputusan rapat anggota asal tidak bertentangan dengan prinsip ini.

  1. Pengelolaan bersifat demokratis; mengandung arti bahwa koperasi dikelola oleh para anggotanya sendiri berdasrkan kesepakatan dan keputusan anggota. Anggota mempunyai Hak sekaligus kewajiban untuk memodali, memanfaatkan pelayanan barang dan jasa koperasi, mengambil keputusan dan mengawasi organsasi. Sebaliknya pengelola koperasi (pengurus/dan pengelola perusahaan koperasi (Manajer) berkewajiban memberikan data dan informasi sesuai dengan yang dibutuhkan anggotanya, atas prinsip ini muncul Motto “Bahwa Koperasi Dikelola oleh dari dan untuk anggota”
  2. Pembagian laba koperasi (SHU) dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota. Maksudnya pada saat koperasi akan membagiakan SHU kepada para anggotanya harus adil. Agar tercapai keadilan maka dasar pembagianya harus sesuai dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
  3. Pembagian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Modal dalam koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan anggota dan bukan untuk sekadar mencapai keuntungan. Oleh karena itu balas jasa atau modal yang diberikan kepada para anggota juga terbatas dan tidak didasarkan atas besarnya modal yang diberikan. Namun balas jasa diberikan secara wajar dalam arti tidak melebihi suku bunga yang berlaku di pasar.
  4. Kemandirian, dimaksudkan bahwa koperasi harus dibentuk dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan, keinginan dan kepentingan anggota. Oleh karena itu, anggota harus konsekuen dan konsisten melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang telah di sepakati bersama.
  5. Pendidikan perkoperasian; koperasi mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi pendidikan dan pelatihan kepada anggotanya, sehingga pengetahuan dan kemampuan yang berhubungan dengan bidang perkopersaian, ekonomi bisnis dan manajemen.
  6. Kerjasama antar koperasi; dalam melaksanakan tugasnya koperasi dapat melakukan kerjasama dengan koperasi lain, dengan memperhatikan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. Kerjasama yang bersifat permanen atau jangka panjang dan berkonsekuensi financial yang material perlu mendapat persetujuan rapat anggota.

Di akhir sambutannya, bapak Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kota Bekasi sangat bangga dan mendukung keberadaan koperasi SELERA.  Sehingga kehadiran koperasi SELERA bisa menjadi wadah ekonomi kerakyatan.

Categories
Uncategorized

Pelatihan Lobi dan Advokasi Uji Tuntas Hak Asasi Manusia Sektor Perkebunan

Pertumbuhan ekonomi, hak asasi manusia (HAM), kesetaraan, dan pembangunan adalah hal-hal yang saling berkaitan dan tak terpisahkan. Sektor bisnis telah menjadi salah satu aktor penting yang juga mengontrol bidang-bidang strategis ekonomi dan sosial suatu negara. Bahkan dalam banyak hal sektor bisnis dapat “menggantikan” peran negara untuk menyediakan fasilitas dan layanan publik. Kekuatan korporasi begitu tinggi, sehingga meningkatkan dan memperluas jarak hubungan yang tidak seimbang antara perusahaan dan masyarakat. Relasi yang tidak seimbang ini dapat mengakibatkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran HAM.

Pelanggaran HAM sebagaimana yang dilaporkan Komnas HAM, dan lembaga-lembaga penggiat HAM dan lingkungan hidup di Indonesia, menempatkan korporasi sebagai aktor terbesar kedua pelanggar HAM setelah Kepolisian. Hal ini merefleksikan bahwa korporasi merupakan aktor non-negara yang memiliki potensi besar menjadi pelanggar HAM, apabila hal ini dibiarkan maka di khawatirkan akan membahayakan bagi masyarakat, lingkungan hidup, perekonomian bahkan keberlangsungan korporasi itu sendiri.

