Categories
Uncategorized

Peluang dan Tantangan IT untuk Fundraising Media Komunitas

JAKARTA – Pada FGD ke 3 Sekolah Fundraising Pirac yang diselenggarakan 29 November 2012 di Hotel Mega Proklamasi Jakarta yang mengangkat tema tema “Pengembangan Inovasi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Fundraising Media Komunitas”.

Dalam kegiatan ini, tereksplorasi begitu banyak peluang fundraising yang bisa dilakukan oleh Radio Komunitas (Rakom) dengan mengunakan sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Fasilitator FGD Hamid Abidin mengungkapkan, bahwa pengelolaan fundraising radio komunitas mengunakan TIK sebenarnya bukan hal yang baru. Banyak Radio Komunitas yang sudah menggalang dana melalui teknologi informasi salah satunya radionya itu sendiri.

Radio Cimbuak misalnya,  melalui radio inilah mereka bisa menyatukan masyarakat Minang untuk berkumpul, mereka kadang bertemu untuk silaturahmi dan menggalang dana untuk menghidupi radio Cibuak ini. Radio Mpass, Bandung juga pernah menggalang dana atau fundraising melalui radionya saat pengumpulan bantuan untuk bencana banjir dan tanah longsor.

“Radio sebagai sarana komunikasi merupakan media fundraising yang efektif,” papar Hamid Abidin.

Hamid menegaskan, juga bahwa radio bisa saja memperluas jangkauannya dengan mengunakan streeming, sehingga bisa dikenal tidak hanya ditingkat lokal komunitasnya tapi bahkan menginternasional. Melalui IT ini, kegiatan fundraisingpun bisa dimungkinkan meluas, tidak hanya ditingkat komunitasnya tapi juga diluar komunitasnya. Dana bantuan untuk operasional maupun program yang diusung oleh radio komunitas bisa datang dari mana saja.

Tantangannya adalah, ketika radio komunitas ini meluaskan jangkauan, maka ancaman untuk tercerabut dari komunitas menjadi menjadi semakin besar. Padahal lahirnya radio komunitas berawal dari dukungan dan rasa memiliki dari komunitas. Kehadiran komunitas menjadi roh dari radio komunitas ini. Jadi bila ingin melakukan fundraising, komunitaslah menjadi lini pertama untuk memberikan dukungan ke radio komunitas.- Nor Hiqmah, Sekolah Fundraising PIRAC

Categories
Uncategorized

Dewan Pers Jaring Masukan Kode Etik Filantropi Media Massa

JAKARTA- Penyusunan kode etik filantropi mediamassa memasuki tahapan penjaringan masukan dari masyarakat. Dewan pers telah mempublikasikan draft kode etik filantropi media massa ini di websitenya mulai jum’at (15/12) kemarin dan meminta masyarakat untuk memberikan tanggapan dan masukan.

Dewan pers juga akan menggelar lokakarya pada awal Februari nanti untuk mensosialisasikan draft kode etik ini ke berbagai media pengelola sumbangan masyarakat, asosiasi profesi media serta asosiasi perusahaan media. Tanggapan dan masukan dapat dikirim melalui alamat email (surat elektronik) ke sekretariat@dewanpers.or.id paling lambat 3 Januari 2013, pukul 12.00 WIB.

Penjaringan masukan publik ini merupakan tindak lanjut dari selesainya perumusan draft kode etik filantropi mediamassa oleh tim perumus yang dibentuk oleh Dewan Pers pada 17 Oktober lalu. Tim perumus yang terdiri dari perwakilan media cetak, televisi, radio dan siber/web dibantu PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dan PFI (Perhimpunan Filantropi Indonesia) sudah melakukan rapat rutin mingguan untuk merumuskan kode etik tersebut. Perumusan dilakukan dengan mengacu pada pengalaman mediamassa dalam dalam pengelolaan sumbangan masyarakat, berbagai praktik baik serta kasus-kasus yang terjadi di lapangan.

Perumusan juga mengacu pada berbagai aturan perundang-undangan dan kode etik yang berkaitan dengan mediamassa dan kegiatan pengelolaan sumbangan masyarakat. Setelah melalui serangkaian pertemuan rutin, tim perumus akhirnya berhasil menyelesaikan perumusan draft kode etik filantropi mediamassa pada 7 Desember 2012. Draft kode etik itu kemudian diserahkan kepada dewan pers jum’at lalu (15/12) untuk disosialisasikan ke masyarakat dan stakeholder terkait sebelum disahkan.

