Categories
Uncategorized

Dukungan Fans Membuat Simponi Tetap Mengudara

RANOOHA – Malam itu Desa Ranooha Lestari, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara terlihat sepi, hanya bunyi jangkrik yang menghiasi malam. Tidak ada terlihat lampu penerangan jalan. Satu-satunya cahaya yang terlihat adalah temaram lampu dari rumah-rumah penduduk di pinggir jalan.

Sunyinya desa itu, tidak menyurutkan para fans Radio Komunitas (Rakom) Simponi untuk berkumpul di rumah Kasmari, 49 tahun. Kendatipun mereka datang dari rumah yang berjarak puluhan kilo meter dari studio, tapi mereka tetap melakoninya dengan semangat, karena pertemuan itulah yang menguatkan hubungan persaudaraan mereka yang sebelumnya sudah terjalin melalui udara lewat sapaan atensi.

Pertemuan tersebut adalah rutinitas bulanan fans Rakom tersebut, mereka berkumpul rutin setiap awal bulan, selain melepas kangen yang terjalin di udara, juga untuk ikut berkontribusi agar Rakom Simponi yang mereka cintai dapat lebih berkembang dengan baik di berbagai hal. Tidak jarang ide-ide dari fans menjadi inspirasi bagi pengelola Rakom untuk memperbaiki kinerja,  mengembangkan siaran dan termasuk menghimpun sumber daya untuk ketahanan hidup Rakom itu sendiri.

Seperti ide Suharsono, 40 th, seorang Tukang Kayu di Desa Ranooha Lestari yang merupakan fans setia dari Simponi, Ia hadir Selasa malam itu, (6/11/2012). Ia berharap agar Rakom Simponi memiliki jaringan yang kuat, sehingga Simponi tidak hanya hidup dari  dana yang dihimpun fans.

“Tidak semua fans sepakat untuk menggalang dana dengan iuran. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain yang mendatangkan uang yang dilakukan secara bersama,” jelasnya

Namun bagi Randy, 37 th, yang berporfesi sebagai petani, Ia hanya ingin Simponi jangan sampai vakum, untuk itu fans harus meningkatkan kesatuannya, sehingga apabila terjadi apa-apa terhadap Rakom Simponi dengan kekuatan komunitas fans maka Rakom Simponi akan tetap mengudara.

Sementara itu, Ahmad Yani, 44 th, pengusaha salon, yang sering di senggol-senggol melalui siaran Simponi, mengakui dalam 3 bulan ia berada di Ranooha Lestari yang sebelumnya ia jadi pegawai salon di Jakarta Timur, usahanya salonnya di Ranooha menjadi laris manis. Dalam pertemuan itu, pendapatnya lebih dikonsentrasikan pada masalah regulasi, sehingga ia mengusulkan agar perijinan Rakom Simponi segera di urus.

Herman Pranyoto, 54 th, seorang pengusaha furnitur juga mendukung apa yang disampaikan Ahmad Yani. Ia berharap pengelola Radio Simponi juga proaktif untuk mendekati pemerintah agar segera mengeluarkan izin untuk Rakom Simponi. Hal yang sama juga diminta Herman, agar pengelola juga berupaya mendekati asosiasi pengusaha di desa itu untuk memberikan dukungan finansial pada Rakom yang telah menjadi bagian hidup mereka di pedesaan itu.

Kenapa fans mendesak pengelola untuk segera mengurus izin? Menurut Hartono, 57 thn, karena pernah di tahun 2007 selama 6 bulan, Rakom Simponi dihentikan siarannya oleh pengawas dari pemerintah karena tidak memiliki izin. Selama 6 bulan tersebut, fans kesepian. “Kami sangat kehilangan waktu itu, sedihnya sama dengan kehilangan anggota keluarga,” tutur Hartono.

Karena itu pula, Fans Radio Simponi saat ini tidak mau kecolongan lagi, sehingga mereka semakin mengeratkan ‘pegangan tangan’ mereka, itu semua agar Simponi tetap mengudara selamanya di Ranooha. – Maifil/Sekolah Fundraising PIRAC.

Categories
Uncategorized

Frekuensi Diserobot, Rakom di Jakarta tak Berkembang

JAKARTA – Persoalan radio komunitas (Rakom) tidak hanya berkutat pada persoalan pendanaan, tapi juga regulasi yang tidak memihak pada radio komunitas.