Namun di sisi lain korporasi juga merupakan entitas yang memiliki kapasitas dan pengaruh yang besar terhadap proses pembangunan dan penghormatan hak asasi manusia, khususnya di wilayah-wilayah tempat beroperasinya korporasi tersebut. Bisnis dan HAM merupakan area risiko yang terus berkembang untuk bisnis yang mengasumsikan dimensi hukum yang semakin meningkat. Seperti di banyak negara lain, respons yang bijaksana dalam penghormatan HAM oleh korporasi adalah melakukan uji tuntas (due diligence). Memang, banyak bisnis sudah melakukan uji tuntas dalam berbagai konteks, termasuk merger & akuisisi dan pembiayaan proyek. Namun, sifat uji tuntas hak asasi manusia berbeda dari uji tuntas yang biasa dilakukan perusahaan.

Prinsip-prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan HAM (disebut UNGP on BHR) menetapkan komponen uji tuntas (due diligence) HAM. Mengenali karakteristik unik dari uji tuntas HAM adalah dasar bagi identifikasi dan pengelolaan dampak hak asasi manusia yang efektif yang mungkin terkait dengan operasi, rantai pasokan, atau rantai nilai bisnis.

Meskipun banyak yang telah ditulis tentang uji tuntas HAM, masih ada ketidakjelasan tentang apa yang diperlukan di antara banyak bisnis. Panduan lebih lanjut diperlukan untuk membantu bisnis khususnya sektor perkebunan memahami ruang lingkup, makna dan konsekuensi dari uji tuntas HAM. Para pelaku bisnis atau Korporasi yang menjalankan bisnisnya terutama di sektor perkebunan harus didorong agar melakukan lobby dan advokasi Uji Tuntas HAM, hal ini penting dilakukan agar para pelaku bisnis dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip Bisnis & HAM secara efektif dalam praktik bisnisnya.

Dalam rangka mendukung upaya peningkatan sumber daya manusia untuk advokasi dampak dari aktivitas bisnis di sektor perkebunan, Konsil LSM Indonesia menggelar  pelatihan bertajuk “Due Diligence Hak Asasi Manusia Sektor Perkebunan“.  Pelatihan ini digelar di Jakarta pada tangal 11-12 April silam. Pelatihan ini menghadirkan 20 aktivis LSM baik anggota Konsil LSM Indonesia maupun non anggota yang berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, pemilihan-pemilihan daerah tersebut dimaksudkan oleh Konsil LSM Indonesia dikarenakan di wilayah-wilayah tersebutlah banyak industri-industri perkebunan Kelapa Sawit beroperasi. PIRAC berkesempatan mendapat undangan mengikuti pelatihan tersebut. Hal ini sejalan dengan kegiatan PIRAC yang aktif dalam melakukan kegiatan advokasi kebijakan publik. Selain itu juga, PIRAC menjadi anggoa aktif perkumpulan Konsil LSM.

Pelatihan kali ini memfokuskan pada pentingnya implementasi Panduan Prinsip-prinsip Bisnis dan HAM PBB, dimana Indonesia sebagai negara yang menandatangani Konvensi tersebut. Memberikan pemaparannya kepada peserta pelatihan, salah satu pemateri Direktur Eksekutif Elsam, Wahyu Wagiman memaparkan metode lobi dan advokasi dalam uji tuntas HAM yang melibatkan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dalam Pemaparannya, Wahyu menekankan pentingnya tahapan identifikasi penggalian informasi untuk berhadapan dan melobi perusahaan. Tahapan ini menekankan penilaian terhadap potensi dan dampak operasi, produk maupun layanan perusahaan. Hal tersebut vital dikarenakan merupakan upaya pengalian informasi yan gberkaitan dengan faktor-faktor resiko sectoral, geografis, produk perusahaan, termasuk resiko-resiko yang diketahui telah dihadapi atau kemungkinan besar akan dihadapi perusahaan, akibat aktivitas dari bisnisnya.