Perumusan kode etik filantropi mediamassa ini merupakan inisiatif program dari PFI dan PIRAC dengan dukungan Yayasan TIFA yang kemudian difasilitasi dan didukung oleh dewan pers dan beberapa mediamassa pengelola sumbangan. Inisiatif ini dianggap penting mengingat berkembangnya peran baru mediamassa dalam mengelola kegiatan kedermawanan masyarakat (filantropi), di luar peran utamanya sebagai penyampai informasi dan hiburan. Selain itu, dalam mengelola kegiatan filantropi ini belum ada pedoman atau aturan main yang bisa menjadi acuan bagi semua pengelola sumbangan masyarakat di mediamassa.

“Dalam menjalankan fungsi jurnalistik, mediamassa telah punya satu acuan bersama yaitu Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Sementara dalam menangani kedermawanan sosial masyarakat ini belum ada pedoman atau aturan main yang bisa menjadi acuan dan dihormati oleh semua pengelola sumbangan masyarakat di media,” kata A. Eddy Sutedja, pengelola Yayasan Dana kemanusiaan Kompas yang terlibat sebagai salah seorang tim perumus.

Kehadiran pedoman dalam bentuk Kode etik ini dinilai sudah cukup mendesak mengingat dalam praktek sehari-hari, sering ditemukan hal-hal yang bisa mengganggu kredibilitas pengelola sumbangan masyarakat di mediamassa.

Kode etik diharapkan nantinya bisa menjadi pedoman umum, rujukan, dan instrumen edukasi bagi pengelola sumbangan masyarakat di mediamassa dalam penggalangan/ penerimaan, pengelolaan, serta penyaluran sumbangan masyarakat. Selain itu, kode etik ini juga bisa berfungsi sebagai regulasi internal yang mengikat bagi praktisi media saat menjalankan kegiatan filantropi.

Info mengenai penjaringan masukan dari public dan draft kode etik mediamassa bisa diakses di web Dewan Pers.

Categories
Uncategorized

Apapun yang Terjadi Rakom Sukma akan Tetap Mengudara

ACEH BESAR – Pengelola Radio Komunitas Sukma, Tampok Blang, di Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar bertekad akan terus mengudara meskipun saat ini mengalami penurunan jumlah SDM dan finansial.

“Rakom Sukma akan terus berupaya mengudara dan ada untuk masyarakat Suka Makmur, ” ujar Junaidi, Pengelola sekaligus Pendiri Rakom Sukma kepada Tim SF PIRAC Ninik Annisa dan Yayan Yulidiharto saat berkunjung ke Rakom Sukma, pekan lalu. Sebagai penanggungjawab utama Badan Pelaksana Penyiaran Komunitas di Rakom Sukma Junaidi yang juga bertemu jodoh di Rakom ini, memastikan Rakom ini akan tetap hidup.

Rakom Sukma sendiri adalah kepanjangan dari kata Suka Makmur, yang berasal dari nama kecamatan di mana Rakom Sukma berada. Rakom Sukma mengawali keberadaannya di satu kampung terpencil bernama Tampok Blang, di Kecamatan Suka Makmur. Sama halnya dengan Rakom yang ada di Aceh lainnya, Rakom Sukma merupakan bentukan dari program khususnya ARRNet dari Combine pasca gempa dan tsunami Aceh.

Rakom Sukma secara formal dikelola oleh lebih dari 20 orang. Namun ketika ditanya lebih jauh, pengelola yang aktif di rakom tersebut hanya berkisar 4-5 orang. Terlepas dari keaktifan pengelola, Rakom Sukma telah sukses menghasilkan penyiar handal, dimana di antara para penyiarnya ada yang menjadi penyiar radio swasta lain di Aceh, dan juga di RRI Aceh. Ini merupakan contoh bahwa rakom sebagai media belajar dan pembelajaran bagi komunitas yang ingin terus eksis di jalur penyiaran.

Upaya-upaya keberlanjutan yang dilakukan Rakom Sukma, kata Junaidi, di antaranya sumbangan masyarakat meskipun dalam jumlah sedikit, kemitraan dengan instansi pemerintahan seperti kecamatan, kelurahan, Dinas BKKBN, Dinas Kesehatan, dll. Selain itu rakom juga memiliki usaha yaitu jual voucher pulsa.