Bila di daerah-daerah banyak persoalan pendanaan, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), seringnya bergantinya pengelola menjadi tantangan bagi pengembangan radio komunitas, sementara di Jakarta persoalan utamanya adalah tidak adanya perlindungan untuk Rakom yang berdiri di Jakarta.

Hal ini disampaikan Azas Tigor Nainggola, Pengelola Radio Komunitas Swara Warga Jakarta, dalam FGD Strategi Fundraising untuk Radio Komunitas yang diselenggarakan oleh Sekolah Fundraising PIRAC, JRKI yang didukung oleh Ford Foundation, Kamis 8 November 2012.

Tigor menjelaskan bahwa Rakom di Jakarta tidak berkembang seperti halnya di daerah lain, karena frekuensinya selalu diserobot dan digunakan radio swasta. Menurut ketentuan Kepmenhub No.15 Tahun 2002 dan No 15A Tahun 2003, Rakom beroperasi di frekuensi FM 107,7 Mhz; 107,8 Mhz; 107,9 Mhz dengan jangkauan yang terbatas yaitu, maksimal 2,5 km. Namun, frekuensi-frekuensi tersebut diserobot oleh Radio Suara Metro yang dikelola oleh Polda dan Suara Samudera yang dikelola TNI AL.

“Ironisnya, penggunaan frekuensi radio ini dijinkan dan dibiarkan oleh Kemenkominfo selaku regulator penyiaran,” tegas Tigor.

Sementara itu, Bimo Nungroho, Mantan Komisioner KPI mengungkapkan, gugatan untuk pengembalian frekuensi yang digunakan Suara Metro pernah dilakukan oleh KPI periode sebelumnya tapi tidak sampai tuntas karena Suara Metro mengantongi ijin dari Kemeninfo.

Idy Muzayyad dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membenarkan bahawa ada pelanggaran frekuensi. “Untuk frekuensi ini Menkoinfo tidak berani menggusur frekuensi yang sudah dipakai Suara Metro yang mestinya digunakan untuk Rakom. Ini faktanya” ungkap Idy Muzayyad.

Menurutnya, kewenangan untuk mencabut ijin Suara Metro bukan ada di KPI tapi di Kemeninfo, karena itulah Idy mengajak radio komunitas bersama KPI mendesak Kemeninfo untuk mencabut ijin Suara Metro dan mengenbalikan frekuensi tersebut sebagaimana mestinya untuk digunakan oleh radio komunitas.

Pada FGD ini muncul rekomendasi, perlunya advokasi oleh KPI dan Rakom melalui gugatan legal standing ke Kemekoninfo untuk mencabut ijin siar radio swasta yang mengunakan frekuensi radio komunitas.

Azas Tigor mengungkapkan, KPI bersama Rakom juga bisa melakukan somasi ke dua radio tersebut untuk mengeser atau pindah frekuensinya, karena ini sudah merupakan perbuatan melawan hukum (PMH) di mana mereka mengunakan frekuensi yang sudah diatur untuk radio komunitas. (NH)

Categories
Uncategorized

Penyiar Rakom Simponi : Rela Kerja Lelah Meski Tanpa Upah

RANOOHA – Mas Bangun menggoyangkan kepalanya dengan asyik, mengiringi lagu campur sari Karya Manthous, Caping Gunung, yang dihantarkannya dalam siaran bertajuk “Campur Sari Mengumandang”, Siang Selasa (6/11/2012), di Radio Komunitas (Rakom) Simponi di Desa Ranooha Lestari, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Di tengah keasyikannya mengiringi lagu tersebut disela oleh telpon yang berdering, fansnya menyapa dan menitip salam untuk pendengar yang lain. Mas Bangun menhantarkan lagu request pendengar dan salam dengan candaan yang hangat.

Ia menggunakan bahasa Jawa, karena sebagian besar pendengar radio di Ranooha Lestari ini adalah komunitas Jawa yang transmigrasi dari Pulau Jawa ke Sulawesi Tenggara di tahun 1980 an. Dengan celotehnya yang khas dan logat Jawa yang medok serta di sela tawa yang lepas membuat pendengarnya bertambah senang.

