Categories
Uncategorized

Dewan Pers Luncurkan Kode Etik Filantropi Mediamassa

JAKARTA – Mediamassa di Indonesia kini punya pedoman dan panduan dalam mengelolaan sumbangan masyarakat. Pedoman dalam bentuk “Kode Etik Filantropi Mediamassa” itu disahkan oleh Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan  Dewan Pers, Wina Armada Sukardi, di gedung Dewan Pers, Selasa (29/1 2013).

Pengesahan sekaligus peluncuran kode etik ini dihadiri pimpinan redaksi, pengelola sumbangan di media massa, dan asosiasi perusahaan dan profesi media. Acara peluncuran juga diisi dengan sosialisasi kode etik oleh tim perumus kode etik yang terdiri dari perwakilan pengelola sumbangan di mediamassa.

Kehadiran Kode Etik Filantropi Mediamassa ini dianggap penting mengingat berkembangnya peran baru mediamassa dalam mengelola kegiatan kedermawanan masyarakat (filantropi), di luar peran utamanya sebagai penyampai informasi dan hiburan. Media sukses menggalang dan menyalurkan sumbangan masyarakat sampai milyaran rupiah, khususnya saat terjadi bencana.

Namun, pada saat yang sama juga ditemui beragam persoalan akuntabillitas, mulai dari penggunaan rekening perusahaan dan pribadi untuk menampung sumbangan, tidak membuat dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban, sampai penyaluran sumbangan yang tidak tepat dan salah sasaran. Selain itu, juga ditemukan kasus pemanfaatan sumbangan publik untuk kegiatan CSR perusahaan media, serta penyaluran sumbangan untuk kepentingan partai dan tokoh politik tertentu..

Kode Etik Filantropi memuat beberapa prinsip dan ketentuan yang harus ditaati media dalam menggalang, mengelola dan menyalurkan sumbangan masyarakat. Misalnya, Penggalangan sumbangan harus dilakukan secara sukarela, terbuka,  etis, nonpartisan dan sesuai hukum yang berlaku.

Media pengelola sumbangan juga harus menyediakan rekening khusus untuk menampung sumbangan masyarakat. Media pengelola sumbangan harus membuat sistem dan prosedur  pengelolaan sumbangan secara profesional dan menyampaikan laporan program dan keuangannya secara tertulis kepada publik. Kode etik juga melarang pemanfaatan dan penyalahgunaan sumbangan masyarakat untuk keperluan promosi atau program CSR perusahaan atau pemilik perusahaan

Kode etik ini disusun oleh tim perumus yang dibentuk oleh Dewan Pers dan terdiri dari perwakilan media cetak, televisi, radio dan siber/web. Penyusunan dilakukan dengan mengacu pada pengalaman mediamassa dalam dalam pengelolaan sumbangan masyarakat, berbagai praktik baik, serta kasus-kasus yang terjadi di lapangan. Perumusan juga mengacu pada berbagai aturan perundang-undangan dan kode etik yang berkaitan dengan mediamassa dan kegiatan pengelolaan sumbangan masyarakat. Draft kode etik yang dihasilkan tim perumus selanjutnya disosialisasikan ke masyarakat dan stakeholder terkait untuk mendapatkan masukan sebelum disahkan.

Perumusan kode etik filantropi mediamassa ini merupakan inisiatif program dari PFI (Perhimpunan Filantropi Indonesia)  dan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dengan dukungan Yayasan TIFA yang kemudian difasilitasi dan didukung oleh Dewan Pers.

Kehadiran pedoman dalam bentuk Kode etik ini dinilai sudah cukup mendesak mengingat media belum memiliki pedoman atau aturan main yang  bisa menjadi acuan dalam pengelolaan sumbangan masyarakat di mediamassa.

“Dalam menjalankan fungsi jurnalistik, mediamassa telah punya satu acuan bersama yaitu Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Sementara dalam menangani kedermawanan sosial masyarakat ini belum ada pedoman atau aturan main yang bisa menjadi acuan dan dihormati oleh semua pengelola sumbangan masyarakat di media,” kata Hamid Abidin, Direktur PIRAC yang juga terlibat sebagai anggota tim perumus.