Ada pengalaman lapangan yang menarik yang diceritakan oleh Joice, salah satu aktivis Scale Up dari Riau yang menjadi peserta pelatihan menceritakan pengalaman di lapangan ketika bekerja mendampingi dan mengadvokasi masyarakat yang berkonflik dengan perusahaan perkebunan. “Masih banyak masyarakat dan aktivis di daerah yang belum memahami menganai Prinsip Bisnis dan HAM PBB, sehingga cara-cara konvensional seperti menggelar demontrasi atau konflik secara langgung masih menjadi pilihan masyarakat ketika menuntut hak dan keadilan yang telah dilanggar oleh perusahaan,” tutur Joice. Melalui pelatihan ini, Joice mengharapkan dapat memberikan pemahaman bagi aktivis maupun masyarakat di daerah yang berkonflik dengan perusahaan, mengenai bagaimana tahapan dalam melakukan komunikasi dan pendekatan komprehensif dan konstruktif antara perusahaan dan masyarakat terdampak perusahaan.

“Pelatihan ini dihelat merupakan bagian dari implementasi kerjasama program Civic Engagement Aliance (CEA) antara Konsil LSM Indonesia dan ICCO Cooporation,” kata Misran Lubis, Direktur Konsil LSM Indonesia, dalam sambutan pembukaan acara pelatihan. Aktivis kebun kelapa sawit ini berencana kedepan, Konsil LSM Indonesia akan secara intens terlibat secara aktif untuk melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan UNGP Bisnis dan HAM, tidak hanya bagi kalangan LSM namun juga pemangku kepentingan seperti Pemerintah dan Perusahaan. Sehingga tercipta suatu atmosfer saling kesepahaman, tentnang bagaimanakan bisnis tidak hanya dapat memberikan benefit bagi perusahaan, tetapi juga menghargai, menghormati dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitaar, dimana perusahaan tersebut beroperasi. (AS)

Categories
Uncategorized

Siaran Pers : Penguatan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi Selera

PRESS RELEASE

Penguatan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi Selera

PT Indofood berkomitmen memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan. Komitmen tersebut dilaksanakan melalui berbagai kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang menitikberatkan pada pengembangan pemberdayaan masyarakat melalui Program Desa Mitra Indofood. Program ini bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dengan tujuan mendorong kemandirian masyarakat agar dapat memberdayakan diri sendiri dan lingkungannya untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Program Desa Mitra ini dimulai sejak tahun 2011 bermitra dengan Posdaya Delima VII RW 08 Kelurahan Ciketing Udik. Setelah Program Desa Mitra di Ciketing Udik berlangsung selama delapan tahun, sinergi antara Indofood dan pemangku kepentingan lainnya seperti organisasi kemasyarakatan serta aparat pemerintah setempat telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu hasil yang penting pada program tersebut adalah terbentuknya unit usaha baru yang diberi nama POJOK SELERA.

POJOK SELERA di bawah binaan Indofood telah aktif melakukan sejumlah pelatihan pembuatan roti dan aneka kue kepada berbagai kelompok ibu-ibu di berbagai daerah. Hal ini dimungkinkan karena pertama, POJOK SELERA telah memiliki sejumlah pelatih (Trainer) yang kompeten dan dilatih langsung dalam program pemberdayaan Indofood. Kedua, POJOK SELERA memiliki peralatan yang memadai untuk menjalankan pelatihan pembuatan roti dan aneka kue. Peralatan tersebut juga merupakan bantuan dari Indofood. Beberapa pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan telah memunculkan sejumlah wirausaha yang mampu memberikan penghasilan bagi keluarga masing-masing dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Berkat hasil positif ini, Program Desa Mitra Indofood kemudian mengembangkan program pada pembangunan insititusi untuk penguatan ekonomi masyarakat melalui program pembentukan koperasi untuk menaungi usaha yang telah dibentuk oleh masyarakat.

Sebelum terbentuknya Koperasi, ibu-ibu POSDAYA pernah menjalankan program ekonomi bergulir kepada para anggotanya yang sebagian besar memiliki usaha  namun menghadapi sejumlah kendala yakni: (1) belum ada legalitas hukum; (2) lemahnya pengelolaan kelembagaan dan finansial; (3) belum memiliki program jangka panjang yang dapat menjadi dasar atau arah untuk peningkatan ekonomi.