Penjualan voucer pulsa ini merupakan kerjasama antara salah satu pengelola rakom dan rakom sendiri. Sebagian modalnya didapat rakom dari hibah program ARRNet yang menginginkan adanya keberlanjutan rakom pasca program tersebut selesai. Maka setiap rakom yang diinisiasi oleh program ARRNet mendapatkan dana keberlanjutan itu sebesar 2,5 juta.

Penjualan voucer sendiri cukup memberi kontribusi bagi rakom. Mengingat pilihan usaha yang tepat, dimana saat sekarang pulsa merupakan barang kebutuhan hampir setiap warga. Letak dari counter juga berada di sekretariat Rakom Sukma yang berdekatan dengan area pasar yang cukup ramai. – Ninik Annisa

Categories
Uncategorized

Berkembang & Berkelanjutan dengan Dukungan Tim Fundraising

LOMBOK – “Agar radio bisa terus mengudara dan program siarannya bermutu serta bervarisasi, minimal kita harus mendapatkan dukungan pendanaan Rp.2,5 juta per bulan.”

Target pendanaan ini disampaikan oleh Marjadi Spd, Direktur Radio Komunitas (Rakom) Gita Swara. Radio yang berlokasi di desa Jenggala, Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Timur ini memang berusaha keras untuk terus eksis dan menyapa komunitas yang menjadi pendengarnya. Karenanya, pengelola rakom yang berdiri November 2002 berusaha untuk mencari peluang pendanaan, memperluas jaringan dan menjalin kemitraan dengan banyak pihak.

“Program siaran yang bermutu dan bervariasi memang menuntut adanya dukungan pendanaan dari semua pihak.”

Untuk mengalang dukungan pendanaan dan kemitraan dari berbagai pihak, pengelola Rakom Gita Swara membentuk divisi dana dan ILM yang ditugaskan secara khusus untuk mencari dan menciptakan peluang-peluang pendanaan. Divisi yang berperan sebagai tim fundraising ini terdiri dari 2 orang dan bertugas mengidentifikasi pihak-pihak yang bisa diajak sebagai mitra atau donatur untuk mendukung keberlanjutan radio.

“Kami dibekali trik-trik khusus bagaimana melakukan pendekatan kepada calon mitra atau donatur. Misalnya, bagaimana mendekati tokoh atau pimpinan di instansi atau perusanaan tertentu agar mereka mau menerima tawaran kerja sama atau kemitraan dari kami,” kata Suhaerudin, ketua divisi dana dan ILM Rakom Gita Swara.

Meski divisi dana dan ILM secara khusus ditugaskan untuk menggalang dukungan pendanaan, mereka tidak bekerja sendiri. Direktur, manajer dan divisi yang lain juga ikut menopang kerja atau program-program yang mereka tawarkan. Misalnya, direktur dan manajer Gita Swara yang memiliki jaringan luas serta dikenal banyak pihak berperan sebagai “pembuka pintu” untuk melakukan fundraising. Merekalah yang memberikan rekomendasi pihak-pihak mana saja yang bisa didekati dan dikirimkan tawaran kerja sama. Mereka juga yang melakukan pembicaraan awal untuk menjajaki kerja sama tersebut.

Divisi dana dan ILM kemudian menindaklanjutinya dengan mengirimkan proposal penawaran dan melakukan presentasi jika diperlukan. Divisi program juga membantu merancang program-program yang berpotensi untuk ditawarkan dan menjadi minat perusahaan atau instansi yang didekati. Beberapa skema dukungan dan kemitraan yang ditawarkan adalah memasang ILM (Iklan Layanan masyarakat), talk show, pembelian airtime, ucapan selamat atau duka cita, liputan live, sampai support event yang diselenggarakan oleh Rakom Gita Swara.

Untuk meningkatkan dan menggairahkan kerja tim dana dan ILM ini, pengelola rakom juga memberikan insentif bagi setiap kerja sama atau dukungan pendanaan yang mereka dapat. “Kami memberikan insentif 10% sampai 20% dari total dana yang berhasil mereka dapat dari mitra atau donatur,” kata Baron Araruna, manajer Rakom Gita Swara. Insentif ini tidak hanya diberikan kepada personil dari divisi dana dan ILM, tapi juga kepada staf divisi lainnya yang punya inisiatif, ide tau program yang bisa ditawarkan kepada calon mitra atau donatur.