Kode etik diharapkan bisa menjadi pedoman umum, rujukan, dan instrumen edukasi bagi pengelola sumbangan masyarakat di mediamassa dalam penggalangan, pengelolaan, serta penyaluran sumbangan masyarakat. Selain itu, kode etik ini juga bisa berfungsi sebagai regulasi internal yang mengikat bagi praktisi media saat menjalankan kegiatan filantropi.

Categories
Uncategorized

Lagi, Sekolah Fundraising PIRAC Luluskan 18 Fundraiser

CISARUA – Sekitar 18 Fundraiser yang berasal dari berbagai instansi dan LSM, usai mengikuti pelatihan di Sekolah Fundriasing PIRAC. Pelatihan ini diadakan di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua, Puncak, Bogor, 22-24 Januari 2013.

Pelatihan bertajuk “Corporate Fundraising” ini merupakan bagian dari pelatihan “Become A Successful Fundraiser Training” yang diadakan Sekolah Fundraising PIRAC untuk melahirkan fundraiser yang handal. Lulusan dari pelatihan ini akan tergabung dalam komunitas CRAZY (CReative AmaZing easY) Fundraiser.

Menurut Nor Hiqmah, Kepala Sekolah Fundraising PIRAC, komunitas CRAZY ini akan saling berbagi dan berkomunikasi dalam melakukan fundraising. Bisa saja beberapa hambatan dalam fundraising akan tertuntaskan dengan masukan dari teman-teman komunitas.

Dalam perjalanan fundraising, alumni pelatihan Sekolah Fundraising akan selalu mendapat bimbingan dari Tim Sekolah Fundraising, sehingga pelatihan yang dilaksanakan benar-benar dapat dipraktikan dalam aktivitas fundraising dan menggapai kesuksesan.

Materi yang diajarkan dalam pelatihan corporate fundraising ini, peserta latih diajarkan bagaimana cara memahami corporate filantropi dan CSR bekerja, begitu juga diajarkan bagaimana siklus, mekanisme dan proses penentuan kebijakan.

selain itu peserta juga dilatih menyiapkan organisasi fundraising dan mengidentifikasi, melakukan pemetaan prospek dan perawatan donatur, melakukan mapping dan strategi serta metode penggalangan dana corporate, membuat proposal yang jitu. Peserta juga diajarkan strategi mengemas dan mengkomunikasikan program kepada corporate.

Sedangkan untuk instruktur dalam pelatihan ini, selain menghadirkan pelatih yang sudah berpengalaman di PIRAC, juga menghusung praktisi senior fundraising dan pengelola CSR perusahaan.

Selama mengikuti pelatihan ini, peserta sangat termotivasi dan menyatakan siap turun kelapangan melakukan tugasnya sebagai fundraising. Tercatat yang menjadi peserta pelatihan Corporate Fundraising angkatan IV ini adalah utusan Canadian RedCross (Canada), PMI Pusat, Yapari, Rumah Zakat, Yayasan Angklung Saung Udjo, Yayasan Bale Sumber Daya Sosial (Jombang), Yayasan Pelita Nusantara (Ciamis) dan Majelis Cilik 3 Ciracas.

Categories
Uncategorized

Bersenang-Senang sambil Menyumbang

SUMEDANG – Ada yang menarik yang dilakukan Radio M-Tas (Radio Komunitas Masyarakat Tanjungsari), Sumedang, Jawa Barat agar bisa tetap mengudara. Salahsatunya dengan cara bersenang-senang sambil menyumbang. Pendengar Rakom M-Tas diajak aktif mengikuti karaoke yang juga dikaitkan dengan ajang fundraising bagi radio komunitas ini.

Hal itu disampaikan Nor Hiqmah, Peneliti Sekolah Fundraising PIRAC yang melakukan studi skema keberlanjutan rakom di Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Diceritakan Hiqmah, di Rakom M-Tas ada acara karaoke setiap hari dari Pukul 5 sore hingga Pukul 7 malam. Setiap pendengar yang berkaroke secara on air di Radio M-TAS diwajibkan menyumbang Rp3 ribu rupiah untuk 1 lagu. Biasanya tiap pendengar meminta lebih dari 1 lagu, bahkan sampai 3 lagu.