Setelah etnik Jawa, Pendengar Radio Simponi juga berasal dari etnik Bali, dan Bugis. Untuk sementara untuk kedua etnik ini belum terwakili dalam bentuk acara khusus berbahasa Bali dan Bugis, karena menurut Mas Bangun, belum ada penyiar yang berasal dari etnik ini. Pihak pengelola Rakom Simponi belum berani untuk merekrut penyiar berbahasa Bali dan Bugis, karena seluruh penyiar di Rakom Simponi berkerja dengan sukarela, tidak diberikan insentif.

Menurut Mas Bangun, para pengelola Rakom Simponi, berprinsip: “Rela Kerja Lelah dan Payah Meski Tanpa Upah”. Berkerja sebagai penyiar di Rakom Simponi lebih dilandasi hobi dan rasa ingin berbagi dengan sanak saudara. Rasa itu di-frame dengan sangat disiplin dan istiqamah. Sehingga dengan semangat dan tanggung jawab para penyiar tetap disiplin dengan jam siarnya. Karena itu pula pengelola yang rata-rata berasal dari etnik Jawa tersebut, belum berani mengajak etnik lain karena takut mengkecewakan mereka, itu semua karena sistem kerelawanan yang mereka bangun untuk radio ini.

“Namun demikian, kendati tidak ada penyiar berbahasa Bali dan Bugis, kepuasan etnik tersebut tetap diutamakan dengan memutarkan lagu-lagu berbahasa Bali dan Bugis lewat acara Gado-gado Simponi oleh Penyiar Windra dengan pengantar Bahasa Indonesia,” tutur Bangun kepada Tim Sekolah Fundraising PIRAC, Maifil dan Yayan yang berkunjung ke Rakom Simponi.

Mengawali hari sekitar Pukul 06.00, Mas Bangun, 49 tahun, sudah bangun pagi. Sembari ditemani secangkir kopi ia beranjak ke ruang siaran dari rumah belakang ke studio yang berada di lantai 2 gedung depan rumahnya. Ia pun mulai menghidupkan perangkat radio dan menyelingi acara dengan lagu-lagu gembira. Pagi itu ia membawa siaran bertajuk “Gudang” (Gula-gula Dangdut), di sela nyanyian dangdut yang berkumandang, Mas Bangun menyapa pendengar, “Ayo bangun…bangun… bangun, telat bangun rejeki akan dicocol Pitik, ahaaaa,” ujarnya dengan suara yang khas.

Agaknya karena itu pulalah, Mas Bangun yang bernama asli Kasmari, 49 tahun ini, digelari Mas Bangun, karena saban hari kerjaannya membangunkan fans radio yang dikelolanya. Mas Bangun terlihat sangat bersemangat menyiar, karena pengakuan lulusan sekolah pertanian ini menyiar adalah hobi terberatnya. Ia mengaku, dengan menyiar hidupnya tidak menjadi sepi dan dengan fans membuat ia menjadi bahagia.

Selain Mas Bangun ada Mba Yana, 26 tahun, ia adalah penyiar selanjutnya, setelah Mas Bangun. Yana adalah seorang ibu dari seorang anak, Ia menjadi penyiar di Simponi sejak ia masih Gadis, siaran yang dibawakannya juga bertajuk “Gadis” (Gado-gado Istimewa). Meski tidak mendapat insentif menjadi penyiar acara Gadis di Rakom Simponi, Yana mengaku banyak mendapat berkah, salahsatunya adalah jodoh. Salah satu fans fanatiknya telah membuat ia melepas masa gadisnya. Ia terpincut karena sering berbagi salam dan berlanjut ke pelaminan.

“Alhamdulillah, setelah nikah suami saya mengizinkan saya untuk tetap melanjutkan menjadi penyiar, berbeda dengan teman-temannya yang lain, kebanyakan setelah menikah meski dengan fansnya kemudian ia dilarang untuk siaran, mungkin untuk menjaga agar fans lain tidak kepincut pula. Beda dengan saya, kepercayaan suami membuat saya terus berkarya meski sebagai ibu rumah tangga. Bahkan saya sering siaran sambil membawa momongan ke ruang studio,” ungkapnya.