“Kami juga memberikan tunjangan kesehatan jika mereka sakit atau tunjangan kesejahteraan yang diberikan menjelang hari araya atau akhir tahun. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu cukup berarti bagi staf yang sebagian besar bekerja secara part time atau volunteer,” kata Baron.

Marjadi menambahkan, bahwa pembuatan tim fundraising ini sangat berdampak pada kegiatan penggalangan dana yang dilakukan rakom gita swara serta menjamin keberlangsungan oparasional radio dan program-program siaran dan non siara yang mereka jalankan. Dari segi kuantitas, misalnya, jumlah dukungan pendanaan yang didapat rakom ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kalau tahun-tahun sebelumnya mereka hanya bisa mendapatkan dana Rp.2 juta per tahun, dalam dua tahun terakhir mereka sudah bisa menjaring dana Rp.4 juta per tahun. Jumlah mitra dan donatur radio juga terus bertambah dan bervariasi karena divisi dana dan ILM secara intens mencari dan memperluas kemitraan dengan instansi dan perusahaan baru, serta melakukan perawatan kepada mitra yang sudah ada dengan menjaga komunikasi dan relasi dengan mereka. Bahkan, tahun ini mereka bisa menjalin kerja sama jangka panjang dengan beberapa instansi pemerintah dan perusahaan.

“Yang lebih penting, kami bisa bersiaran secara konsisten dan berkelanjutan, memiliki perangkat siaran yang memadai, serta merancang program-program siaran yang bervariasi dan bermutu bagi komunitas. Karena, ujung dari fundraising yang kita lakukan adalah untuk menjamin keberlanjutan siaran dan melayani komunitas dengan memberikan informasi dan hiburan,” kata Marjadi. (Hamid Abidin, Sekolah Fundraising PIRAC)

Categories
Uncategorized

“Sekali di Udara, Setahun di darat…”

LOMBOK – Judul di atas merupakan plesetan dari semboyan sebuah radio nasional yang sangat populer di kalangan pengelola rakom (radio komunitas) anggota JRK (Jaringan Radio Komunitas) NTB. Motto ini menjadi potret kondisi sebagian rakom di NTB sekaligus pelecut semangat mereka untuk terus berjuang keras agar tetap eksis dan mengudara.

“Kami malu kalau dibilang masuk dalam katagori rakom yang sekali di udara setahun di darat. Kami terus berusaha untuk sekali di udara, tetap di udara..,” kata Drs Rasidi, ketua JRK NTB.

Radio komunitas mulai berkembang di NTB pada tahun 2001 yang diawali oleh berdirinya sebuah radio di Kabupaten Lombok Barat. Meski berdiri secara illegal, radio ini dianggap memiliki peran yang baik dalam menyuarakan aspirasi komunitas setempat. Perkembangan rakom di NTB mencapai puncaknya pada tahun 2005 – 2006 dan mulai mengalami penurunan pada tahun 2007.

“Saat itu pengelola rakom mulai gelisah karena sulitnya mendapatkan ijin, sementara balmon (balai monitoring) aktif merazia. Akibatnya, radio yang muncul bagai jamur di musim hujan menjadi musnah akibat panas di musim kemarau” ujar Rasidi.

Rasidi menjelaskan bahwa sampai saat ini di NTB terdapat lebih dari 55 radio komunintas dan 40 diantaranya merupakan anggota JRK NTB. Rakom tersebut umumnya tersebar di kabupaten Lombok dengan rata-rata 4 – 6 radio di masing-masing kabupaten. “Hanya di Pulau Sumbawa yang jumlah radio komunitasnya masih minim, “ katanya.

Sementara dari keseluruhan radio komunitas anggota JRK NTB, yang masih aktif bersiaran hanya 24 radio. Sebagian besar rakom berhenti siaran karena faktor teknis, seperti  peralatan rusak akibat listrik yang sering padam atau disambar petir. Kendala teknis ini menjadi tantangan terbesar bagi radio komunitas di NTB. Salah satu karakter atau kekhasan dari rakom NTB adalah bahasa yang digunakan dalam bersiaran yang umumnya menggunakan bahasa Sasak dan musik atau lagu-lagu yang diputar di radio sebagian besar merupakan musik Sasak.