“Pembayaran untuk lagu-lagu yang dikaraokekan ini dengan sistem jemput ke rumah pendengar. Acara jemput dana karaoke ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara pengelola dan pendengar,” tutur Hiqmah.

Acara bersenang-senang lainnya di M-Tas, adalah memberikan kesempatan kepada remaja Sumedang untuk mempromosikan Group Band Indie yang mereka dirikan. Melalui Rakom M-Tas, tiap malam minggu, band indie ini mempertunjukkan kebolehannya dengan cara akustik live.

Selain pertunjukan live akustik, Band Indie Remaja Sumedang juga dapat memutar CD dari lagu-lagu yang mereka ciptakan dan aransemen. Biaya administrasi untuk pemutaran CD atau pertunjukan live di Radio M-TAS hanya Rp 50 ribu tiap satu band.

Selain mengenalkan lagu, para anggota Band Indie ini juga bisa interaktif dengan pendengar Rakom M-Tas. Dengan cara ini, banyak grub band di Sumedang yang akhirnya dikenal masyarakat Sumedang dan mendapat tempat di hati masyarakat Sumedang.

Categories
Uncategorized

Rakom Cemara Eksis dengan Wirausaha

KOLAKA – Radio Cemara FM dipancarkan lewat gelombang 107,60 MHZ, dari pelosok Desa Tasahea, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kehadiran Rakom Cemara didasari pada kesadaran masyarakat setempat yang peduli terhadap kelestarian Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Masyarakat setempat membentuk Forum Masyarakat Tirawuta Peduli Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (Formastrip). Kemudian forum inilah yang mewadahi berdirinya Rakom Cemara yang digunakan untuk mengkampanyekan pelestarian alam dan lingkungan.

Modal awal dari Rakom Cemara berasal dari sumbangan pengelola, kemudian dibantu LSM Care dan Dinas Kehutanan (Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai). Dinas kehutanan bahkan menyediakan anggaran khusus untuk Rakom Cemara yang dievaluasi setiap akhir tahun. Jadi untuk kebutuhan dana operasional Radio serta kebutuhan kampanye off air Rakom Cemara sudah terpenuhi dari anggaran dari Dinas Kehutanan.

Namun Rakom Cemara bukan hanya sebagai radio kampanye lingkungan, ia juga radio yang menjaga kerukunan dan wadah untuk belajarnya anak-anak muda. Baik anak-anak muda yang putus sekolah maupun pelajar serta pegawai negeri yang ingin meningkatkan keterampilan komputer serta mengasah bakat lainnya.

Karena itu Pengelola Rakom Cemara berusaha meningkatkan kualitas siaran dan jangkauannya. Untuk menunjang langkah tersebut, pengelola Rakom Cemara melakukan berbagai upaya penghimpunan dana dengan mengajukan proposal kerjasama kepada instansi pemerintah dan swasta, termasuk melaksanakan acara-acara offair dan onair langsung dari tempat acara. Dari berbagai kerjasama tersebut Rakom Cemara mendapatkan kontribusi sumber daya untuk keberlanjutan Rakomnya.

Kendatipun ada kerjasama yang mendatangkan uang untuk keberlanjutan Rakom Cemara, namun Rakom Cemara tetap independen dan tidak lari dari tujuan berdirinya Rakom yaitu menjadi radio penyuluhan pelestarian lingkungan.  Jika ada yang merusak independensi dan tujuan Rakom itu, pengelola dengan tegas mengevaluasi kerjasama tersebut.

Selain pendapatan dana dari hasil kerjasama dengan pemerintah dan pihak swasta. Pengelola Rakom Cemara, malah lebih banyak mendapatkan dana dari unit usaha yang dibangun pengelola. Unit usaha tersebut berupa percetakan, sablon, kursus komputer, penjualan ATK dan penyewaan alat pesta.