Sebelum Yana selesai bersiaran, Mbah Joger, 57 tahun sudah siap-siap untuk menggantikannya. Mbah Joger meski sudah berumur, tetap setia menjadi penyiar dari awal Rakom Simponi berdiri tahun 2000-an. Ia membawakan acara berjudul “Saraba” diambil dari minuman khas Sulawesi Tenggara seperti Skotang di Jawa. Bahkan Saraba itu tepat juga sebagai kependekan dari nama acara yang dibawakan Mbah Joger yaitu Sari Rasa Banyuwangi (Saraba). Memang Mbah Joger yang merupakan ex transmigrasi dari Banyuwangi, Jawa Timur ini, menghibur komunitas Suku Banyuwangi yang terjangkau oleh siaran radio tersebut. Bahasa dan lagu yang diputar sepanjang acara Mbah Joger ini tentunya berbahasa Banyuwangi dan Lagu Daerah Banyuwangi. Semua senang dengan suara ala kakek-kakek dengan logat Banyuwangi yang dibawakan Mbah Jogger.

Mba Tika, 24 tahun adalah penyiar selanjutnya yang mengisi acara Simponi. Ia membawakan acara berjudul “Musim” (Musik Simponi), acara ini membidik kalangan remaja di area pantauan Rakom Simponi. Ia mempersembahkan lagu-lagu POP yang lagi hits. Ia pun menerima telepon dan sms sebagai atensi pendengar remaja. Di sini remaja saling berkirim salam dan saling mempersembahkan lagu untuk sahabat dan kekasih. Tidak jarang acara yang dibawakan Mba Tika ini menyatukan dua insan yang berjarak untuk membentuk bahtera rumah tangga. Hal yang sama dirasakan Mba Tika dan Mba Yana sendiri yang mendapat berkah sebagai penyiar dan bertemu jodoh dengan fansnya sendiri.

Setelah lagu POP yang dibawakan Mba Tika, selanjutnya acara menjelang sore dibawakan oleh Bang Jay, 30 tahun. Bang Jay siaran setelah ia menyadap nira kelapa setiap harinya. Ia membawa acara “Simponi Bergoyang”, yang berisi lagu-lagu dangdut populer. Siaran ini benar-benar menjadi pelepas penat pendengar yang rehat dari beraktifitas, sembari ngopi sore. Fans Bang Jay sangat banyak, sehingga terkadang Bang Jay kewalahan untuk memenuhi request lagu yang dikirim melalui SMS dan telpon. Baru saja Bang Jay menutup telpon, telpon baru berdering lagi, akhirnya Bang Jay terkadang mengabaikannya untuk sementara memenuhi request dari fans terdahulu.

Selanjut selepas Magrib, acara diisi oleh Bang Aji, 29 th dan Bang Purwa, 29 th, mereka menghantarkan acara “Kios Musik Simponi” ( Kimus), berupa lagu-lagu kasidah, irama padang pasir dan pop daerah dari mana saja. Acara ini untuk memenuhi kepuasan seluruh etnik yang menjadi pendengar Rakom Simponi. Dari suku manapun boleh merequest lagu sesuai dengan etniknya dan tentunya kirim-kirim salam melalui acara ini untuk fans yang lain. Kelakar Bang Aji dan Bang Purwa menambah hangat suasana.

Di penghujung malam, Rakom Simponi ditemani Bang Windra, 32 th, lewat siaran “Kemas” (Kenangan Masa), yang dibawakannya, Bang Windra membawa fans Rakom Simponi ke peraduan. Suaranya yang serak basah, berceloteh di sela lagu kenangan yang mengingatkan pendengar pada masa-masa indah memaduh kasih atau kenangan manis yang tak terlupakan. Siaran ini juga membuat fans Rakom Simponi menghantarkan sahabat dan kekasih -yang jauh di mata tapi dekat di radio- untuk menyampaikan ucapan selamat tidur dan mendamaikan hati yang gelisah karena saling berjauhan.