Jika dilihat dari inisiatif pendiriannya, sebagian besar rakom di NTB diinisiasi oleh para hobiis atau orang yang memang hobi atau senang bersiaran di radio. Tak banyak radio yang pendiriannya diinisiasi oleh komunitas. Ada juga radio yang didirikan karena adanya proyek pemerintah atau donor tertentu, atau didirikan hanya untuk coba-coba atau ikut-ikutan saja. Misal, radio yang didirikan hanya karena desa tetangga mendirikan dan mengelola radio.

“Radio yang dikelola hobiis umumnya lebih banyak bertahan karena didanai dan diupayakan untuk terus hidup oleh pendirinya yang memang hobi dan mencintai radio “ jelas Rasidi.

Rasidi menambahkan, keberlanjutan Rakom NTB dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama,  keaktifan dari komunitasnya itu sendiri yang merasa memiliki rakom dan berusaha agar rakom tetap hidup. Sumber pendanaan rakom ini sebagian besar berasal dari komunitas, meski bentuk dukungan tidak dalam bentuk uang  tunai dan pemberiannya tidak rutin.

Kedua, keaktifan dari pengurus rakom yang selalu berusaha untuk memperluas jaringan dan menggalang dukungan dan pendanaan bagi keberlajutan rakomnya. Sumber pendanaan utama rakom ini berasal dari pengurus rakom,  baik dari kantongnya sendiri maupun dari keaktifan mereka dalam mencari sumber pendanaan. Mereka juga  getol mencari peluang dan dukungan dengan menawarkan ILM atau talkshow, kerja sama dengan pemerintah, LSM maupun perusahaan swasta, manawarkan talkshow, bekerja sama dengan perusahaan, dan sebagainya.

Rakom yang masih eksis umumnya dikelola oleh pengurus yang aktif berjejaring dengan banyak pihak sehingga dia tahu peluang-peluang yang ada dan memanfaatkannya. Missal, mereka aktif berhubungan dengan pemda setempat, aktif di berbagai forum, melakukan liputan, dll.

“Kalau pengurusnya tidak aktif dan ogah-ogahan, meski komunitasnya menuntut tetap bersiaran, radio tak akan terus eksis..”

Rasidi menjelaskan bahwa sebagian besar rakom di NTB bertahan dan berkelanjutan dengan strategi fundraising On Air atau kegiatan fundraising yang dikaitkan dengan kegiatan siaran. Misal, membuat  dan menayangkan ILM, menayangkan talkshow, siaran langsung, atau menawarkan waktu jadwal siaran untuk program tertentu, seperti sandiwara radio, dll. Strategi ini banyak dipilih karena relevan dengan kapasitas yang dimiliki oleh pengelola radio dan tidak membutuhkan SDM yang besar.

“Belum banyak yang mencari dana untuk operasional siaran melalui Off air, seperti membuat event atau mengelola usaha yang memang membutuhkan SDM yang banyak dan kapasitas khusus,” jelasnya.

Sementara kendala yang dihadapi dalam melakukan fundraising adalah kemampuan meyakinkan donator atau mitra, baik pada saat ketemu ataupun setelah mendapatkan dana. Pada saat menjajaki dukungan atau kerja sama mereka sudah kesulitan untuk meyakinkan calon mitra atau donatur bahwa mereka bisa menyiarkan iklan atau programnya sesuai dengan jumlah atau frekuensi yang dijanjikan. Hal ini disebabkan Karena radionya sering tidak bisa beroperasi karena perangkat rusak, tersambar petir atau mati lampu. Sementara tantangan yang dihadapi pasca kerja sama adalah menyampaikan laporan atau pertanggungjawaban program atau keuangan. Selain itu, Mereka tidak bisa memelihara hubungan dan melaporkan manfaat atau dampak dari program.

“fakta  di lapangan menunjukkan bahwa program itu bermanfaat besar bagi masyarakat, tapi mereka sendiri tidak bisa menyajikan laporannya atau menyampaikan manfaat yang didapat dari program,” jelas Rasidi. Selain itu, sulitnya mendapatkan ijin siaran juga berpengaruh terhadap kegiatan  siaran dan fundraising. “Mereka takut dan ragu-ragu untuk bekerja sama dalam jangka panjang khawatir di tengah jalan radionya ditutup. Gimana dengan kelanjutan kerja samanya kalau rakomnya ditutup atau dirazia”. (Hamid Abidin/ Sekolah Fundraising PIRAC)