Program pembentukan koperasi ini bekerjasama dengan PIRAC (Publik Reseach dan Advocacy Center) sejak Bulan Oktober 2018. Program ini bertujuan untuk menguatkan manajemen dan kapasitas organisasi pojok selera yang akhirnya diwadahi dalam koperasi yang diberi nama Koperasi SELERA (Sejahtera, Lestari, Rahardja). Koperasi dianggap menjadi wadah yang pas bagi ibu-ibu POSDAYA RW 08, untuk membangun posisi tawar mereka dalam meningkatkan kualitas ekonomi secara bersama sehingga dapat menanggulangi kemiskinan serta ikut berpartisipasi dalam pemberdayaan kaum perempuan.

PIRAC melakukan pelatihan dan pendampingan dalam menfasilitasi terbentuknya rapat anggota koperasi, pembuatan Standar Operational Procedure/SOP koperasi, melatih administarsi dan manajemen keuangan anggota koperasi. Saat ini, proses pembentukan koperasi sudah berhasil dilakukan dan sudah sah secara legalitas. Terbentuknya Koperasi SELERA tidak terlepas dari dukungan PT Indofood yang mendorong pemberdayaan ekonomi di Desa Ciketing Udik agar dapat terus berjalan baik serta berkelanjutan.

Saat ini Koperasi SELERA juga sudah mulai menjalankan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk membekali keberlanjutan koperasi ke depannya antara lain melalui pelatihan pengelolaan manajemen koperasi, pelatihan usaha, dan pelatihan-pelatihan lainnya yang diperlukan.

Dalam rangka memperkenalkan Koperasi SELERA kepada publik yang lebih luas, serta untuk menggemakan gerakan koperasi di tanah air, pengurus Koperasi SELERA mengadakan sebuah acara yaitu “Peluncuran Koperasi SELERA” yang dilaksanakan pada Hari Rabu, 24 April 2019, pukul 08.30-13.00 WIB, bertempat di Balai RW 08 Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Acara peluncuran Koperasi SELERA menghadirkan sejumlah undangan dari pihak-pihak terkait seperti Kementerian Usaha Kecil dan Koperasi, Dinas Koperasi Kota Bekasi, perwakilan PT Indofood, Aparatur pemerintahan desa dan Kecamatan Bantar Gebang, masyarakat dan tokoh masyarakat, POSDAYA RW 08 Kecamatan Bantar Gebang, serta undangan dari penggiat Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang memiliki perhatian pada dunia perkoperasian dan pemberdayaan masyarakat.

Peluncuran Koperasi SELERA dikemas dalam event yang melibatkan masyarakat pelaku usaha, pemerintah daerah dan pengurus koperasi serta PT Indofood dan PIRAC sebagai perwujudan sinergi sector pemerintah, swasta dan pemerintah sipil. Selain acara resmi peluncuran Koperasi yang ditandai dengan pembukaan plang nama koperasi, acara ini juga menampilkan lomba tumpeng produk PT Indofood, hiburan dan bazar produk masyarakat untuk memperkenalkan usaha masyarakat ke public yang lebih luas. Harapan ke depan koperasi ini dapat menjadi payung usaha masyarakat dan penguatan ekonomi di Bantar Gebang Bekasi.

Konfirmasi Pemberitaan bisa menghubungi:

PIRAC  (Public  Interest  Research  and  Advocacy  Center)

Jl. M. Ali No. 2 Tanah Baru Beji – Depok Jawa Barat 16426

Telp/fax: 021 – 7756071 email: pirac@pirac.org

Web: www.pirac.org dan www.sekolahfundraising.com

 

Kontact Person:

Nor Hiqmah (Direktur Eksekutif) Hp. 0815 9508292

Samsul Maarif (PO Publikasi) Hp. 085284263583

Ari Syarifudin (Manager Program) Hp. 081291651819