Bang Windra hanya bertugas selain Senin Malam dan Kamis malam, karena di hari-hari tersebut siaran dipakai oleh Mbah Budiono, 60 th. Kakek ini mendampingi pendengar sampai pagi lewat acara “Wayang Semalam Suntuk”. Acara wayang merupakan siaran favorit etnik Jawa, bahkan pendengarnya terkadang tidak puas mendengarkan lewat pesawat radio di rumah. Mereka yang dekat dari studio bahkan berkumpul di Studio untuk bersama para sepuh lainnya mendengarkannya. Mendengarkan Wayang yang dibawakan oleh Mbah Budiono semakin nikmat dengan menyeruput kopi dan ubi singkong rebus yang terkadang mereka bawa sendiri dari rumah ke studio. Acara ini pun berakhir setelah azan subuh berkumandang, para pendengar yang kopi darat pun kembali ke rumah masing-masing untuk esok harinya memulai aktivitas seperti biasa. Begitu pula Rakom Simponi dipagi harinya pun mulai dibangunkan oleh Mas Bangun dan berlanjut seterusnya. – Maifil/Sekolah Fundraising PIRAC

Categories
Uncategorized

Rakom Simponi Membuat Mereka Satu Hati

RANOOHA – Radio Komunitas Simponi, terletak di Desa Ranooha Lestari, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan. Kawasan tersebut dapat ditempuh melalui jalur darat sekitar 3 jam dari Pusat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Karena lokasi ini berada di pelosok, jalan menuju desa tersebut kurang bersahabat.Aspal jalan sudah banyak yang rusak dan dipenuhi lobang, membuat setiap kendaraan menuju desa tersebut harus serba hati-hati, jika tidak mau terjebak dalam lobang di jalanan.

Syukur-syukur kalau melewatinya di musim panas, sehingga sedikit membantu kendaraan yang melewati badan jalan yang kering, meski harus sabar mengipas debu yang berterbangan dan memasuki celah jendela kendaraan.  Disarankan untuk memakai masker sepanjang perjalanan jika tidak menaiki mobil yang berpendingin dan tertutup rapat, karena debu yang berterbangan diterpa kendaraan yang melintas dapat mengganggu pernapasan. Debu-debu ini tentunya juga menyusup ke kamar-kamar rumah penduduk yang berada di pinggir jalan dan mengancam penghuninya diserang penyakit ISPA.

Tapi dapat dibayangkan ketika menempuh jalan tersebut di saat musim hujan, bisa jadi beberapa ruas jalan tidak bisa dilewati. Jika masih nekat, tentu harus bersiap untuk terjebak dalam lobang berlumpur atau setidaknya mandi di genangan air kotor karena tanah jalanan yang tadi kering dan berdebu di musim panas akan menjadi lumpur di musim hujan.

Tim Publik Interest Research dan Advocacy Center (PIRAC) Maifil (Peneliti) dan Yayan (Film Maker) mengunjungi Desa Ranooha untuk kebutuhan studi di Radio Komunitas Simponi, karena itu setelah sampai malam hari di Kota Kendari dari Jakarta, Senin (5/11/2012), esok harinya Pukul 8.30 WITA, Tim PIRAC menuju Desa Ranooha Lestari.

Untuk mencapai desa tersebut, Tim memilih menggunakan mobil carteran dan tidak menggunakan angkutan umum, kalau menggunakan angkutan umum dipastikan agak menyita waktu, karena akan menunggu mobil ini penuh dan kerap kali dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas yang seharusnya. Hal itu dikarenakan jumlah mobil angkutannya yang sedikit untuk menuju kawasan tersebut.

Sekitar Pukul 11.50 WITA Tim PIRAC pun sampai di Desa Rranooha Lestari yang asri, dihiasi pemandangan rumah-rumah penduduk yang berjejer di sepanjang jalan dengan arsitektur berbeda-beda, ini menandakan keberagaman penduduk di desa tersebut. Mereka  berasal dari berbagai etnik di Indonesia seperti etnik Jawa, Bali, Kolaki dan Bugis.

Tim PIRAC yang didampingi Tim Jaringan Radio Komunitas (JRK) Sulawesi Tenggara yang dipimpin Ibrahim yang akrab dipanggi Ibe ini  sampai di Simponi disambut oleh Pimpinan Radio Komunitas Simponi Kasmari, 49 tahun, yang dikenal di udara sebagai Mas Bangun.

Mas Bangun terlihat senang dengan kedatangan Tim PIRAC, senyuman yang tulus keluar dari bibirnya yang dihiasi kumis tebal di atasnya. Jabatan tangan yang erat mengalirkan kehangatan atas sambutan tersebut. Setelah menyalami satu per satu, Mas Bangun mengajak Tim ke dalam rumahnya di bagian belakang, untuk rehat.

