Categories
Uncategorized

Creating Winning Fundraising Training di Kupang

Sebagai wujud komitmen Oxfam untuk keberlanjutan program di lembaga mitranya, Oxfam menyelenggarakan kegiatan training fundraising untuk mitra Oxfam di NTT. Dalam penyelenggaraan pelatihan fundraising ini Oxfam meminta Sekolah fundraising PIRAC untuk menjadi fasilitator pelatihan. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan penggalangan dana/daya (fundraising) di kalangan organiasasi perempuan mitra Oxfam di NTT.

Categories
Uncategorized

Pirac Sukses Melatih Perempuan NTT dan NTB

DEPOK – Menyusul 2 trainer PIRAC Hamid Abidin dan Ninik Annisa yang melatih sekitar 30 perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (11/6/2012) lalu, selanjutnya Hamid Abidin bersama trainer PIRAC lainnya Nor Hiqmah memberikan pelatihan 27 perempuan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelatihan di NTT dan NTB bertajuk sama yakni “Crating Winning Fundraising For Women Empowerment.” Pelatihan di Kupang diselenggarakan di Hotel Greenia, 9 – 10 Juli 2012.

Menurut Manager Pelatihan PIRAC, Nor Hiqmah, pelatihan selama 2 hari ini diadakan oleh Oxfam Kupang bersama LSM Perempuan di NTT sebagai Mitra Oxfam di sana.

Training ini menjadi salah satu sarana bagi mitra Oxfam agar dapat menangkap peluang sumber pendanaan dan mobilisasi sumberdaya. Training ini mengantarkan organisasi Mitra Oxfam di NTT untuk memahami cara bekerja pengalangan sumberdaya secara kreatif dan inovatif.

“Baik training di NTB maupun di NTT berjalan sukses dan lancar. Peserta training sangat antusias dan mampu mempraktekkan apa yang telah diajarkan kepada peserta,” jelas Hiqmah.

Di sisi lain Hiqmah menyebutkan, hasil survei PIRAC, menunjukkan tingkat kedermawaan kaum perempuan cukup tinggi yakni 99,7%, dengan rata-rata sumbangan mencapai Rp. 843.436/orang/tahun. Tak hanya individu perempuan, dukungan untuk program perempuanpun datang dari perusahaan lewat CSR-nya, donor internasional maupun pemerintah.

“Tentunya survey tersebut membuktikan, program pemberdayaan perempuan saat ini mulai menjadi perhatian publik dan sektor swasta/perusahaan. Kegiatan fundraising untuk program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh organisasi perempuan, yayasan sosial atau OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) juga mendapatkan dukungan/sumbangan yang cukup siginifikan,” jelasnya.

Sejauh ini, tambahnya, belum banyak organisasi yang mampu memanfaatkan peluang fundraising untuk program perempuan ini, sehingga banyak organisasi merasa kurang mendapatkan dukungan dari publik. Sangat beruntunglah Mitra Oxfam di NTT yang mendapat pelatihan dari PIRAC, mendapat pengalaman dan keahlian dalam berfundraising. LSM mana berikutnya? – maifil

Categories
Uncategorized

Kebijakan Insentif Perpajakan Untuk Organisasi Nirlaba

Kebijakan Insentif Perpajakan untuk Organisasi Nirlaba – Pengalaman Mancanegara

Salah satu faktor pendorong berkembangnya sektor nirlaba di berbagai negara di dunia, adalah adanya insentif dalam sistem perpajakannya. Insentif itu diberikan dalam bentuk pengurangan (tax deductible) dan pengecualian pajak (tax exemption). Pemberian fasilitas tersebut dimaksudkan untuk mendorong para dermawan dari kalangan perorangan maupun perusahaan agar mau  mendukung lemba-lembaga karitas tersebut dengan menyisihkan dananya bagi kegiatan sosial kemanusiaan.

Selain itu kebijakan tersebut didasarkan ata pemikiran bahwa sektor ini telah berjasa meringankan pemerintah dari beban atau tanggung jawab yang harus ditanggungnya. Pemberian subsidi pajak kepada organisasi niraba dapat dilihat sebagai upaya untuk mendorong aktivitas yang membantu pemerintah dari kewajiban dan biaya-biaya yang harus ditanggungnya.

Kerts kerja ini memaparkan kebijakan umum mengenai insentif perpajakan yang diberikan kepada sektor nirlaba di beberapa negara. Penyusunan kertas kerja ini dilakukan berdasarkan studi pustaka mengenai kebijakan perpajakan di beberapa negara di benua Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika. Kertas kerja ini bisa menjadi referensi bagi perumusan kebijakan serupa di Indonesia yang sampai saat ini belum sempurna.

Categories
Uncategorized

Panduan Manajemen Kerelawanan

Hampir semua LSM sepakat bahwa relawan memegang posisi penting dalam pengembangan lembaga. Dengan melibatkan relawan maka lembaga akan memperoleh manfaat yang besar dan tentu saja untuk memperoleh manfaat tersebut maka diperlukan waktu dan tenaga ekstra untuk meningkatkan kapasitas dan keberlanjutan relawan.

Keputusan untuk menggunakan relawan seharusnya tidak hanya didasarkan pada masalah yang sedang dihadapai pada saat itu saja tetapi harus didasarkan pada tujuan jangka panjang lembaga termasuk upaya pencapaian visi dan misi organisasi, kita bisa memperluas basis penyumbang dan meningkatkan pendapatan organisasi.

Buku mengenai manajemen Kerelawanan ini dirancang seb agai buku panduan atau “how to” bagi aktivis organisasi sosial yang tengah mengelola relawan maupun berencana untuk membuat program kerelawanan. Buku ini berisi berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam mengelola program kerelawanan, termasuk panduan dan tips praktis pengelolaan relawan dan dilengkapi dengan studi kasus pengelolaan relawan di dalam maupun di luar negeri.