Seluruh unit usaha tersebut berjalan baik dan digandrungi masyarakat setempat. Sehingga dengan unit usaha yang mereka lakukan dan akan terus dikembangkan tersebut, Pengelola yakin Rakom Cemara akan terus mengudara yang tidak saja menggapai kecamatan sekitar Tirawuta, bahkan kalau diizinkan regulasi mereka akan menjangkau seluruh Kabupaten Kolaka dan Sulawesi Tenggara. – Maifil Eka Putra, Sekolah Fundraising PIRAC

Categories
Uncategorized

Begini Seharusnya Rakom Mendekati Donatur

JAKARTA – Ada banyak cara untuk melakukan pendekatan terhadap donatur yang mau menyumbang untuk Radio Komunitas (Rakom). Beberapa cara teridentifikasi dalam FGD “Pengembangan Sumbangan dan Kedermawanan Masyarakat untuk Keberlanjutan Radio Komunitas” yang diselenggarakan oleh Sekolah Fundraising PIRAC di Hotel Mega Cikini tanggal 20 Desember 2012 lalu.

Pengalaman Radio Komunitas Mitra FM dalam mendekati donatur adalah melalui pendekatan emosional dengan menekankan pada budaya dan kedekatan kesukuan. “Radio Mitra FM mewadahi berbagai etnik seperti Minang, Jawa, dan Betawi, dan acara-acara yang kami kemas mepertimbangkan pendekatan budaya atas etnik tertentu,” ujar Winarno pengelola radio komunitas Mitra FM.

Di Rakom Mitra FM ada acara campur sari, wayang dan juga pengajian yang menjadi kegemaran komunitas. Ada simpul-simpul komunitas yang dibangun yang dapat menjadi wadah untuk membiayai acara komunitas yang disiarkan melalui Rakom hingga ada dana yang disisihkan untuk pembiayaan operasional radi.

Winarno menjelaskan, strategi pendekatan untuk donatur dari Minang, mereka akan mengutus kawan-kawan yang juga berasal dari suku Minang untuk melakukan pendekatan. Hingga akhirnya komunitas Minang ini tertarik dan mau mendanai kegiatan tersebut, karena melalui acara ini mereka bisa berjumpa dan berinteraksi dengan saudara-saudaranya sesama orang Minang yang difasilitasi oleh Rakom Mitra FM.

“Melalui simpul komunitas inilah pundi amal bisa digalang dan dikumpulkan per wilayah, dan ada review atas pencapaian penggalangan dana per wilayah. Maka akan diketahui dari wilayah mana saja penghimpunan dana itu lebih besar,” ungkap Winarno.

Mengembangkan sentuhan emosional memang menjadi salah satu strategi dalam pendekatan donatur, kata Iwan Zaki, Fundraiser Dompet Dhuafa. Ia menjelaskan, bahwa kedekatan emosianal dan hubungan personal penting untuk merawat donatur. “Memberikan ucapan ulang tahun ke donatur menjadi salah satu cara perawatan donatur,” kata Iwan memberikan trik. “Ketika donatur merasa dekat maka mereka tidak akan segan untuk menyumbang”.

Selain sentuhan personal dan hubungan emosional yang harus dipelihara, hal yang terpenting lagi adalah menyentuh hati donatur dan menjadikan program yang kita tawarkan ini merupakan kebutuhan donatur. Hal ini diungkapkan Linda salah satu peserta FGD dari WWF. Ia memaparkan bahwa untuk mengajak masyarakat menjadi donatur WWF bukanlah hal yang mudah, namun ketika WWF mampu meyakinkan masyarakat bahwa ini adalah kebutuhan masyarakat untuk menyelamatkan hutan, menyelamatkan kesetersediaan air maka masyarakat akan merasa bahwa program ini menyentuh kebutuhan mereka.

“Turut serta dalam program penyelamatan hutan berarti membantu masyarakat sendiri untuk terus memelihara ketersediaan air untuk keberlangsungan masyarakat sendiri. jadi menyentuh kebutuhan masyarakat menjadi salah satu strategi sentuhan personal itu sendiri,” tutur Linda. – Nor Hiqmah, Sekolah Fundraising PIRAC