Di gedung bagian belakang itulah Mas Bangun dan keluarga tinggal, sementara di rumah bagian depan terdiri dari dua gedung; kiri dan kanan. Di gedung bagian kiri bertingkat dua, di bagian atas digunakan untuk Studio Rakom Simponi dan di bagian bawahnya digunakan sebagai Studio Foto, unit usaha Rakom Simponi.

Sedangkan gedung di sebelah kanan juga bertingkat dua yang di atas terdiri dari beberapa kamar yang berfungsi sebagai guest house dan di bawahnya berupa Show Room Motor, Ruang Lab Cetak Foto dan Sablon yang semuanya bagian dari unit usaha Rakom Simponi.

Sebenarnya dari pagi sudah beberapa kali Mas Bangun mengkonfirmasi Tim PIRAC dan JRK Sultra, saking berharapnya segera bertemu. Ia yang sangat bersahabat ini benar-benar senang jika ada tamu yang mampir ke rumahnya dan memberikan apresiasi terhadap Rakom yang dikelolanya bersama teman-temannya.

Rakom Simponi yang dikelola Mas Bangun berada di kawasan berpenduduk 200 kk dengan latar belakang pendudduk dari etnik Jawa, Bali, Bugis, Kolaki, dan Sunda. Rata-rata penduduknya bertani dan memiliki sawah tadah hujan, kebun coklat, kelapa dan jeruk.

Etnik Jawa, Bali dan Sunda datang ke kawasan tersebut menurut cerita Mas Bangun, sekitar tahun 1980-an, mereka ikut program pemerintah melalui transmigrasi. Kini, Ranooha Lestari sudah menjadi kampung mereka karena daerah moyangnya di Jawa dan Bali sudah lama ditinggalkan. Di Ranooha mereka hidup dan melahirkan generasi baru tapi tetap saja mereka tidak bisa meninggalkan budayanya. Mereka tetap melestarikan dan mencitai budaya yang mereka bawa ke desa tersebut dan diwariskan secara turun temurun. Media budaya itu muncul melalui prosesi adat yang masih kuat melekat dengan mereka.

Selain prosesi adat yang mampu melepaskan kerinduan mereka pada kampung halaman, Radio Simponilah media lain yang menjadi andalan utama mereka. Maklum kehidupan mereka yang umumnya bertani, media radiolah yang paling efektif dan gampang di bawa ke mana-mana. Meskipun ada televisi tapi tidak mungkin TV diangkut ke kebun atau memanjat pohon nira. Begitu juga koran, mereka tidak punya kesempatan membaca koran, karena koran tidak memungkinkan dibaca sambil berkerja di kebun apatah lagi penjual koran memang jarang masuk ke desa mereka. Dengan radio mereka bisa distel di mana saja; sambil berjalan ke kebun, sambil memacul, sambil memanjat pohon kelapa, memetik kakao dan rehat makan setelah penat berkerja Siaran Simponi selalu menemani.

Apalagi Radio Simponi yang dikelola Mas Bangun, selalu menyiarkan informasi dan hiburan dengan menu yang memenuhi kepuasan pendengar yang berasal dari berbagai etnik dan agama tersebut. Rakom Simponi membagi waktu untuk siaran berbahasa Jawa dan menghadirkan lagu dari berbagai etnik seperti Bugis, Kolaki, Jawa, Sunda dan Bali tersebut. Sehingga setiap etnik dalam jangkauan Radio Simponi terpuaskan dan terhibur dengan lagu-lagu yang dihadirkan dengan bahasa mereka. Sehingga fans Simponi di Ranooha Lestari dan sekitarnya menjadi sangat mencintai Simponi dan mereka merasa memiliki.

Tidak heran dalam setiap menu siaran, telpon dari selular pendengar selalu berdering di studio untuk merequest lagu dan menitip salam kepada pendengar lain. Silaturrahmi yang terjalin di udara melalui Radio Simponi tidak saja mengakrabkan mereka di udara, akan tetapi juga mengakrabkan mereka sehari-hari meski berasal dari latar belakang etnik dan agama yang berbeda, mereka hidup damai dan menjadi saudara yang dikuatkan oleh siaran Simponi. – Maifil/Sekolah Fundraising PIRAC

Categories
Uncategorized

Semangat Gotong Royong Rakom Wiladeg Gunung Kidul

GUNUNG KIDUL – Menarik menyimak perjalanan Radio Komunitas Wiladeg (RKW), Karangmojo, Gunung Kidul. Bermula dari kebutuhan pada media, masyarakat Wiladeg menggalang dukungan warga serta menghimpun sumbangan masyarakat.

Akhirnya Radio Komunitas Wiladeg berdiri tahun 2002. Untuk pendirian ini, masing-masing warga mengumpulkan apa yang dimiliki; mulai dari besi, jasa tukang las, kawat, cat, uang, air minum, makanan. Termasuk juga sumbangan antena dan sebuah ruangan mungil sehingga RKW siap mengudara.

Hal tersebut diceritakan oleh Sukoco, Kepala Desa Wiladeg, Gunung Kidul kepada Tim Peneliti Sekolah Fundraising PIRAC, Ninik A & Yayan W yang berkunjung ke RKW tersebut, Kamis (1/11/2012).

“RKW ini milik warga Wiladeg, sehingga apa yang dilakukan merupakan dari, oleh, dan untuk warga Wiladeg,” jelas Sukoco yang juga Pendiri & Pengelola Rakom ini.

Dikatannya, untuk mempertahankan keberlanjutan RKW ini, para pengurusnya terus berupaya konsisten untuk selalu mengajak dan melibatkan warganya melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Radio. Hal tersebut menjadi ujud dari-oleh-untuk warga yang terimplementasikan dengan baik. RKW ini juga dijadikan media untuk transparansi desa kepada warga, seperti laparan pertanggungjawaban desa, kegiatan musrembangdes, diskusi atau pertemuan desa dengan warga, dll.

Sukoco sejak awal berpikir, menjalankan RKW sebagai bentuk pelayanan bagi warga Wiladeg, karena itu RKW menjadi penting akan keberadaan dan keberlanjutannya. Oleh karena itu seluruh biaya operasional yang dibutuhkan RKW didanai oleh APBDes, minimal Rp 2 juta per tahunnya.

Menariknya, untuk kelangsungan RKW ini Sukoco juga mengupayakan kemitraan berupa join program atau pelaksanaan program dari beberapa SKPD kabupaten seperti BKKBN, Kominfo, dll. Kemitraan yang terjalin itu mulai dari pembuatan iklan layanan masyarakat, menyiarkan sandiwara tematik, dan bantuan operasional.

“Sebagai contoh dari Kominfo, sudah 2 tahun ini memberikan dana yang bisa digunakan untuk operasional maupun kegiatan sekitar Rp 2 juta per tahunnya. Dan ini dapat diperpanjang kembali jika dari RKW mengajukannya kembali kepada dinas / SKPD tersebut,” ujar Sukoco.

Pendapatan lain, kata Sukoco, melalui jaringan radio komunitas (JRK) Yogyakarta, RKW juga dipercaya untuk menyiarkan sandiwara radio tentang keadilan gender oleh satu NGO. Dari kegiatan ini, RKW mendapatkan kompensasi pendanaan melalui penjualan air timenya.

Berkaitan dengan kemitraan dengan Kominfo, lanjut Sukoco, RKW juga telah melakukan uji kelayakan untuk pendirian usaha warung internet (warnet). RKW memiliki tempat yang telah siap baik tata ruang, listrik, dan kabel telponnya. Kominfo juga telah mengirimkan semua peralatan warnet seperti beberapa paket PC komputer, monitornya, dll. Hanya saja proses ini sedikit terhambat mengingat RKW belum menemukan orang yang bisa bersunggu-sungguh mau mengelola warnet tersebut.

Selain itu, RKW sangat aktif menawarkan kepada warganya maupun para kolega Dewan Pengurusnya untuk menyiarkan secara langsung kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan kompensasi membayar airtime yang ada dengan harga yang terjangkau. On-air kegiatan warga mulai dari hajatan ‘manten’, arisan warga, prosesi pemakaman warga, dll.

Saat berkunjungan ke RKW, Tim PIRAC bertemu dengan Media Komunitas Angkringan dan Rakom fakultas pertanian UGM yang berkunjung ke Radio Komunitas Wiladeg. Pengambilan dokumentasi dilakukan di ruang siar RKW, yang terletak di antara Kantor Pelayanan Desa dan Pendopo (balai pertemuan warga) Wiladeg. – Ninik Annisa